Hari-hari
sibuk dan hari-hari membosankan serasa seimbang,
Kesibukan yang
terjadi sesungguhnya hanya ada dalam isi pikiran,
Pikiran ini
sungguh awul-awulan, untung saja isi pikiran tidak bisa dilihat langsung oleh
kedua mata,
Bayangkan saja
jika bisa, betapa depresinya mata kita,
Aku bergegas
turun ke lantai Satu,
Mengambil mesin
yang lengkap dengan gas dan rem itu,
Menuju angkringan
di sebelah sekolah mewah yang anehnya terletak di lorong jalan yang sempit,
Sesampainya di
angkringan lalu bertanya, “Sate kerang, keong atau ususnya masih ada, Pak?”
Destinasi lainnya
boleh jadi aku malah menuju ke arah Tugu Yogyakarta,
Bila ini
tentang masa lalu, aku sering berhenti duduk-duduk di sebelah tenggara tugu,
Bukan untuk
numpang baca buku di perpustakaan jalanan kala itu,
Hanya saja
lebih tertariik pada sesi diskusi masalah-masalah sosial yang terjadi pada
waktu itu,
dan
ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang nongkrong di situ,
Kalau masih belum
puas, aku bisa menepi lagi,
Di depan
gerobak wedang ronde,
Minuman
kesukaanku sejak dulu hingga kini,
Tak usah
diragukan lagi, nikmat disantap kala malam dingin,
Tentu saja itu
semua mampu kulakukan jika covid-19 ini tak menghadang jalanku,
Sayangnya sudah
sebulan ini aku di rumah saja, menjalani rutinitas yang sepertinya hanya
itu-itu saja,
Aku sudah
kehabisan akal untuk mengisi hari-hariku,
Mungkin aku
akan membuat sesuatu yang baru lagi, semacam podcast yag bisa dinikmati lewat
berbagai platform, salah satunya Spotify,
Tunggu tanggal
mainnya dan tak masalah juga jika kau tak mau menunggu!
Bandung, 17 April 2020
Pernah menangis karena kebosanan,
Lalu berbicara tegas pada diri sendiri,
“Suatu saat akan kubayar semua rasa bosan ini!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar