Waktu kudengar kabar itu, aku cuma bisa
membisu
Tercoreng sudah nama dan wajahku
Seolah semua prestasi yang berhasil
kupertahankan sia-sia
Sayangnya aku tak mengenal orang yang
seharusnya kuteriaki itu
Dan ia pun mengenalku hanya sebatas nama dan
wajah saja
Tempo hari ia datang menawarkan kebaikan
yang katanya untuk membayar kesalahannya
Entah mengapa aku rasa kebaikan yang
ditawarkannya semu
Toh, aku tidak tahu karena kesalahannya
bagaimana konsekuensi yang kuterima dalam jangka panjang nantinya
Aku sedih, tapi aku hanya bisa menuliskannya
Aku harap ini sebatas hari ini saja
Meski tertulis jelas karena kesalahannya ada
hakku yang hilang selama beberapa waktu kedepan
Padahal dengan hak yang seharusnya kuterima
itu, akan mempermudah sedikit urusanku
Ada-ada saja jejak yang merusak taman yang
selama ini kusirami, yang setiap hari kian mekar bunganya
Aku ingin mengatakan bahwa sudah
kuperingatkan sebelumnya
Bodohnya aku lupa bagaimana keras kepalanya
Bagaimanapun ia tak akan dengarkan apa
kataku
Tak sadar pula pada akhirnya aku, namaku,
dan wajahku yang menanggungnya
Aku ingin ungkapkan sesalku padanya atas
kekeras kepalaannya
Tetapi kupikir sulit berbicara dengan orang
yang selalu mengatakan “ini semua takdir Allah” pada akhirnya
Sungguh, meskipun pada akhirnya yang terjadi
adalah takdir Allah, dengan segala upaya sebelumnya manusia diberi akal dan
hati utuk berpikir dan merasakan, untuk mencegah hal-hal buruk terjadi, bahkan
kala itu sudah berkali-kali kuperingatkan, aku lebih paham soal yang satu itu,
tetapi kau terus saja memaksa
Sulit memang berbicara konteks lain padanya
yang selalu berujung mengatakan ini semua takdir Allah
Yang mana ia ajarkan aku jangan terlalu
memikirkan masalah dunia
Ya, memang benar adanya, mungkin
pengalamannya lebih banyak dariku
Tetapi, aku tidak siap menerima konsekuensi
atas apa yang selama ini sudah aku jaga
Lalu rusak karena paksaannya
Mungkinkah bila aku tak butuh kebaikanmu
itu, mungkinkah kau akan jujur menceritakannya padaku tentang kesalahanmu? Atau
tulus berbaik hati padaku bukan karena untuk membayar kesalahanmu?
Kau tak mengenalku, bahkan kau tak tahu
Kata orang, kau orang baik, begitukah orang
baik? Berpura-pura tidak tahu kalau itu adalah hal yang salah? Membuat pelanggaran
atas nama orang lain?
Aku jadi bertanya-tanya kau itu siapa
Koreksi kembalilah dirimu itu
Orang baik akan berusaha tidak menyulitkan
orang lain
Bahkan saat dia tidak benar-benar mengenal
siapa orang lain itu
Satu-satunya cara untuk mengalihkan
pikiranku tentang masalah kecil dunia yang seharusnya bisa aku hnindari bahkan
terjadi lama tanpa sepengatahuanku ini, adalah bagaimana aku harus memikirkan
nasib orang-orang di belahan bumi yang lain yang makanpun susah, boro-boro
mendapatkan masalah seperti yang kualami.
Apa kabar yang di Palestina?
Sementara mereka terus menghafal Alquran,
makan seadanya atau bahkan tidak makan, tidur secukupnya atau bahkan tidak
mampu tidur, batu sebagai senjata di tangan mereka, lidah basah oleh ucapan
takbir mereka. Sementara aku hanya duduk termenung dengan wajah merenggut,
bantal empuk dapat kupeluk, selimut menghangatkan tubuhku, ponsel dengan segala
kecanggihannya dalam genggamku, makanan dan minuman tersimpan penuh di dalam
lemariku, bahkan begitu banyaknya orang-orang baik di sekitarku yang selalu
ingin membantuku, haruskah masalah dunia ini menyita pikiranku?
Sedih.
Aku punya banyak teman.
Tetapi, aku ragu bercerita pada mereka.
Aku punya banyak teman.
Tetapi, aku pikir tiada solusi di pikiran
mereka untuk yang kualami.
Aku punya banyak teman.
Tetapi, aku pikir aku hanya perlu menangis
dan mereka memelukku tanpa bertanya kenapa.
//Yogyakarta, Agustus 2018//
Dariku, yang sulit untuk marah.
Bahkan padamu, aku masih bisa menawarkan senyum dan peluk di hari terakhir kita jumpa.
Bahkan padamu, aku masih bisa menawarkan senyum dan peluk di hari terakhir kita jumpa.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus