25/02/18

Goresan


Benar memang membahagiakan saat kita bisa berbagi hal-hal baik dan menyenangkan dengan orang lain, lebih-lebih jika mereka orang-orang yang disayangi. Hanya, bagaimana kasusnya saat kita tiba di kondisi paling buruk? Keadaan yang melampaui kecemasan, kesedihan, ketakutan, kekecewaan yang bisa kita bayangkan, yang dapat orang lain (kita pikir) mengerti? Benar, naluriahnya, hal paling aman dan nyaman utuk dilakukan saat tiba pada denting keadaan yang demikian adalah menutup pintu, mengambil waktu, untuk diri sendiri, membereskan hal-hal yang kita rasa berantakan, yang kita pikir bisa kita kerjakan sendiri toh hidup kan hidup kita, mestikah ikut membuat repot orang tersayang, orang-orang yang selalu ingin kita bahagiakan?

Pernyataan tersebut tidak salah, tapi juga agak keliru.

Tidak ada cara lain untuk menggenggam tangan seseorang – menjadi sahabat, menjadi saudara – selain dengan membukakan ia pintu dan membiarkannya masuk ke dalam hidup kita.

Kau pun tahu letak kelirumu di situ. Lubang besar yang akan terbaca oleh orang yang mengaku kau sayangi itu, orang yang kau sebut ingin lindungi itu, sebagai ketakpercayaanmu atas mereka. Tentang keluasan pikirannya untuk memahami, kebesaran hatinya untuk menampung luka yang lain, juga daya dari kemampuan ia bertahan.

Jika benar, kemungkinan paling perih yang telah kau beri pada orang-yang mengaku-ngaku-kausayangi tersebut, adalah meragukannya. Lubang dalam yang juga akan menjatuhkan ia ke dalam pikiran buruk bahwa bisa saja luka-luka yang mereka punya bukan pula sesuatu yang ingin kau tanggung. Paradoks yang sungguh. (Azure Azalea dalam buku Perjalanan Menemukan, halaman 30-32)

Huft. Saya menghela nafas panjang dengan kejadian hari ini.

Berkali-kali saya mencerna kembali sebuah quote yang terpampang dalam wallpaper ponsel saya,

“Hidup ini terlalu singkat, untuk mengejar sesuatu selain surga.”

Hidup ini terlalu singkat, untuk meributkan hal kecil, memikirkan hal yang menyakiti diri sendiri.

Masih, masih ada yang mengganjal di hati saya. Tidak tahu juga luka baru macam apa yang timbul akibat goresan yang tak bisa saya pahami.

Saya penasaran, jika orang yang mencintai saya tahu karakter saya yang sebenarnya, dalam arti berbeda dengan yang selama ini ia kira, masihkan ia mencintai saya? Atau memilih pergi?

Mampukah ia memahami dan menerima saya?

Ah, penolakan memang selalu sakit.

Tetapi lebih sakit lagi berpura-pura mencintai.

Berpura-pura bahagia.

Tak apa, kejujuran kadang menyakitkan, sekaligus melegakan.

Tetapi, kali ini ceritanya ia sembunyikan.

Bagaimana bisa kau menyembunyikan kisahmu dari orang yang paling mungkin untuk kau percaya?!

Cuaca terik tak menyurutkan niat saya untuk memberi minum si black, motor saya.

Sementara mengantri isi bensin, seorang kakek terduduk kelelahan dengan mata terpejam dan tangan mendekap erat tumpukan koran jualannya.

Deg. Satu sayatan tajam lagi menggores hati saya! Kali ini lebih berdarah dari goresan sebelumnya!

Saya tidak mengenal kakek tua ini, yang saya tahu kakek ini tengah kelelahan, sehabis menjajakan koran jualannya di siang bolong yang mataharinya tanpa ampun sangat bersemangat menyinari dunia. Matanya terpejam. Tiba-tiba sekelebat wajah kakung muncul di benak saya, menambah lebar sayatan yang hanya sekali menggores barusan.

Terkadang kisah orang lain lebih mampu membuat tangis dibandingkan kisah kita sendiri.

“Korannya berapaan, Kek?”
“Yang mana, Mbak? Yang ini dua ribu, yang ini tiga ribu, yang ini empat ribu.”

MasyaaAllah! Kakek ini masih mampu menjawab saya dengan suara begitu lembut dan ramah di tengah keletihannya mencari rezeki.

Ah, malu pada diri sendiri yang selama ini juteknya minta ampun!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar