02/11/18

Jangan Membenci Bara dan Prabu!


Entah kenapa akhir-akhir ini di sela-sela deadline yang menumpuk, kelas kuliah yang seolah tak habis-habis, berbagai seminar yang sungguh menarik untuk diikuti, terajut suatu tanda besar dalam benakku. Bangku kuliah, dosen, kosan, deadline, seminar, tugas, email, dan lain sebagainya seolah-olah tak pernah bosan untuk terus meyakinkanku bahwa aku sudah ada di tahap ini, di masa ini.

Keinsomniaan yang melandaku, kumanfaatkan untuk merenungi hari-hari yang kulewati dalam kehidupanku. Semua pikiran ini tidak boleh bila tidak membawa Tuhan. Tuhan haruslah selalu disangkutpautkan dalam kehidupan kita, dalam tata aturan dari hal kecil hingga hal besar, itu yang kudengar dari para ulama. Maka miris sekali mendengar ungkapan Nietsche yang mengatakan bahwa banyak orang beragama tetapi tidak menghadirkan agama dalam hidup mereka.

Setiap kali mengingat Tuhan, ada saja partikel-partikel dalam tubuh yang turut menguatkan jiwa dan tubuh. Aku percaya bahwa semua hal terjadi atas ijin-Nya, bahkan bila itu hanyalah sehelai daun yang terhempas dari pohonnya.

Ah, bila aku ada di dunia dongeng pasti sudah kukatakan bahwa akulah jiwa yang terjebak dalam tubuh orang dewasa! Dan otakkulah yang paling kukasihani dari semua ini! Ia yang terus menerus kupaksa untuk mendewasa. Aku kehilangan pikiranku sendiri.

Maka sekarang mari berhenti membicarakan diri sendiri. Dalam cerita ini, tersebutlah dua orang laki-laki yang keduanya sama-sama teman sekelasku, sama-sama membuat bosan karena setiap hari kami bertemu. Dua orang pria yang sungguh menyajikan kepribadian bertolakbelakang bila benar-benar memahaminya. Tetapi, ada hal yang sama dalam diri mereka, keduanya sama-sama betul mengenal agama, mengingat Tuhan, ibadahnya taat, omongannya tidak kasar, dan sama-sama rajin berangkat kuliah juga!

Yang pertama namanya Bara, entah kenapa tahu-tahu saja aku tahu banyak tentang dirinya, tentang hobi naik gunungnya, tentang ia paling tidak suka makan ikan tetapi anehnya senang sekali pergi memancing, tentang ia menyimpan banyak persediaan tempe dan tahu juga cabai di kulkas rumahnya yang katanya untuk persediaan selama satu tahun yang kupikir itu tidak benar, tentang dia yang sering sekali belanja lewat aplikasi online karena ada promo utamanya pada peralatan mendaki gunung yang merupakan hobinya itu, tentang dia yang baik sekali rela naik gojek ke kampus karena motornya ia pinjami ke saudaranya, tetapi yang paling aku tahu betul tentang hobinya adalah ia senang untuk menyenangkan orang lain, salah satunya akulah korban dari hobi anehnya itu. Ia senang sekali membawakan aku jasuke alias jagung-susu-keju karena ia tahu aku suka sekali jasuke, maka dia sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli bahan dan meracik sedemikian rupa hingga jasuke tersebut berhasil dibuatnya sendiri lalu diantarnya malam-malam ke tempatku. Kadang-kadang juga ia pada siang terik datang tergopoh-gopoh membawa sekeranjang macam-macaman; buah, biskuit, obat, vitamin, juga termos, ketika tahu aku terkena demam. Kupikir dia pandai sekali mencipta kenangan. Bagaimana bisa seseorang melupakan kebaikan yang pernah orang lain ukir dalam hidupnya?

Yang kedua, namanya Prabu, entah kenapa tiba-tiba aku berada di fase untuk ikhlas berteman dengannya. Pasalnya, hampir semua teman-temanku jengkel dibuat olehnya. Bagaimana tidak, Prabu lah orang yang sering sekali bertanya saat ada presentasi atau di saat detik-detik terakhir dosen hendak mengakhiri kelas. Menurut kabar yang beredar, Prabu hanyalah menguji teman-temannya saja atau bahkan dosennya, menurut kabar yang beredar juga sesungguhnya Prabu sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya sendiri. Sungguh menyebalkan, bukan?

Meski akhir-akhir ini banyak mahasiswa sangat gencar dalam membuat viral azab bagi tukang tanya saat temannya presentasi di kelas, tidak juga membuat Prabu jera. Mirisnya lagi, dia juga “agen” yang turut menyebarkan video parodi seorang mahasiwa yang terkena azab usai bertanya saat teman-temannya presentasi. Di dalam video itu si mahasiwa yang terkasihani itu jatuh tersandung bangku di kelasnya usai bertanya saat temannya presentasi hingga ketika ia jatuh, semua bangku ambruk menimpa tubuhnya. Ah, dasar mahasiwa, ada saja idenya untuk membuat video, yang lebih hebatnya lagi ada saja waktunya untuk berakting, merekam, bahkan sampai capek-capek mengedit videonya ditambah dengan backsound yang cocok dan membuat penonton terpikal sekaligus manggut-manggut tak jelas.

Kupikir aku sudah berada di fase untuk ikhlas mengenalnya, sebab bila dibandingkan dengan aku yang dulu, aku adalah orang yang paling benci untuk berbicara dengannya, malas untuk mendengarnya bicara, dan pura-pura tuli saat ia menyapa atau berteriak memanggilku. Namun, kurasa masa-masa itu sudah terlewati dengan baik dan aku tidak menyesal sedikitpun telah memperlakukannya seperti itu karena ia tetap enjoy saja berteman denganku hingga saat ini. Kini aku akan berusaha adil pada semua teman-temanku, aku akan berusaha mendengarkan mereka seolah aku peduli, dan aku akan membalas omongan mereka seolah aku paham topik pembicaraan kami.

Tak banyak yang aku tahu tentang dirinya, sebab ia berbeda dengan Bara yang sering bercerita tentang hidupnya dan Bara peduli pada hal-hal penting. Sedangkan Prabu awalnya kupikir terlalu banyak bicara omong kosong, dan berisik. Akhir-akhir ini saja kurasa ia berbicara dan terlihat begitu cerdas dengan pengetahuannya yang sebenarnya banyak, hanya saja lebih banyak juga ia membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak ada gunanya untuk hidupku atau hal-hal yang sudah kuketahui, lalu ia ceramahi aku berkali-kali, memangnya aku idiot?

Lalu, tiba-tiba hari ini aku mendapat tugas dadakan, dikirim maksimal sore nanti via email, satu kelompok bersama dua makhluk yang kuceritakan tadi, si Bara dan si Prabu. Kami bertiga duduk di sebuah meja lingkar. Membahas macam-macam, mulai dari tugas itu sendiri hingga berujung pada pembahasan masing-masing diri kami. Termasuk aku yang tiba-tiba membahas tentang Vanessa, sahabat baikku. Aku berani mengatakan bahwa ia sahabat baikku karena ia memang baik adanya, cantik pula seperti namanya.

“Kalau suka tuh ya, sama perempuan kayak Vanessa! Kalau aku jadi laki-laki, aku pasti sudah jatuh cinta sama dia!”

Bara dan Prabu menatapku lalu menunduk.

“Tiap laki-laki sudah punya kriteria perempuan pilihannya, mungkin sudah pula menentukan perempuan yang ingin dipilihnya.” Ujar Prabu menanggapi ocehanku. Tumben dia bijak.  Sementara seperti biasa, Bara hanya senyum, lalu cengar-cengir kemudian terdengar suara haha-hehe dari mulutnya.

Keduanya tidak tahu tentang satu hal, tetapi aku tahu. Aku mengoceh seperti itu hanya untuk menguji tanggapan yang mungkin mereka berikan kepadaku. Sayangnya, Prabu pandai menjawab dengan jawaban yang cukup bijak dan Bara hanya haha-hehe karena kupikir ia memang tak perlu menjawabnya untukku.

Sejak beberapa tahun yang lalu hingga mungkin saat ini, kebaikan Bara padaku adalah cerminan perasaannya, ekspresi hatinya, dan kata orang-orang biarkan saja orang yang ingin berekspresi bahkan saat aku juga pernah mendengar dari seseorang bahwa Bara pernah berkata, “Kanya telah menentukan pilihannya, aku tahu. Tapi, biarkan saja aku seperti ini padanya.” Tiap ingat hal itu aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

Lain lagi dengan Prabu, yang mana aku terpaksa akrab dengannya dibanding dengan teman-temanku yang lain yang sulit akrab dengannya, sebab pada awal perkuliahan kami mengikuti suatu pengembangan minat kemahasiswaan yang sama. Pada semester ini, tiba-tiba kami satu pengembangan minat kemahasiswaan yang sama lagi, meski beda tempat. Kalau dulu kami mengikuti pengembangan minat pembuatan film, sekarang kami mengikuti pengembangan minat teater. Cukuplah kupikir untuk membencinya, sudah saatnya berteman dengan ikhlas dan mendengarkannya berbicara. Kusadari aku tak punya alasan untuk membencinya, bahkan kalau mau mendengar omonganku yang bijak ialah seperti ini; jadi, meski kita punya seribu alasan untuk membenci seseorang dan hanya memiiki satu alasan saja untuk menyayanginya, mari kita lakukan untuk sayang padanya dengan satu alasan itu saja! Sebenarnya ini berbeda tipis sih, dengan ungkapan gombal seorang pria yang mengatakan jika kamu memiliki seribu alasan untuk pergi, ia cukup memiliki satu alasan saja untuk tetap di sini dan mencintaimu. Hazek!

