Namanya Pram, dulu
ia rapi, taat shalat 5 waktu ke masjid, rajin mengaji, sering ikut
kajian-kajian keagamaan dan hidupnya tenang. Dulu, sebelum ia kehilangan panutannya.
Pram yang sekarang adalah bocah yang kebingungan dalam hidupnya sendiri karena
dua orang sahabatnya yang menjadi panutannya selama ini memutuskan untuk pindah
dari kota yang menjadi awal mula persahabatan mereka. Keduanya memutuskan untuk
bermimpi lebih jauh lagi, lebih tinggi lagi.
Pram yang taat
mulai berubah sejak masuk sanggar seni itu. Ia bercerita bahwa pernah selama
satu minggu memutuskan untuk tidak berkunjung ke sanggar dan ia bisa mendapati
dirinya yang begitu rapi. Selama satu minggu itu ia mampu melaksanakan shalat
lima waktu, tetapi begitu ia datang kembali ke sanggar seninya, penampilannya
berantakan. Aku cukup terkejut saat melihat foto dirinya pada sekitar dua tahun
yang lalu, ia terlihat bagai selebgram dengan kulit bening, mata dengan
pandangan optimis, kerapihan begitu melekat di dirinya yang dulu. Aku
memandangi ia yang ada pada hari ini, ia yang tak ingin ia ingini. Pram, ia
pasti sangat merindukan dirinya yang dulu. Apa yang bisa kulakukan?
Ia juga
bercerita pernah suatu kali ke sanggar membawa sarung, berniat jika azan tiba
dia hendak pergi shalat, tetapi – sekali lagi dengan tatapan sedih, begitu ia
ada di sana, atmosfernya berbeda, tiba-tiba saja ia tidak jadi menunaikan
shalat. Di sanggar itu, tidak pernah disinggung soal tuhan, tidak ada
pembicaraan tentang agama apalagi Tuhan. Bagi mereka, hubungan antara Tuhan dengan
manusia adalah urusan pribadi masing-masing manusia, sudah menjadi sangat
individual sehingga tak ada yang peduli satu sama lain soal menaati perintah
Tuhan. Miris, kata Pram.
Namanya Pram,
dan ia adalah anak yang beruntung karena sangat disayangi oleh ibunya. Kata
Pram, ibunya mengatakan bahwa beliau rela menyekolahkannya dimanapun, berapapun
biaya yang harus dikeluarkannya, asalkan Pram bersekolah tinggi dan pulang ke
rumah bisa mengaji, itu saja cukup bagi ibunya. Mungkin inilah hal-hal yang
begitu lama amat mengganggu pikiran Pram dan ia renungi berpuluh-puluh kali
hingga sampai datang padaku di kemudian hari. Pertanyaan yang mengganggu
pikirannya dan entah mengapa sulit sekali ia temukan jawabannya; untuk apa ia
hidup? mau apa? mau kemana? Ia kebingungan berpikir, sementara orangtuanya rela
mengeluarkan harta sebanyak apapun untuk hidupnya.
Pram bercerita
bahwa tempo hari, ibunya pernah datang ke kos tempat dimana ia tinggal selama
di Yogyakarta ini. Kos Pram bukanlah kos kumuh atau bahkan jelek. Kos nya adalah
kos standar yang masih sangat layak untuk ditempati manusia. Akan tetapi,
ibunya mengatakan bahwa lebih baik ia cari kos yang mahal saja tetapi bagus
daripada kosnya yang sekarang yang menurut ibunya bangunannya seperti mau
roboh, padahal kami semua tahu kosnya masih sangat layak dan bagus-bagus saja
tetapi lucunya ibunya sangat khawatir, katanya “takut roboh”.