![]() |
| Source: Tumblr |
Sore
di teras rumah. Bunda baru selesai menyapu halaman, Mentari keluar hendak
menyapa Bunda dan langit. Duduk bersama Bunda di teras rumah saat sore hari
adalah keberkahan bagi Mentari. Masih di dunia yang sama, menatap langit yang
sama, membahas hal-hal yang perlu dibahas.
“Neng,
kamu jadi terima tawaran Bu Eka untuk ngajar di sekolah miliknya yang di Bogor?”
“Kayaknya belum bisa, Bunda."
Belum,
bukan belum bisa, tapi belum siap. Belum siap bertemu cinta pertama. Entah
cinta atau bukan, pertama atau bukan, Mentari tidak siap kalau harus tinggal
satu kota dengan orang itu.
"Ayah
pengen ada salah satu anaknya yang ngurus rumah di Bogor. Kalau kamu mau, nanti
abang kamu juga pindah ke Bogor dari Jakarta. Jadi, kamu ada yang
menemani."
Mentari
nampak berpikir.
Kalau orang itu tahu Mentari tinggal di Bogor
juga, bagaimana? Apakah orang itu mau bertemu dengannya? Kalau nanti dia bertemu
orang itu dengan tidak sengaja, bagaimana?
Ah,
dasar Mentari. Padahal Bogor itu luas. Walau kalau takdirnya bertemu, pasti
akan bertemu. Kalau tidak, ya tidak.
Terus kalau ketemu, saya harus gimana? Harus
ngomong apa? Terus apakah saya harus bertemu untuk sekedar menguji debaran di
jantung saya? Ah, gimana..
Terus kalau hati saya belum siap, tapi kedua
kaki saya oke-oke saja, lalu kalau tiba-tiba saya sudah berada di depan
rumahnya, gimana?
Tapi
Mentari tahu kalau dia tidak seberani itu. Tidak akan.
"Mentari."
Panggil Bunda. Lamunannya buyar.
"Di
Bandung masih banyak yang perlu Mentari urus, Bun.. Mentari minta maaf,
ya."
Bunda mengangguk.




