Beberapa bulan
yang lalu, di sebuah kafe, tentu saja bukan Kafe The People, ketika aku tengah asyik dengan diriku sendiri,
membelanjakan waktuku di dalam kafe ini bertemankan buku, earphone dan tentu saja kopi, aku tak percaya bahwa kehadiranku
yang rutin ke kafe ini mengantarkan aku pada hari-hari yang membahagiakan.
“Mbak Kinanti, bukan?” aku menoleh
melihat siapa yang mengajakku berbicara sembari kulepas earphone di telingaku.
“Iya, ada apa,
ya?”
Tanpa
dipersilahkan, ia langsung duduk di hadapanku. Kuperhatikan dia, sepertinya ia
lebih tua dariku. “Manggilnya Kinan saja.” Kataku. Ia tersenyum dan mengangguk.
Entah mengapa
rasanya kami seperti sudah kenal bertahun-tahun, begitu banyak obrolan hari
itu. Aku memang sering melihatnya di kafe itu. Tidak sering juga, sih. Mungkin
akhir-akhir ini saja.
Namanya Kemal.
Ada perasaan senang bukan main ketika ia mengaku sudah membaca beberapa buku
karyaku. Bahkan ia selalu menanti tiap tulisan yang kuposting di website
pribadiku. Ia tak menyangka bahwa akhirnya aku menulis about my daily di dalam website pribadiku. Katanya, aku biasanya
hanya menulis baris-baris sajak, cerita pendek dan prosa, dan hal-hal lain yang
berbau sastra. Maka dari itu ia tahu kalau aku sering nongkrong di tempat ini
karena aku akhir-akhir ini sering menuliskan daily dan sempat membahas kafe ini di dalam postingan daily.
“Pada awalnya
saya hanya berniat untuk memperhatikan kamu dari tempat duduk di pojok sana.”
Katanya dengan senyum lebar tetapi ada rasa malu-malu di wajahnya.
“Iya, iya, saya
tahu. Saya sering lihat kamu duduk di situ.” Ia tertawa mendengar kejujuranku.
“Tetapi, kamu
pasti tidak tahu apa saja yang saya lakukan di pojokan sana.” Katanya masih
dengan tersenyum. Aku hanya memasang wajah penasaran. “Saya mencoba membuat
sketsa wajah kamu dari pojokan sana. Kamu harus terima karya saya ini, tidak
mudah membuat sketsa wajah kamu dari pojokan sana.” Ia kembali tertawa,
diiringi tawaku juga.
Ia mengambil
sesuatu dari dalam tasnya yang kuduga itu adalah sketsa wajahku. Tetapi, mataku
malah mendapati sebuang bingkisan cantik berwarna merah muda yang dihiasi
sebuah pita di pinggirnya.
“Selamat
ulangtahun, Kinanti. Menulislah tentang hal-hal yang baik, maka kamu selamanya
akan menjadi penulis kesukaan saya.” Ia tersenyum lebar, sementara mataku
berbinar menerima kejutan kecil dari seseorang yang baru saja aku kenal sekitar
satu jam yang lalu. “Saya tidak akan bertanya mengapa di hari ulangtahunmu ini
kamu memilih untuk duduk sendirian di sini, karena bagi saya, kamu selalu
memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam memandang hidupmu. Sama
seperti hal-hal yang kamu tuliskan, hal-hal yang tak terjamah oleh pikiran
saya.”
Tentang buku
yang menuliskan bagaimana kita tidak menghakimi bila ada seseorang yang jatuh
hati padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya, sebab mungkin saja ia
jatuh hati karena tulisannya atau mungkin juga karena suaranya dan bagaimana
tentang cinta itu sendiri? Bukankah cinta yang seperti itu lebih tulus daripada
cinta yang biasanya? Mereka tak jatuh hati karena apa yang dilihat oleh kedua
matanya, tetapi mereka jatuh hati oleh apa yang dirasakan hatinya, semua itu
adalah kalimat-kalimat yang dilontarkan Kemal di awal perjumpaan kami.
Kalimat-kalimat yang menciptakan pertemuan-pertemuan kami yang berikutnya,
pertemuan-pertemuan yang diisi oleh hari-hari bahagia.
Aku percaya, di
belahan dunia lainnya ada orang-orang yang sama sepertiku, sama-sama
mempercayai bahwa ketulusan cinta tak selalu datang dari apa yang dilihat kedua
mata, karena ketulusan hadir untuk dirasakan oleh hati tanpa mata perlu
melihatnya.
Hai, Kinanti.
BalasHapusHai, Kak.
HapusTerima kasih sudah membaca kisahnya Kinanti. :)
Aku belum dapat undanganmu.
HapusSama-sama. Hehe.
Halo Kak, sebenarnya kisah Kinanti ini sudah dibuat sekitar hampir 2 tahun yang lalu. Mungkin sekarang Kinanti sedang menikmati perannya sebagai seorang istri :D
Hapusberarti dia sudah menikmati menjadi ibu
Hapus