Hari itu sebab berhalangan saya menunggu di selasar masjid.
Dengan buku terbuka dalam genggam saya dan sebotol minuman
teh rasa markisa di samping saya.
Sayup-sayup suara azan mulai terdengar bersamaan dengan
riuhnya langkah kaki-kaki kecil menuju masjid.
Dengan postur tinggi yang berbeda-beda mereka bercengkrama
memasuki area masjid.
Entahlah, anak-anak itu membicarakan apa.
Bukan karena saya tak begitu pandai berbahasa jawa.
Tetapi, saya lebih tertarik mendengar suara azan.
Begitu terdengar iqamah, tak terlihat lagi anak-anak itu di
selasar.
Mereka telah masuk ke dalam bersatu dengan jamaah lainnya.
Hening. Hanya suara imam. Dan samar-samar suara kendaraan
dari kejauhan.
Ternyata masih ada anak-anak baik.
Baik karena mau tertib mengikuti jamaah. Baik karena sudah
mau ke masjid.
Meski setelah salam, kembali saya mendengar gurauan dan
canda tawa mereka.
Seketika selasar ramai kembali dengan aksi kejar-kejaran
mereka.
Dan saya hanya bisa tersenyum,
“Bacaan saya sudah sampai halaman berapa tadi, ya?”
Piyungan, Yogyakarta, 16 Februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar