10/10/18

[The End]: Keliru Hati


Beberapa bulan yang lalu, di sebuah kafe, tentu saja bukan Kafe The People, ketika aku tengah asyik dengan diriku sendiri, membelanjakan waktuku di dalam kafe ini bertemankan buku, earphone dan tentu saja kopi, aku tak percaya bahwa kehadiranku yang rutin ke kafe ini mengantarkan aku pada hari-hari yang membahagiakan.

Mbak Kinanti, bukan?” aku menoleh melihat siapa yang mengajakku berbicara sembari kulepas earphone di telingaku.

“Iya, ada apa, ya?”

Tanpa dipersilahkan, ia langsung duduk di hadapanku. Kuperhatikan dia, sepertinya ia lebih tua dariku. “Manggilnya Kinan saja.” Kataku. Ia tersenyum dan mengangguk.

Entah mengapa rasanya kami seperti sudah kenal bertahun-tahun, begitu banyak obrolan hari itu. Aku memang sering melihatnya di kafe itu. Tidak sering juga, sih. Mungkin akhir-akhir ini saja.

Namanya Kemal. Ada perasaan senang bukan main ketika ia mengaku sudah membaca beberapa buku karyaku. Bahkan ia selalu menanti tiap tulisan yang kuposting di website pribadiku. Ia tak menyangka bahwa akhirnya aku menulis about my daily di dalam website pribadiku. Katanya, aku biasanya hanya menulis baris-baris sajak, cerita pendek dan prosa, dan hal-hal lain yang berbau sastra. Maka dari itu ia tahu kalau aku sering nongkrong di tempat ini karena aku akhir-akhir ini sering menuliskan daily dan sempat membahas kafe ini di dalam postingan daily.

“Pada awalnya saya hanya berniat untuk memperhatikan kamu dari tempat duduk di pojok sana.” Katanya dengan senyum lebar tetapi ada rasa malu-malu di wajahnya.

“Iya, iya, saya tahu. Saya sering lihat kamu duduk di situ.” Ia tertawa mendengar kejujuranku.

“Tetapi, kamu pasti tidak tahu apa saja yang saya lakukan di pojokan sana.” Katanya masih dengan tersenyum. Aku hanya memasang wajah penasaran. “Saya mencoba membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana. Kamu harus terima karya saya ini, tidak mudah membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana.” Ia kembali tertawa, diiringi tawaku juga.

Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang kuduga itu adalah sketsa wajahku. Tetapi, mataku malah mendapati sebuang bingkisan cantik berwarna merah muda yang dihiasi sebuah pita di pinggirnya.

“Selamat ulangtahun, Kinanti. Menulislah tentang hal-hal yang baik, maka kamu selamanya akan menjadi penulis kesukaan saya.” Ia tersenyum lebar, sementara mataku berbinar menerima kejutan kecil dari seseorang yang baru saja aku kenal sekitar satu jam yang lalu. “Saya tidak akan bertanya mengapa di hari ulangtahunmu ini kamu memilih untuk duduk sendirian di sini, karena bagi saya, kamu selalu memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam memandang hidupmu. Sama seperti hal-hal yang kamu tuliskan, hal-hal yang tak terjamah oleh pikiran saya.”

Tentang buku yang menuliskan bagaimana kita tidak menghakimi bila ada seseorang yang jatuh hati padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya, sebab mungkin saja ia jatuh hati karena tulisannya atau mungkin juga karena suaranya dan bagaimana tentang cinta itu sendiri? Bukankah cinta yang seperti itu lebih tulus daripada cinta yang biasanya? Mereka tak jatuh hati karena apa yang dilihat oleh kedua matanya, tetapi mereka jatuh hati oleh apa yang dirasakan hatinya, semua itu adalah kalimat-kalimat yang dilontarkan Kemal di awal perjumpaan kami. Kalimat-kalimat yang menciptakan pertemuan-pertemuan kami yang berikutnya, pertemuan-pertemuan yang diisi oleh hari-hari bahagia.

Aku percaya, di belahan dunia lainnya ada orang-orang yang sama sepertiku, sama-sama mempercayai bahwa ketulusan cinta tak selalu datang dari apa yang dilihat kedua mata, karena ketulusan hadir untuk dirasakan oleh hati tanpa mata perlu melihatnya.

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Hai, Kak.

      Terima kasih sudah membaca kisahnya Kinanti. :)

      Hapus
    2. Aku belum dapat undanganmu.

      Sama-sama. Hehe.

      Hapus
    3. Halo Kak, sebenarnya kisah Kinanti ini sudah dibuat sekitar hampir 2 tahun yang lalu. Mungkin sekarang Kinanti sedang menikmati perannya sebagai seorang istri :D

      Hapus
    4. berarti dia sudah menikmati menjadi ibu

      Hapus