08/05/21

#5 Belum Usai

 

Source: Tumblr

Sore di teras rumah. Bunda baru selesai menyapu halaman, Mentari keluar hendak menyapa Bunda dan langit. Duduk bersama Bunda di teras rumah saat sore hari adalah keberkahan bagi Mentari. Masih di dunia yang sama, menatap langit yang sama, membahas hal-hal yang perlu dibahas.  

“Neng, kamu jadi terima tawaran Bu Eka untuk ngajar di sekolah miliknya yang di Bogor?”

 “Kayaknya belum bisa, Bunda."

Belum, bukan belum bisa, tapi belum siap. Belum siap bertemu cinta pertama. Entah cinta atau bukan, pertama atau bukan, Mentari tidak siap kalau harus tinggal satu kota dengan orang itu.

"Ayah pengen ada salah satu anaknya yang ngurus rumah di Bogor. Kalau kamu mau, nanti abang kamu juga pindah ke Bogor dari Jakarta. Jadi, kamu ada yang menemani."

Mentari nampak berpikir.

Kalau orang itu tahu Mentari tinggal di Bogor juga, bagaimana? Apakah orang itu mau bertemu dengannya? Kalau nanti dia bertemu orang itu dengan tidak sengaja, bagaimana?

Ah, dasar Mentari. Padahal Bogor itu luas. Walau kalau takdirnya bertemu, pasti akan bertemu. Kalau tidak, ya tidak.

Terus kalau ketemu, saya harus gimana? Harus ngomong apa? Terus apakah saya harus bertemu untuk sekedar menguji debaran di jantung saya? Ah, gimana..

Terus kalau hati saya belum siap, tapi kedua kaki saya oke-oke saja, lalu kalau tiba-tiba saya sudah berada di depan rumahnya, gimana?

Tapi Mentari tahu kalau dia tidak seberani itu. Tidak akan.

"Mentari." Panggil Bunda. Lamunannya buyar.

"Di Bandung masih banyak yang perlu Mentari urus, Bun.. Mentari minta maaf, ya."

Bunda mengangguk.

#4 Preloved

 

Source: Tumblr

Lagi-lagi anak-anak yang lain belum datang. Sulit sekali mengubah kebiasaan yang sudah diwajarkan, tapi Mentari selalu datang lebih dulu, Bima selalu menyusul setelahnya karena rumahnya cukup dekat dari titik kumpul.

"Mau ngirim barang jualan lagi? Preloved?" Bima memandangi barang-barang bawaan Mentari.

"Iya, nih." Respon Mentari.

"Barang apa?”

“Buku, ada juga baju-baju.”

“Nggak apa-apa dijual lagi?”

“Nggak apa-apa, bukunya sudah nggak saya baca lagi, bajunya juga sudah saya nggak mau pakai lagi.”

“Kenapa pada dijual, sih?”

“Kan sudah dijawab barusan.”

“Itu gua bukan nanya, tapi pernyataan. Heran. Pantas baju yang lo pakai itu-itu aja, yang lainnya pada dijualin, sih.”

“Dipakai berkali-kali karena nyaman.”

“Nyaman atau.. karena nggak punya pilihan lain.”

Mentari tersenyum kecut. Sembarangan, batinnya.

“Kenapa sih orang-orang suka mengumpulkan hal yang nggak penting, yang nggak bermanfaat buat kehidupan dia selanjutnya. Kalau kita mati besok gimana? Berusaha menyedikitkan barang-barang saja, supaya nggak ngerepotin orang-orang yang nanti kita tinggalkan. Nggak bikin mereka bingung dengan apa-apa yang pernah kita miliki.”

“Kenapa sih ngomong gitu?” Bima memancing.

“Kenapa sih orang-orang suka menghindar dari topik kematian?” Mentari membalas.

“Gue nggak menghindar. Gue justru tanya, kenapa lo ngomong gitu?”

“Tiba-tiba terlintas aja.”

“Terlintasnya sering, ya.”

Mentari hanya nyengir.

28/04/21

#3 Kata Mas Anon

 

Source: Tumblr


Langit sedang ramah. Sore cerah.

"Kena minyak panas lagi?" Bima tiba-tiba datang.

Mentari menatap nanar punggung tangan kanannya.

"Oh, nggak. Kegesrek waktu ngangkat koper." Mentari jujur.

"Sok kuat, sih." Canda Bima.

"Emang udah biasa, kok." Mentari jujur lagi.

"Giliran ada Bang Harun mendadak nggak biasa." Canda Bima lagi.

"Heh! Waktu itu emang berat, tau! Satu kardus besar isinya buku semua." Lagi-lagi Mentari memang jujur.

Mentari dan Bima sedang menunggu teman lainnya. Teman-teman komunitas. Hari itu mereka hendak melangsungkan rapat. Mentari selayaknya matahari, selalu muncul terlebih dahulu.

Tapi baginya, tidak apa-apa. Menunggu berarti menjadi kesempatan untuknya. Kesempatan membaca tulisan-tulisan lelaki anonim di sebuah blog yang teduh.

"Mas Anon itu lagi." Bima lagi-lagi ikut campur. Mentari memang pernah menceritakan padanya, perihal tulisan-tulisan lelaki itu, lelaki yang dipanggilnya Mas Anon, a.k.a Anonim.

"Iya, nih."

"Ada tulisan terbaru?"

"Iya."

Mentari masih menatap layar laptopnya, layar yang menampilkan tulisan lelaki itu.

 

“Perempuan baik itu, namanya tidak berkeliaran di tongkrongan anak laki-laki,

Karena perempuan baik itu namanya tidak sembarangan diucapkan oleh anak laki-laki.”

 

            Mentari mengernyitkan dahi. Ah, apa iya begitu?

 

25/04/21

#2 Stranger


Source: Tumblr

Gujes, gujes. Kereta melaju. Cepat.

Perempuan itu terus memandang keluar jendela. Seakan tak punya pilihan lain. Mencoba kegiatan lain dengan membuka-buka buku bacaan yang dibawanya, hingga kemudian mulai tak fokus karena perutnya mulai merengek minta diisi. Tangannya merogoh tas ransel di pangkuannya. Sebuah roti muncul, dengan keju di bagian atasnya, mungkin juga di dalamnya. Perempuan itu perlahan melahap rotinya sambil terus melihat keluar jendela. Di hadapannya terhampar hijau yang menyala di mata, bercampur dengan semesta yang tengah mempertontonkan birunya. Merasa diperhatikan, perempuan itu berhenti mengunyah. Akhirnya peduli juga, batinnya.

"Keju, langit biru, buku-buku."

Perempuan itu sungguh berhenti mengunyah, lebih tepatnya karena terperangah. Cerdas, batinnya. Tiga hal yang menjadi favoritnya sekaligus digumamkan oleh laki-laki di hadapannya. Dengan berusaha biasa saja, berpura-pura tidak takjub, perempuan itu kembali asyik mengunyah.

Rasa kantuk mulai menyerbunya. Apa-apa yang memenuhi pangkuannya, dirapikannya kembali Perempuan itu akhirnya tertidur. Pulas. Tak menyadari bahwa biru langit mulai berpendar.

Tik. Tik. Tik. Laju kereta melambat bersamaan dengan kaca jendela yang mulai dihuni titik-titik air hujan. Hanya gerimis. Perempuan itu terbangun, mengucek-ngucek kedua matanya.

Belum hilang kantuknya, kembali laki-laki di hadapannya membuatnya terperangah.

23/04/21

#1 Dalam Perjalanan Pulang

Source: Tumblr

Perempuan itu memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit di ruang tunggu kereta. Memikirkan nasib surat-surat yang ia pajang di blog pribadinya, juga nasib rasa malu yang kian mengakar. ‘’Ah..’’ racaunya, tidak jelas.

Perempuan itu merasa malu dengan surat-surat yang dibuatnya, surat cinta katanya, surat-surat yang entah untuk siapa. Sesiapa sajalah, batinnya. Terdengar putus asa, tapi sebenarnya tidak juga. Ia yakin di suatu tempat, surat-suratnya itu mendapatkan balasan, tetapi balasan yang tidak pernah sampai kembali padanya.

Jika saja tak diterimanya kabar bahwa neneknya sudah dua hari tidak kunjung bangun dari tidurnya, mungkin sekarang ia sedang bersiap “kencan” dengan teman perempuannya di rumah makan seafood yang tersembunyi di daerah Jalan Sudirman, belakang circle-K lampu merah.

“Ah..” lagi-lagi. Masih dengan tertunduk sembari memegang kepala.

Malu kembali menyeringai. Menceritakan kriteria pasangan dan dibaca orang-orang yang tidak bisa ia tebak isi kepalanya adalah perkara nyaris bunuh diri. Bagaimana jika ada laki-laki yang mungkin membuatnya tertarik, lantas mundur teratur karena tulisannya. Bukan cerdas yang seperti itu yang ia maksud. Maksudnya adalah, cerdas karena mau berpikir, mau belajar, mau duduk bersama-sama untuk diskusi. Sebenarnya ini perkara soal; ia merasa bukan perempuan yang pintar, sering salah menangkap maksud, terlalu polos kalau kata orang, memberi perintah padanya harus detail karena kalau tidak, otaknya tidak mampu mencerna, loading istilahnya. Maka, bermimpi bisa hidup bersama laki-laki yang cerdas menjadi pengharapannya. Tanpa agar supaya. Selain, melengkapi kekurangannya.