28/04/20

#AprilProduktifDay28 : Perempuan Bernama Shofura


Dikisahkan ada dua wanita tengah menambatkan ternak mereka. Tak jauh dari keduanya, ada sebuah sumber air yang dikerumuni para penggembala. Dengan penuh rasa sabar, dua wanita itu menunggu sumber air tersebut sepi dari penggembala pria. Kedua perempuan merupakan kakak beradik, sang adik bernama Shofura dan sang kakak bernama Layya. Kisah keduanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena ke’iffahan mereka sebagai wanita, ‘iffah adalah penjagaan diri. Kedua wanita tersebut memiliki sifat ‘Iffah sehingga enggan berikhtilath atau bercampur baur dengan para pria.


Allah bahkan berfirman mengisahkan keduanya, “Tatkala Musa sampai di sebuah sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka. Dan dia mendapati di belakang mereka dua wanita yang sedang berusaha menghambat ternak mereka (supaya tidak maju ke mata air).” (QS. Al Qashash: 23).


Nabi Musa yang melihat hal itu heran dan mendatangi keduanya seraya bertanya, “Kenapa kalian berdua (dengan perbuatan tersebut)?” Shofura dan Layya menjawab, “Kami tidak memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka, sementara ayah kami adalah orangtua yang sudah lanjut usia’.”


Akhirnya, Nabi Musa pun memutuskan untuk menolong kedua wanita itu dengan mengambil ternak mereka dan membawanya ke sumber air untuk bisa minum sepuasnya. Setelah itu, Nabi Musa mengembalikkan ternak tersebut agar kembali digiring dua wanita itu. Nabi Musa kemudian pergi tanpa berbicara. Layya, tak merasa momen itu spesial, namun apa yang dirasakan Shofura berbeda. Shofura sangat tersentuh dengan bantuan Nabi Musa. Begitu tiba di rumah, Shofura langsung menceritakan sosok pria yang membantunya itu kepada sang ayah dengan harapan ayahnya akan membalas kebaikan pria tersebut.


Seperti yang diceritakan dalam Al-Qur’an, “Wahai Ayahanda, jadikanlah dia orang yang bekerja kepada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang bisa Ayah pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).


Setelah berbicara cukup panjang, sang ayah menyetujui untuk mempekerjakan Musa. Ia kemudian meminta Shofura untuk memanggil pria tersebut. Shofura bergegas mencari Nabi Musa dan membuatnya terpesona. Ketika di hadapan Nabi Musa, Shofura pun berjalan malu-malu dan menutup wajah dengan lengan jubahnya.


Al-Qur’an kembali bercerita, “Kemudian datanglah salah satu dari kedua wanita tadi kepada Musa, yang dia berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami’.” (QS. Al Qashash: 25).


Berjalanlah keduanya untuk menuju kediaman Shofura. Jarak antara mata air dan rumahnya yang sekitar tiga mil itu cukup membuat wanita dan pria tersebut terfitnah satu sama lain jika jalan berdua. Namun, keduanya memang manusia pilihan yang memiliki keimanan dan kesalehan yang kuat. Shofura merupakan wanita ‘iffah yang menjaga dirinya, begitu juga dengan Musa, calon utusan-Nya.


Akhirnya, Shofura berjalan terlebih dahulu agar Musa berjalan jauh di belakangnya. Namun kemudian karena Nabi Musa takut terfitnah jika melihat wanita di hadapannya, ia pun lantas berkata, “Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya, lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa mengambil arah dengannya.” Namun riwayat lain juga menyebutkan bahwa Nabi Musa berkata kepada Shofura, “Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani, tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke kanan atau ke kiri.”


Cara tersebut membuat keduanya berjalan tanpa berduaan dan jauh dari fitnah. Usai bertemu dan bercakap-cakap dengan ayah Shofura, ayah perempuan tersebut kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qashash: 27)


Nabi Musa pun menerima tawaran itu dan menikahi Shofura. Sebuah kisah cinta yang sederhana, tapi amat menyentuh. Kesalehaan Shofura membawanya kepada jodoh terbaiknya, yakni Nabi Musa ‘Alaihissalam.


Rosmayani Nor Latifah dalam blognya juga menuliskan tentang betapa menyentuhnya kisah Shofura yang memiliki sifat ‘iffah ini.


Adalah Shofura yang menjauh dari antrian para penggembala lelaki saat hendak memberikan minum ternak-ternaknya. Shofura beserta Laya saudara perempuannya rela menepi menunggu antrian penggembala lelaki memuaskan dahaga ternak mereka. Hingga tiba saat Nabi Musa as mewakilkan antrian mereka.


Adalah Shofura yang berjalan dengan malu dan berkata-kata singkat sesuai pesan Bapaknya untuk mengundang Nabi Musa as kerumahnya sebagai balasan pertolongan yang telah dilakukan Nabi Musa as.


Adalah Shofura yang ketika mengantarkan Nabi Musa as, ia berjalan di belakang Nabi Musa as. Kerikil demi kerikil ia lemparkan sebagai penunjuk jalan tanpa menggunakan kata-kata demi menjaga lisannya dari fitnah.


Adalah Shofura perempuan mulia nan bersifat malu inilah yang telah menjadi perantara atas jawaban do'a Nabi Musa, juga dikemudian hari menjadi istri Sang Nabi.


Terima kasih Shofura, Engkau telah mengajarkan kami bagaimana selayaknya perempuan memiliki rasa malu dalam bersikap.


Semoga di dunia ini masih banyak Shofura-Shofura yang lainnya. :)



Bandung, 28 April 2020

Kisah Shofura, semoga bisa menjadi pelajaran berharga!



Referensi:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar