25/03/22

#3 Beda Pemikiran


Malam itu saya bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan yang datang ke pernikahan saya.

“Nin, pasti di luar sana banyak laki-laki yang sedang bersiap menuju kamu, sedang mempersiapkan diri untuk melamarmu. Lalu, mereka terkejut karena tiba-tiba kamu menikah. Mereka gagal hanya karena mereka kurang sat-set-sat-set.”

Ia juga banyak mendengar obrolan para laki-laki yang hadir di pernikahan saya waktu itu.

“Nggak dapat kakaknya, adiknya juga boleh.” Mereka bercanda dan tertawa di sela-sela alunan yang mengalir memenuhi ruang pernikahan.

Saya tiba-tiba teringat apa yang Kak Satriya katakan pada saya tempo hari, “Lebih baik sudah mencoba meskipun jika pada akhirnya harus gagal. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak mencobanya. Kalau saja saat itu aku tidak berani, mungkin kita tidak akan pernah berada di tahap sejauh ini.”

Saya juga membuka topik obrolan ini dengan Kak Satriya yang kini telah sah menjadi suami saya. 

“Kak, mungkin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaiku, tapi mereka tidak kunjung datang. Kalau kata temanku, kebanyakan dari laki-laki tersebut merasa nggak pantas bersamaku, mereka takut nggak bisa mengimbangiku. Jadi, kebanyakan dari mereka hanya ingin sekedar mengekspresikan perasaannya tanpa berharap terlalu jauh. Lalu kamu, setelah kuceritakan banyak hal tentangku padamu yang sebenarnya aku hendak membuat nyalimu ciut dan barangkali memutuskan mundur karena aku tidak membutuhkan laki-laki yang minder, tapi kenapa kamu tidak demikian seperti laki-laki yang lain?” tanya saya padanya, waktu itu di tengah sarapan soto kudus sebelum pemotretan buku tahunan sekolah.

#2 Dijodohkan atau Taaruf?

Dengan melihat karakter dan warna jiwa dalam diri saya, banyak orang yang memperkirakan bahwa kelak saya akan menikah melalui perjodohan atau jalur taaruf. Saya tidak menampik, tetapi tidak juga lantas mengiyakan atau mengatakan mungkin. Melalui kisah yang saya alami sendiri, bahwasannya jodoh adalah sebaik-baik rahasia milik-Nya. Jalur bertemu jodoh sangatlah luas, datang dari jalan yang tidak disangka-sangka, hati yang terbolak-balik atas izin-Nya.

Dalam pengharapan dan doa, saya seringkali memohon pada Allah bahwa seseorang ini haruslah seseorang yang telah saya kenal sebagai seorang teman atau sebatas saling tahu. Sebagai seorang perempuan, ada banyak ketakutan diri sebelum pernikahan terjadi. Takut pasangan gimana-gimana, termasuk khawatir nantinya tidak diterima seutuhnya.

Namun, saya berpikiran bahwa jika seseorang ini adalah teman saya, insyaaAllah ia telah menerima saya secara luaran. Maksud saya, saya yakin ia telah menerima saya berupa penampilan, cara bergaul, cara berbicara dan hal-hal lain yang saya miliki sehingga saya tak perlu berubah terlalu banyak untuknya atau diatur-atur sedemikian rupa sehingga saya kesulitan menjadi diri saya sendiri. Begitu pula saya terhadapnya, saya telah menerima kehadirannya secara utuh. Dan kami akan terus belajar untuk saling mengerti satu sama lain, saling berupaya memperbaiki diri, saling berlomba dalam meraih ridho Illahi.

Jalan takdir yang telah Allah rencanakan ternyata berkisah bahwa saya menikah dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah kakak tingkat di jurusan kampus, seseorang yang dulu sempat menjadi tempat bagi saya dalam bertanya banyak hal. Ia selalu punya jawaban atas setiap pertanyaan yang saya ajukan, bahkan rupanya ia jugalah yang Allah takdirkan menjadi jawaban atas doa dan pengharapan saya.

#1 Tasyakur Binni’mah


Bismillahirrohmanirrohim. Tiada pernah bermaksud meninggalkan ruang kecil ini. Ruang tempat dimana saya menghabiskan hari-hari saya untuk mengembangkan produktivitas, jam terbang, juga ruang dimana saya mencurahkan banyak hal di dalamnya bersama para pembaca yang mungkin tiada pernah saya mengenalnya. 

Setahun ke belakang, saya melewati banyak hal yang tidak biasa dalam hidup saya, mengguncang batin saya sekaligus membuat saya teramat bersyukur karena Allah beri kemampuan bagi saya untuk memetik hikmah yang amat dalam ini. Perjalanan hidup yang mempertemukan saya dengan berbagai rasa, salah satunya hingga membuat batin saya terluka dan bertanya-tanya pada Allah, “Mengapa seperti ini?”

