21/02/18

Kepercayaan



Terkadang saya takut untuk mengendarai sepeda motor, bukan karena saya tidak berani membawanya, tetapi saya terlalu khawatir dengan banyak hal buruk yang bisa terjadi di jalanan. Terlalu banyak kecelakaan yang saya lihat di depan mata saya sendiri, tetapi saya butuh untuk mengendarai motor, secara cepat tentunya. Sebab saya selalu merasa dikejar oleh waktu, selalu merasa bahwa 24 jam dalam sehari sangatlah kurang. Kalau sudah melihat suatu kecelakaan, saya biasanya panik sendiri dan pengen nangis. Sepertinya saya lebih mudah menangis karena hal sepele; diklakson kekencangan atau waktu nonton film. Ah, rasanya sudah lama tidak menangis. Terakhir kali menangis sesenggukan waktu nonton film. Padahal filmnya film detektif. Kapan-kapan saya review, deh. Maaf ya, saya sudah jarang review buku atau film, sebab saya akan benar-benar share jika filmnya sudah lolos sensor dari saya, hehe. Saya tidak mau share, sebagus apapun jalan ceritanya tetapi kalau secara visual ada adegan yang tak lolos sensor dari saya, saya tidak mau share itu. Begitu juga dengan buku, tetapi saya sulit mengendalikan diskusi buku itu sendiri jika kalian ngobrol secara langsung dengan saya. Sebab, kebanyakan buku-buku yang jalan ceritanya menarik terkadang diselipkan hal-hal yang tak lolos sensor dari saya itu. Saya menyayangkan satu hal ini. Toh jikapun bagian itu dihilangkan, cerita dalam buku itu masih tetap menarik, kok.

Kembali pada judul; kepercayaan. Di sisi lain, saya teringat teman-teman saya yang tidak membawa sepeda motor. Mereka tidak diberi ijin oleh orangtuanya untuk membawa sepeda motor. Bukan karena mereka diantar jemput oleh orangtua mereka dan terkesan dilayani bak putri, tetapi kekhawatiran orangtua mereka terhadap mereka sangat besar, bukan berarti orangtua saya tidak mempunyai rasa khawatir terhadap diri saya. Ayah saya termasuk orang yang tidak tahan melihat kecelakaan atau hal-hal mengerikan lainnya, paling tidak suka kalau saya menceritakan hal-hal mistis dan horror, dipikirnya nanti saya akan menjadi anak yang penakut kalau suka dan penasaran dengan hal-hal horror, maka dari itu setiap kali bertemu, saya senang memancing beliau dengan cerita-cerita seram supaya beliau mengerti bahwa saya tidak tumbuh menjadi anak yang penakut.

Lupa-lupa ingat, ayah saya pernah mengatakan bahwa perempuan itu tidak boleh sampai lecet. Makanya kalau jatuh dan terluka harus segera diobati. Kembali pada rasa khawatir tadi, saya tegaskan dalam diri saya bahwa saya tidak boleh menjadi orang penakut tetapi juga tidak boleh sombong saat di jalan atau dimanapun. Saya harus menepis rasa cemas dan panik saya saat berada di jalan. Sebab saya butuh untuk berkendara, saya punya banyak urusan di berbagai tempat, saya harus bisa mengatur waktu saya! payahnya tiap kali melihat kecelakaan, seperti ada yang menciut.

Sebelum tiba waktu untuk merantau, saya pun merasa diperlakukan bak tuan putri oleh ayah saya. Sampai tamat SMA, setiap berangkat sekolah saya diantar oleh ayah saya. Bukan hanya ke sekolah, tetapi pergi les, jalan ke mall, ke kafe menghadiri pesta ulangtahun, dan lain sebagainya, di waktu-waktu itu saya diantar oleh ayah saya.

Kemudian teringat betapa besar kepercayaan yang orangtua saya berikan kepada saya dengan melepas saya merantau ke kota orang, melepas saya berkendara sendirian di jalan, melepas saya dengan penuh banyak harapan dan doa keselamatan.

 Jika kepercayaan orangtua saya terhadap saya saja begitu besar, lantas mengapa saya tak memberi rasa kepercayaan yang jauh lebih besar juga terhadap diri saya sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar