09/08/18

"Aku Marah."

Waktu kudengar kabar itu, aku cuma bisa membisu

Tercoreng sudah nama dan wajahku

Seolah semua prestasi yang berhasil kupertahankan sia-sia

Sayangnya aku tak mengenal orang yang seharusnya kuteriaki itu

Dan ia pun mengenalku hanya sebatas nama dan wajah saja

Tempo hari ia datang menawarkan kebaikan yang katanya untuk membayar kesalahannya

Entah mengapa aku rasa kebaikan yang ditawarkannya semu

Toh, aku tidak tahu karena kesalahannya bagaimana konsekuensi yang kuterima dalam jangka panjang nantinya

Aku sedih, tapi aku hanya bisa menuliskannya

Aku harap ini sebatas hari ini saja

Meski tertulis jelas karena kesalahannya ada hakku yang hilang selama beberapa waktu kedepan

Padahal dengan hak yang seharusnya kuterima itu, akan mempermudah sedikit urusanku

Ada-ada saja jejak yang merusak taman yang selama ini kusirami, yang setiap hari kian mekar bunganya


Aku ingin mengatakan bahwa sudah kuperingatkan sebelumnya

Bodohnya aku lupa bagaimana keras kepalanya

Bagaimanapun ia tak akan dengarkan apa kataku

Tak sadar pula pada akhirnya aku, namaku, dan wajahku yang menanggungnya



Aku ingin ungkapkan sesalku padanya atas kekeras kepalaannya

Tetapi kupikir sulit berbicara dengan orang yang selalu mengatakan “ini semua takdir Allah” pada akhirnya

Sungguh, meskipun pada akhirnya yang terjadi adalah takdir Allah, dengan segala upaya sebelumnya manusia diberi akal dan hati utuk berpikir dan merasakan, untuk mencegah hal-hal buruk terjadi, bahkan kala itu sudah berkali-kali kuperingatkan, aku lebih paham soal yang satu itu, tetapi kau terus saja memaksa

Sulit memang berbicara konteks lain padanya yang selalu berujung mengatakan ini semua takdir Allah

Yang mana ia ajarkan aku jangan terlalu memikirkan masalah dunia

Ya, memang benar adanya, mungkin pengalamannya lebih banyak dariku

Tetapi, aku tidak siap menerima konsekuensi atas apa yang selama ini sudah aku jaga

Lalu rusak karena paksaannya


Mungkinkah bila aku tak butuh kebaikanmu itu, mungkinkah kau akan jujur menceritakannya padaku tentang kesalahanmu? Atau tulus berbaik hati padaku bukan karena untuk membayar kesalahanmu?

Kau tak mengenalku, bahkan kau tak tahu
Kata orang, kau orang baik, begitukah orang baik? Berpura-pura tidak tahu kalau itu adalah hal yang salah? Membuat pelanggaran atas nama orang lain?

Aku jadi bertanya-tanya kau itu siapa

Koreksi kembalilah dirimu itu

Orang baik akan berusaha tidak menyulitkan orang lain

Bahkan saat dia tidak benar-benar mengenal siapa orang lain itu


Satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranku tentang masalah kecil dunia yang seharusnya bisa aku hnindari bahkan terjadi lama tanpa sepengatahuanku ini, adalah bagaimana aku harus memikirkan nasib orang-orang di belahan bumi yang lain yang makanpun susah, boro-boro mendapatkan masalah seperti yang kualami.

Apa kabar yang di Palestina?

Sementara mereka terus menghafal Alquran, makan seadanya atau bahkan tidak makan, tidur secukupnya atau bahkan tidak mampu tidur, batu sebagai senjata di tangan mereka, lidah basah oleh ucapan takbir mereka. Sementara aku hanya duduk termenung dengan wajah merenggut, bantal empuk dapat kupeluk, selimut menghangatkan tubuhku, ponsel dengan segala kecanggihannya dalam genggamku, makanan dan minuman tersimpan penuh di dalam lemariku, bahkan begitu banyaknya orang-orang baik di sekitarku yang selalu ingin membantuku, haruskah masalah dunia ini menyita pikiranku?


Sedih.

Aku punya banyak teman.

Tetapi, aku ragu bercerita pada mereka.

Aku punya banyak teman.

Tetapi, aku pikir tiada solusi di pikiran mereka untuk yang kualami.

Aku punya banyak teman.

Tetapi, aku pikir aku hanya perlu menangis dan mereka memelukku tanpa bertanya kenapa.


//Yogyakarta,  Agustus 2018//
Dariku, yang sulit untuk marah. 
Bahkan padamu, aku masih bisa menawarkan senyum dan peluk di hari terakhir kita jumpa.

1 komentar: