Terkadang saya
takut untuk mengendarai sepeda motor, bukan karena saya tidak berani
membawanya, tetapi saya terlalu khawatir dengan banyak hal buruk yang bisa terjadi
di jalanan. Terlalu banyak kecelakaan yang saya lihat di depan mata saya
sendiri, tetapi saya butuh untuk mengendarai motor, secara cepat tentunya.
Sebab saya selalu merasa dikejar oleh waktu, selalu merasa bahwa 24 jam dalam
sehari sangatlah kurang. Kalau sudah melihat suatu kecelakaan, saya biasanya
panik sendiri dan pengen nangis. Sepertinya saya lebih mudah menangis karena
hal sepele; diklakson kekencangan atau waktu nonton film. Ah, rasanya sudah
lama tidak menangis. Terakhir kali menangis sesenggukan waktu nonton film. Padahal
filmnya film detektif. Kapan-kapan saya review, deh. Maaf ya, saya sudah jarang
review buku atau film, sebab saya akan benar-benar share jika filmnya sudah
lolos sensor dari saya, hehe. Saya tidak mau share, sebagus apapun jalan
ceritanya tetapi kalau secara visual ada adegan yang tak lolos sensor dari saya,
saya tidak mau share itu. Begitu juga dengan buku, tetapi saya sulit
mengendalikan diskusi buku itu sendiri jika kalian ngobrol secara langsung
dengan saya. Sebab, kebanyakan buku-buku yang jalan ceritanya menarik terkadang
diselipkan hal-hal yang tak lolos sensor dari saya itu. Saya menyayangkan satu
hal ini. Toh jikapun bagian itu dihilangkan, cerita dalam buku itu masih tetap
menarik, kok.
Kembali pada
judul; kepercayaan. Di sisi lain, saya teringat teman-teman saya yang tidak
membawa sepeda motor. Mereka tidak diberi ijin oleh orangtuanya untuk membawa
sepeda motor. Bukan karena mereka diantar jemput oleh orangtua mereka dan
terkesan dilayani bak putri, tetapi kekhawatiran orangtua mereka terhadap
mereka sangat besar, bukan berarti orangtua saya tidak mempunyai rasa khawatir
terhadap diri saya. Ayah saya termasuk orang yang tidak tahan melihat
kecelakaan atau hal-hal mengerikan lainnya, paling tidak suka kalau saya
menceritakan hal-hal mistis dan horror, dipikirnya nanti saya akan menjadi anak
yang penakut kalau suka dan penasaran dengan hal-hal horror, maka dari itu
setiap kali bertemu, saya senang memancing beliau dengan cerita-cerita seram
supaya beliau mengerti bahwa saya tidak tumbuh menjadi anak yang penakut.
Lupa-lupa ingat,
ayah saya pernah mengatakan bahwa perempuan itu tidak boleh sampai lecet.
Makanya kalau jatuh dan terluka harus segera diobati. Kembali pada rasa
khawatir tadi, saya tegaskan dalam diri saya bahwa saya tidak boleh menjadi
orang penakut tetapi juga tidak boleh sombong saat di jalan atau dimanapun.
Saya harus menepis rasa cemas dan panik saya saat berada di jalan. Sebab saya
butuh untuk berkendara, saya punya banyak urusan di berbagai tempat, saya harus
bisa mengatur waktu saya! payahnya tiap kali melihat kecelakaan, seperti ada
yang menciut.
Sebelum tiba
waktu untuk merantau, saya pun merasa diperlakukan bak tuan putri oleh ayah
saya. Sampai tamat SMA, setiap berangkat sekolah saya diantar oleh ayah saya. Bukan
hanya ke sekolah, tetapi pergi les, jalan ke mall, ke kafe menghadiri pesta
ulangtahun, dan lain sebagainya, di waktu-waktu itu saya diantar oleh ayah
saya.
Kemudian
teringat betapa besar kepercayaan yang orangtua saya berikan kepada saya dengan
melepas saya merantau ke kota orang, melepas saya berkendara sendirian di
jalan, melepas saya dengan penuh banyak harapan dan doa keselamatan.
Jika kepercayaan orangtua saya terhadap saya
saja begitu besar, lantas mengapa saya tak memberi rasa kepercayaan yang jauh
lebih besar juga terhadap diri saya sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar