02/01/19

Catatan Untuk Seluruh Pengguna Sosmed

Tempo hari saya pernah menulis tentang mau dibawa kemana followers dari seorang public figure. Kali ini ingin menambahkan sedikit catatan untuk tulisan tersebut.

Memutuskan untuk menjadi public figure berarti berani mengambil banyak risiko salah satunya bertanggungjawab terhadap siapa saja yang mengikuti akunnya. Tidak peduli berapa followers kamu, kamu akan selalu menjadi public figure bagi mereka yang mengenal atau mengikuti kamu. Kesimpulannya entah siapapun kamu, public figure ataupun bukan, perkara akhlak bukan hal yang remeh. Akhlak bukan pelajaran yang mudah. Ada banyak ilmu yang dikaji di dalamnya dari berbagai aspek pula. Akhlak bukan kamu baik, lalu selesai. Tetapi akhlak selalu berdampingan dengan ilmu. Ada pepatah yang mengatakan, “berilmu sebelum beramal”.

Buka berarti kamu harus selalu melakukan pencitraan, tetapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa orang-orang melihatmu, dan kamu tidak akan pernah tahu keburukan atau kebaikanmu yang mereka contoh dari dirimu. Jadi, semoga selalu kebaikanlah yang kamu salurkan, yang kamu siratkan, biarkan mereka menjadi baik dengan adanya akunmu, dengan adanya kamu di sosial media. Diawali dengan berpikir memprioritaskan hal-hal baik dulu untuk dibagi dibandingkan yang bersifat tiada guna atau justru hal-hal yang bisa membawa pada keburukan.


Salam.



//Yogyakarta, 1 Januari 2019//

Bayar Parkir


Padahal tadi perasaan tidak ada, deh, tiba-tiba nongol.
Padahal tidak membantu mengeluarkannya, tapi nagih.
Padahal tidak dijaga juga tidak apa-apa, di sini kan aman.
Padahal dulu tidak ada bayar parkirnya, sejak kapan di sini bayar parkir?
Padahal cuma mampir bentar beli garam, lebih mahal parkirnya.
Padahal cuma dibungkus, enggak makan di sini, tetap bayar parkirnya.
Padahal dibiarkan saja nyebrang sendiri, tapi nagih.

Sebuah saran dari saya untuk problema kita bersama yang sebenarnya sungguh sepele tetapi seringkali menciptakan keluhan dan rasa jengkel yang tiada henti untuk hal yang satu ini. Mari bayar saja parkir kita, renungi dan coba ingat kembali bahwa bapak juru parkir di rumah punya keluarga, uang parkir kita bisa jadi untuk keluarganya makan, anak-anaknya sekolah, dan kebutuhan lainnya. Terlepas dari bila ia ternyata tidak berkeluarga, ternyata untuk beli rokok, dan hal-hal lainnya yang tidak kita ketahui secara pasti. Pun bila ia seorang abang-abang, kita tidak tahu lika-liku hidupnya hingga ia harus menjadi seorang juru parkir, yang perlu  kita pikir bisa jadi ia juga membantu keluarga dan orangtuanya atau bahkan ia lah yang menjadi tulangpunggung bagi adik-adiknya. Tidak ada yang tahu lika-liku seorang juru parkir yang hanya kita kenal wajahnya saja dan kebiasaannya yang tiba-tiba ada saat kita hendak pulang lalu menagih bayar parkir yang tidak seberapa. Terlepas dari berapapun banyaknya penghasilan yang ia peroleh setiap harinya, bukan urusan kita.

Di ujung akhir bulan, saya menghitung total parkir yang selalu saya keluarkan tiap bulannya, tak pernah melebihi Rp 20.000 itu bukan jumlah yang begitu banyak, bukan? Entah dengan kalian yang sering nongkrong di luar, berarti banyak pula kesempatan kalian untuk bersedekah, memberi kesempatan juru parkir untuk mencari nafkah.

Terima kasih untuk segenap juru parkir, yang selalu ikhlas tanpa mematok harga parkir, yang selalu membantu menyebrang di jalan raya, yang membantu menarik motor, yang merapihkan susunan motor, yang menjaga agar motor-motor aman di tempatnya, yang dengan segala kardus atau papannya menutupi jok motor-motor dari panasnya sengatan matahari.

//Yogyakarta, 1 Januari 2019//

Weekend di Penghujung Tahun


Weekend terakhir di 2018 ada sedikit rentetan cerita. Ditulis supaya ada yang ditulis saja.

Eh, tidak juga deh, ditulis untuk menghilangkan penat saja, berbagi kelelahan dengan pembaca, saling percaya bahwa yang lelah bukan diri sendiri saja, tetapi orang lain mungkin juga, atau bisa jadi lebih l elah.

Hidup adalah tentang lelah yang memuaskan. Apapun sebabnya, apapun dampaknya, yang perlu diingat semoga lelahmu adalah karena usaha untuk cinta kepada-Nya.

Pagi itu, ikut suatu kelas yang dimana mengharuskan saya mau tidak mau harus bersuara selama berjam-jam. Usai zuhur saya pergi ke sebuah kafe semi warnet untuk copy film dari komputer di sana. Agak kecewa juga ternyata satu film saja bisa belasan giga. Dengan tiga flashdisk sekaligus saya berjuang. Maklum tidak punya hardisk. Jadi, saya sebentar lagi masuk ke babak baru untuk kelanjutan pendidikan saya dimana saya perlu mencari objek material untuk dianalisis oleh skripsi. Objek itu bisa jadi tidak jauh-jauh dari buku dan film. Jadi, beberapa film yang saya cari adalah yang telah direkomendasikan oleh dosen saya terkait dengan berbagai teori yang sudah diajarkan. Selebihnya adalah film detektif yang saya cari atau film monster-monster.

Sorenya, saya pergi ke kafe. Ini adalah hal yang jarang saya lakukan. Secara, Jogja dengan segala keramahan orang-orang bahkan harga-harga menu yang disajikan dengan rasa yang melebihi dari sekedar enak membuat saya lebih sering ke tempat-tempat makan biasa yang enak, mengenyangkan dengan harga yang terjangkau. Lagi pula kalau ke kafe seringnya bingung, karena menu yang tertera serba inggris yang di-mix sampai-sampai tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk makanannya hingga harus berkali-kali meminta penjelasan dari pelayannya. Ya Allah, jadi teringat pada bapak-bapak yang “tidak bisa melihat” tempo hari di jalanan, beliau diberi kesempatan oleh Allah untuk dikurangi dosanya dengan mata yang tidak bisa melihat sehingga tiada dosanya untuk melihat maksiat. Seringkali saya melihatnya karena ia tinggal di daerah yang sama dengan saya. Bapak itu punya keluarga, sering keluar bersama anak-anaknya atau lebih tepatnya ditemani oleh anak-anaknya untuk membeli makan malam. Hal ini pernah saya ceritakan di tulisan saya yang lalu-lalu, saat sang bapak, saya prediksi akan tersandung jalanan yang tidak rata, tetapi saat itu beliau digandeng oleh anak-anaknya sehingga saya percaya saja bahwa anak-anaknya akan membantunya. Meski saya tidak bisa membayangkan jenis makanan yang akan disajikan oleh kafe itu karena namanya yang kelewat keren, tetapi toh saya nantinya juga bisa melihat penampakan makanan yang hendak saya makan, sementara mereka yang tak bisa melihat, tidak tahu bagaimana cantiknya masakan tersebut disajikan.

24/12/18

'a Different Broken Heart'


Desember selalu saja punya cerita sendiri dan seolah memang datang untuk menabur kisah demi kisah yang mengecewakan bagi kita yang mungkin belum lapang hatinya dalam menerima hal-hal kecil yang menyakitkan dalam hidup kita.

Desember kali ini datang membawa sebuah kesadaran dan pelajaran berharga dari hadirnya krisis dalam suatu rasa. Tidak tahu pasti namanya apa, tetapi sebegitu menyakitkannya manakala kita mengetahui bahwa kita bukanlah bagian dari orang-orang yang dipercaya oleh teman kita sendiri, sahabat kita sendiri.

Dia datang dengan segala kebaikan hatinya, membuat kita nyaman sepenuhnya, sampai kita berpikir dialah soulmate kita. Banyak sekali kemiripan diantara kita, utamanya hal-hal dan suasana yang kita sama-sama suka, terlebih orang lain berkata tidak untuk hal-hal tersebut hingga membuat kita merasa bahwa kita berjodoh dengannya karena sama-sama menyenangi hal-hal dan suasana yang mungkin orang lain asing terhadapnya.

Lalu dia pergi, meninggalkan kesan bahwa ia lebih ingin kita abaikan.

Saat itu, saya memahami begitu berharganya perasaan untuk dipercaya, dihargai, dihormati, hingga dicintai.

Kepercayaan seolah melebihi banyak hal. Kau tahu apa yang membuat  seseorang bisa menyerahkan segalanya untukmu? Karena mungkin semua hanya didasari oleh satu hal, kepercayaan yang menggebu-gebu pada dirimu.

Misal, dia percaya bahwa kau setulus hati mencintainya, untuk itu dia rela menunggumu tak peduli berapapun lamanya, dia rela membuang seluruh waktunya hanya untuk menunggumu yang ia yakini akan pulang.

Back to December Again


Hari ini saya baru kembali menulis setelah selama Desember digandrungi berbagai macam pekerjaan yang sampai sekarang pun tidak kelar-kelar. Sekarang saya sedang menulis ditemani rasa sakit di kepala saya, meriang di tubuh saya, mampet di hidung saya, berat di tenggorokan saya.

Saya baru saja pulang dari kafe Antologi usai rapat dengan divisi kreasi untuk penyelenggaraan festival kami di bulan Januari mendatang, saya ijin pamit pulang duluan karena tidak kuat dengan AC di kafe tersebut dengan tubuh saya yang sedang meriang dan kepala seperti dibentur-benturkan ke tembok. Karena sudah malam, saya tidak sadar kalau hujannya cukup deras, waktu saya sudah sadar barulah saya menepi dan membuat saya terpaksa menggunakan jas hujan. Saya mampir dulu membeli makan malam, seperti biasa membeli sebungkus nasi dengan cumi rica-rica kesukaan saya ditambah ada sayur sawi di dalamnya.

Pagi tadi juga saya baru pulang dari Magelang. Hampir-hampir saya jatuh di sungai karena saya salah focus melihat seorang anak perempuan yang masih kecil sendirian ketiduran saat sedang menjaga dagangan buah-buahannya di dekat jembatan. Lalu saya menyesal karena telah bingung membuat rencana liburan sebab tidak kemana-mana, lihat Nin, lihat anak perempuan itu betapa boringnya hari-harinya sampai ia ketiduran saat menjaga dagangannya! Kamu sendiri tidak perlu bersusah-susah seperti itu untuk makan, tidak sampai ketiduran di pinggir jalan! Pakai liburan kamu buat belajar toefl sana! Sadar diri sudah mau proposal, KKN, Skripsi, Wisuda! Sadar diri dari sekarang!

Waktu berangkat ke sana macet, biasa long weekend. Hanya semalam saja memang di sana. Begitulah kehidupan saya. Saya hanya bertemu dengan orangtua saya sehari semalam saja, tetapi itu hampir tiap bulan.  Lewat video call, Ibu saya bilang bahwa pasti Ayah saya bahagia bertemu dengan kalian, saya jawab biasa saja sepertinya, mukanya biasa saja soalnya. Mendengar hal itu Ayah saya senyum-senyum seraya berkata, “Ya, emang harus gimana?” Iya juga sih, saya juga bingung kalau saya jadi Ayah saya kudu gimana menunjukkan rasa bahagianya. As usually, entah kenapa sudah menjadi tradisi keluarga saya, kalau ada salah satu anggota yang baru datang yang lainnya ngumpet atau pura-pura tidur. Waktu saya tiba di rumah Magelang, Ayah dan adik saya lagi mojok di ruang tamu, ngumpet. Saya selalu masuk lewat pintu belakang. Ketawa-ketawalah kami waktu saya berhasil menemukan mereka.

Pagi tadi juga saya sangat terpukul nonton berita di TV, bagaimana tidak, Indonesiaku kembali dihantam musibah, setelah sebelumnya tsunami dan gempa di Palu, jatuhnya pesawat, dan musibah-musibah sebelumnya. Meski begitu, kata Ibu saya, di Palu usai bencana masih ada saja yang berani jalan-jalan ke mall, foya-foya dan lain sebagainya, kata Ibu saya, bagaimana bisa mereka masih bisa melakukan itu semua setelah apa yang telah terjadi di sini?