Hingga pada suatu malam, saat gladi kotor diadakan terus-menerus untuk pementasan, ia tak berhenti bercerita alias mencurahkan isi hatinya. Aku cukup tertarik dengan topiknya sih, makanya itu aku mau-mau saja mendengarkannya. Ini tentang perempuan yang katanya dia suka!

Ujung-ujungnya aku jengkel ketika aku terlambat menyadari bahwa perempuan yang ia ceritakan itu adalah diriku sendiri. Mengapa aku tidak merasa beruntung karena disukai olehnya, ya? Di saat-saat itu justru aku merasa telah dijebak. Usai tersadar kucoba tetap mendengarkan meski pandanganku fokus menonton adegan demi adegan yang sedang diperankan pemeran yang lain di atas panggung. Dodol ah! Aku mengutuki diriku sendiri. Besoknya, ia keceplosan “mengataiku”. Ia bilang, “Kanya, kamu cantik banget.”

Besoknya lagi, ia mengirimiku pesan meminta maaf karena telah “mengataiku” cantik. Setelah itu, ia juga bilang, “Tapi semalam kamu emang benar-benar cantik.” Kulirik wajahku di dalam cermin, ada kedongkolan yang terlihat jelas di mukaku. Tumben sekali bukan omong kosong yang keluar dari bibirnya. Eh, tiba-tiba saja aku merasa aneh dengan kalimatku barusan.

Bara tak perlu tahu bahwa ia dan Prabu menyukai gadis yang sama, tetapi Prabu tahu jika Bara amat menyukaiku karena keterus-terangannya dalam mengekspresikan perasaannya kepadaku. Maka jengkellah aku, mengapa Prabu senang sekali mengusik Bara di saat mungkin hatinya terluka karena aku lebih senang mendengar dan berbicara dengan Bara ketimbang dirinya.

Prabu pernah bercerita padaku tentang percakapannya dengan Bara.
“Bara, kamu suka Kanya? Kenapa?” tanya Prabu.
“Siapa yang tidak suka dengan kepribadian perempuan seperti Kanya?” jawab Bara.

Setiap kali cerita-cerita seperti ini datang, aku akan bercermin. Sayangnya kepribadianku tak terlihat di sana. Segera kusadari nasehat dari ibuku padaku bahwa kita diusahakan tidak boleh terlalu sering dan berlama-lama di depan cermin dikhawatirkan ada penyakit di sana, penyakit yang sangat berbahaya untuk hati manusia, penyakit itu berupa sifat berbangga diri atas dirinya sendiri atau sederhananya dinamakan sombong kira-kira. Ibuku mengatakan bahwa saat di depan cermin jangan lupa membaca doanya, sehingga bukan hanya fisik saja yang baik, tetapi akhlak juga.

Seseorang juga pernah mengatakan bahwa kebaikan seseorang hanya bisa dinilai oleh orang lain, bukan oleh dirinya sendiri. Aku juga teringat tentang perkataan seseorang yang lain bahwa acapkali seseorang yang diam-diam menyukai itu lebih banyak daripada yang terang-terangan, dan ini sungguh membuatku takut dan sedikit risih. Tetapi selama ia tidak macam-macam dan aku tidak tahu, kupikir itu tidak apa-apa. Hal inilah juga yang membuatku mengurangi aktivitasku di sosmed untuk membagi aneka moment yang kujalani karena kebanyakan pria seenaknya saja mencomot foto-foto itu. Jangan bertanya soal darimana aku tahu. Ada saja orang baik yang datang memberitahu sekaligus menjadi peringatan bagi diriku sendiri.

Terkhusus untuk Bara dan Prabu, mereka adalah temanku, sehingga ingin sekali kukatakan pada pria-pria di luar sana, jangan pernah membenci Bara dan Prabu yang setiap hari bisa bertemu denganku, berbicara dan bercerita denganku, bahkan mendengar ceritaku. Sebab, pada akhirnya aku hanya perempuan yang hanya akan memilih satu lelaki dalam hidupku. Tidak mungkin dua, tiga, apalagi empat! Catat itu!

7 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. sepertinya saya kenal bara dan prabu (jika ini dari cerita nyata) hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang sekali, ini hanya sebuah cerpen belaka.

      Hapus
    2. Saya jadi lega kalau memang hanya cerpen belaka, jadinya saya tidak perlu (seakan) menuduh orang untuk jadi prabu dan bara

      Hapus
  3. Teruntuk Prabu, jangan menangis nak. Setidaknya engkau harus berbangga sudah menjadi bagian dari cerita kanya.
    Teruntuk Bara, jangan bangga nak. Kanya hanya memilih "satu" bukan kamu dan juga bukan Prabu ehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu siapa? Temannya Kanya? :))

      Hapus
    2. Hai Prabu dan Bara, tak perlu khawatir,aku juga bukan siapa-siapanya Kanya :)

      Hapus