Namun, di lubuk hati terdalam saya selalu menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup seorang manusia, ada rahasia dari-Nya yang belum sampai pada kita. Kala itu, saya berpikir bahwa jawaban pertanyaan dari batin saya mungkin akan begitu lama saya temukan, mungkin akan begitu panjang jalan yang harus saya tempuh. Saya menerima yang terjadi, tidak memaksakan keinginan, walau untuk pertama kalinya dalam hidup saya terluka sebegitunya.

Kini saya datang kembali berkunjung ke ruang ini dengan maksud untuk tasyakur binni’mah. Saya hendak kembali menuliskan perjalanan hidup saya sebagai upaya saya dalam mensyukuri nikmat dari Allah yang semoga ada satu-dua hal yang bisa diambil menjadi pelajaran maupun hikmah. Entah apa maksud Allah telah memberikan takdir seindah ini untuk hidup saya, tetapi perjalanan hidup saya menjadi sebuah perjalanan yang layak dituliskan, diabadikan, menurut sudut pandang saya. Mungkin seluruhnya tak bisa saya abadikan di ruang ini, sebab hanya kilasan-kilasan perjalanan saja yang hendak coba saya tuliskan.

Tulisan-tulisan yang kelak hadir juga sebagai upaya perwujudan cinta saya terhadap laki-laki yang telah berani-beraninya meminang seorang perempuan seperti saya yang keras kepala untuk tidak jatuh cinta sebelum waktunya, perempuan yang berdoa pada Allah bahwa apabila kelak suatu saat saya harus jatuh cinta maka tolong jatuhkanlah perasaan saya ini pada seseorang yang memang akan membersamai saya pada sepanjang hidup saya. Sebab, saya seorang perempuan yang tidak ingin perasaan saya menjadi kesia-siaan, tidak bertemu ujung titik yang pasti, atau harus selalu menebak-nebak apa yang akan terjadi.

24/01/22

Catatan Perayaan ke-25

Hidup dengan penuh kesadaran. Bersyukur dan menikmati setiap ibadah, rutinitas, makanan, pertemuan-pertemuan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahu bahwa hidup di bumi tidak akan selamanya. Tahu tapi tidak sekedar tahu, sehingga lelah tidak sekedar lelah, sebab niat tidak sekedar niat.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tidak membiarkan hari berlalu dengan kesia-siaan. Berusaha membuat to do list untuk dilakukan. Juga, tujuan-tujuan kehidupan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Belajar berkenalan dengan diri sendiri, tahu apa yang dibutuhkan, berusaha meredam ego dari segala yang diinginkan—sebab sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki. Selalu kembali pada perenungan tentang mati. Tahu bahwa usia diri sudah sepertiga dari rata-rata usia manusia yg hidup di bumi. Tidak.. tidak. Hampir setengahnya mungkin.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahun ini banyak pelajaran, juga air mata yang bertumpahan, perjuangan demi perjuangan, pertanyaan demi pertanyaan, bahkan ada satu hari dimana kebahagiaan terjadi bersamaan dengan pemakaman yang tercinta. Juga, tentang selamanya kehilangan dan tinggal kenangan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Bukan kehidupan kalau hanya ada kebahagiaan. Bahkan dalam kebahagiaan pun ada ujian; kita diuji apakah kita tetap mampu bersyukur atau tidak, entah dengan luka maupun kebahagiaan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Tahun ini banyak sekali hal yang 'baru bisa pertama kali' dalam hidup untuk kulakukan; berkuda, renang, naik kereta 12 jam, melihat Blue Fire dari dekat, bertemu monyet-monyet Baluran, sepedaan menyusuri sawah Bantul sampai ke pantai, belajar bersama anak-anak di sekolah dasar. Juga, mencerna ilmu-ilmu yang bertebaran di lingkungan, acara-acara, obrolan dalam pertemuan, juga momen-momen di luar dugaan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Mempertimbangkan pilihan, mengambil keputusan, mengetahui apa yang dipertanggungjawabkan.

Hidup dengan penuh kesadaran. Semoga Allah senantiasa menjadi tujuan.

 

With Love,

 

Nina

 

Bdg, 24 Januari 2022

Kontemplasi setahun ke belakang


 


10/07/21

Dua Kali Dinyatakan Positif Covid-19, Faktanya Justru Sebaliknya!

 

Source: freepik.com

Saya tidak menyangka bahwa pada akhirnya laman blog saya sampai pada chapter ini. Sebuah chapter yang siapapun tak inginkan di dalam hidupnya. Pernyataan positif covid yang pertama kali saya terima, membuat saya terduduk diam cukup lama. Bingung. Namun, pernyataan positif covid yang kedua kalinya saya terima, benar-benar saya terima dengan hati legowo. Mungkin karena pada momen itu, saya memang benar-benar ingin istirahat saja. Dua kali saya dinyatakan positif covid, inilah kisah keluarga saya sebagai penyintas covid-19.

 

Melakukan Perjalanan Panjang

Cerita ini akan saya mulai dari sebuah kekacauan yang terjadi di rumah. Usai saya merasa kehilangan diri sendiri, ibu saya akhirnya merestui saya untuk melakukan perjalanan panjang ke selatan pulau Jawa, Banyuwangi, guna menenangkan diri untuk bisa kembali berpikir jernih. Banyuwangi adalah sebuah kota yang sudah lama masuk waiting list saya bahkan jauh sebelum pandemi. Dulu rencananya perjalanan tersebut akan saya lakukan selesai saya sidang skripsi. Namanya juga rencana manusia, tak ada yang pasti. Akhirnya seluruh rencana manusia di 2020 kacau-balau karena datangnya pandemi.  Namun, saya tidak menduga bahwa momen ini akhirnya tiba juga pada bulan Juni tahun ini.

Sebelumnya, saya melakukan searching terkait berita potensi tsunami yang terjadi di Jawa Timur dan memastikan bahwa isu tersebut benar. Hanya saja di sini ada kesalahpahaman pada masyarakat dalam menangkap berita. Potensi bukanlah prediksi. Potensi merupakan hal yang berbeda dengan prediksi. Dengan memantapkan hati, akhirnya saya berangkat ke Banyuwangi dengan sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Magelang dan Yogyakarta selama beberapa hari. Saat itu mulai terdengar isu lonjakan kasus covid di Yogyakarta. Khusus Yogyakarta, bukan daerah lainnya selama yang saya ketahui.

Berangkatlah saya pada tanggal 12 Juni 2021. Saya menuju ke Magelang terlebih dahulu untuk mengurus berkas-berkas BPJS saya. Dikarenakan saya sudah lulus kuliah, saya harus mengubah BPJS saya menjadi peserta mandiri dan proses ini tidak bisa dilakukan secara online karena terkait dengan persetujuan rekening bank. Saya sedang mengejar waktu untuk menyelesaikan urusan administrasi yang ternyata cukup rumit ini karena tidak cukup mengurusnya dalam satu hari. Saya butuh BPJS karena saya hendak melakukan operasi yang akan berlangsung sebanyak dua kali dengan biaya yang cukup mahal jika dilakukan tanpa BPJS. Errghh. Sabar.

Sembari menunggu berkas selesai, saya ke Yogyakarta menemui teman-teman yang saya sayangi. Teman-teman yang memang ingin saya temui.  Teman-teman yang sedang menghadapi berbagai masalah juga. Saya datang berharap kami bisa saling menguatkan.

 

Dinyatakan Positif Melalui Tes Genose

Tiba H-1 saya akan berangkat menuju Banyuwangi, saya melakukan tes. Hal ini saya lakukan untuk memastikan bahwa diri saya sehat, sebab di Banyuwangi nanti saya akan tinggal di tempat tinggal milik relasi saya. Setidaknya saya harus memastikan bahwa diri saya baik-baik saja agar tidak membawa virus ke tempat orang lain. Tes Genose pertama saya negatif ketika hendak berangkat dengan kereta api dari Bandung menuju Yogyakarta, namun selang beberapa hari begitu saya hendak ke Banyuwangi, tes Genose saya hasilnya positif. Deg. Aduh. Kayaknya gara-gara habis makan sate usus dan lontong sayur deh. Padahal kejadiannya sudah dua jam berlalu dari sebelum tes. Saya diam, kaku, bingung, dan segalanya berputar di pikiran saya.

Saya mengakui bahwa saya sering melakukan perjalanan keluar kota yakni ke Yogyakarta selama pandemi berlangsung. Terhitung di tahun ini sudah tiga kali saya bolak-balik ke Yogyakarta. Dan ini pertama kalinya tes Genose saya hasilnya positif. Kebetulan tesnya memang di RS bukan tes Genose yang bekerjasama dengan  PT. KAI.

Saya segera menenangkan diri, lalu ke apotek beli air NaCl untuk membersihkan hidung dan cepat-cepat ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di dekat Malioboro untuk tes Antigen. Saya tidak percaya dengan hasil tes Genose saya, sementara saya harus memastikan status diri saya saat ini terkait covid.

Saya sempat curhat juga ke petugas Antigen, "Pak, saya nggak mau hasilnya positif. Saya nggak boleh positif sekarang soalnya saya baru abis ketemu teman-teman dan keluarga saya."

Saat itu di benak saya cuma kepikiran mereka. Orang-orang yang baru saja saya temui adalah orang-orang yang berharga dalam hidup saya. Apalagi pandemi begini, saya benar-benar memilih untuk bertemu dengan siapa, mengutamakan orang-orang yang prioritas dulu untuk ditemui.

Akhirnya petugas juga ikut menanggapi kegelisahan saya. "Banyak yang kemana-mana tetapi nggak kena, banyak juga yang cuma di rumah saja justru kena." Beliau seolah ingin membesarkan hati saya, memberitahu saya bahwa jangan terlalu panik dan jika terjadi apa-apa jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.