Dengan melihat karakter dan warna jiwa dalam diri saya, banyak orang yang memperkirakan bahwa kelak saya akan menikah melalui perjodohan atau jalur taaruf. Saya tidak menampik, tetapi tidak juga lantas mengiyakan atau mengatakan mungkin. Melalui kisah yang saya alami sendiri, bahwasannya jodoh adalah sebaik-baik rahasia milik-Nya. Jalur bertemu jodoh sangatlah luas, datang dari jalan yang tidak disangka-sangka, hati yang terbolak-balik atas izin-Nya.
Dalam pengharapan dan doa, saya seringkali memohon pada Allah bahwa seseorang ini haruslah seseorang yang telah saya kenal sebagai seorang teman atau sebatas saling tahu. Sebagai seorang perempuan, ada banyak ketakutan diri sebelum pernikahan terjadi. Takut pasangan gimana-gimana, termasuk khawatir nantinya tidak diterima seutuhnya.
Namun, saya berpikiran bahwa jika seseorang ini adalah teman saya, insyaaAllah ia telah menerima saya secara luaran. Maksud saya, saya yakin ia telah menerima saya berupa penampilan, cara bergaul, cara berbicara dan hal-hal lain yang saya miliki sehingga saya tak perlu berubah terlalu banyak untuknya atau diatur-atur sedemikian rupa sehingga saya kesulitan menjadi diri saya sendiri. Begitu pula saya terhadapnya, saya telah menerima kehadirannya secara utuh. Dan kami akan terus belajar untuk saling mengerti satu sama lain, saling berupaya memperbaiki diri, saling berlomba dalam meraih ridho Illahi.
Jalan takdir yang telah Allah rencanakan ternyata berkisah bahwa saya menikah dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah kakak tingkat di jurusan kampus, seseorang yang dulu sempat menjadi tempat bagi saya dalam bertanya banyak hal. Ia selalu punya jawaban atas setiap pertanyaan yang saya ajukan, bahkan rupanya ia jugalah yang Allah takdirkan menjadi jawaban atas doa dan pengharapan saya.
Sewaktu dulu, saya bahkan juga pernah membatin dengan sedikit sedih bahwa jika suatu hari nanti tiba waktunya saya untuk menikah maka saya sudah tidak boleh lagi berdiskusi dengannya, tidak boleh lagi bertanya hal apapun padanya, sebab nanti saya sudah punya seseorang, tempat dimana seharusnya saya bertanya soal apapun.
Selama masa-masa sekolah, saya juga paling anti terhadap kagum, mengidolakan, atau menyukai kakak-kakak kelas seperti halnya dilakukan banyak oleh teman-teman saya. Belum lagi, saya terbilang sebagai mahasiswi kupu-kupu a.k.a kuliah-pulang-kuliah-pulang sehingga relasi saya dengan orang-orang kampus terbilang sangat sedikit. Selebihnya saya memang sengaja memilih berkomunitas di luar kampus.
Nobody knows. Tiada satu orangpun yang mengira bahwa saya akan menikah dengannya, seorang laki-laki yang nyaris tidak pernah membicarakan seorang perempuan. Seorang laki-laki yang bahkan tidak masuk dalam urutan prediksi akan segera menikah dalam lingkaran pertemanannya. Seorang laki-laki yang justru saya lebih dulu mengenal sahabat-sahabatnya. Seorang laki-laki yang tidak pernah saya sangka ini, selama satu bulan ini telah mengukir banyak memori di hati saya, mengajak saya pada petualangan-petualangan tidak terduga; turun di pinggir jalan tol daerah Banten, nyasar di daerah Magelang saat turun hujan deras, motoran tiga jam sampai ke Wonogiri, mengambil potret saya dengan rusa-rusa di waduk Gajah Mungkur, dan masih banyak hal lainnya yang akan kami ukir bersama-sama hingga tua nanti.
Jika ada yang bertanya, apa yang membuatmu yakin menikah dengannya? Untuk sementara ini, saya pikir jawabannya memang hanya karena satu hal; ridho orang tua.
Saya sangat meyakini orang tua saya adalah orang tua yang akan memberikan restu terbaiknya pada seseorang yang mereka pikir layak untuk menikahi saya, tidak pada sembarangan orang. Begitu restu itu hadir, seolah semua halnya diperlancar oleh-Nya. Juga, bagi pembaca Ephemeral, pendukung jawaban ini berada di halaman 73 jika ingin memastikannya.
Terima kasih banyak ya, Kak Satriya. Terima kasih telah lahir ke bumi dan mencintaiku. Uhuk. Semoga kamu tidak membacanya, aku malu. Kalaupun iya, pura-pura saja tidak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar