Dikisahkan ada dua wanita tengah menambatkan ternak mereka. Tak jauh dari
keduanya, ada sebuah sumber air yang dikerumuni para penggembala. Dengan penuh
rasa sabar, dua wanita itu menunggu sumber air tersebut sepi dari penggembala
pria. Kedua perempuan merupakan kakak beradik, sang adik bernama Shofura dan sang
kakak bernama Layya. Kisah keduanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena ke’iffahan
mereka sebagai wanita, ‘iffah adalah penjagaan diri. Kedua wanita tersebut
memiliki sifat ‘Iffah sehingga enggan berikhtilath atau bercampur baur dengan
para pria.
Allah bahkan berfirman
mengisahkan keduanya, “Tatkala Musa sampai di sebuah sumber air negeri Madyan,
dia menjumpai di sana sekelompok orang yang sedang memberi minum ternak mereka.
Dan dia mendapati di belakang mereka dua wanita yang sedang berusaha menghambat
ternak mereka (supaya tidak maju ke mata air).” (QS. Al Qashash: 23).
Nabi Musa yang
melihat hal itu heran dan mendatangi keduanya seraya bertanya, “Kenapa kalian
berdua (dengan perbuatan tersebut)?” Shofura dan Layya menjawab, “Kami tidak
memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak
mereka, sementara ayah kami adalah orangtua yang sudah lanjut usia’.”
Akhirnya,
Nabi Musa pun memutuskan untuk menolong kedua wanita itu dengan mengambil
ternak mereka dan membawanya ke sumber air untuk bisa minum sepuasnya. Setelah
itu, Nabi Musa mengembalikkan ternak tersebut agar kembali digiring dua wanita
itu. Nabi Musa kemudian pergi tanpa berbicara. Layya, tak merasa momen itu
spesial, namun apa yang dirasakan Shofura berbeda. Shofura sangat tersentuh
dengan bantuan Nabi Musa. Begitu tiba di rumah, Shofura langsung menceritakan
sosok pria yang membantunya itu kepada sang ayah dengan harapan ayahnya akan membalas
kebaikan pria tersebut.
Seperti yang
diceritakan dalam Al-Qur’an, “Wahai Ayahanda, jadikanlah dia orang yang bekerja
kepada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang bisa Ayah
pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).
Setelah berbicara
cukup panjang, sang ayah menyetujui untuk mempekerjakan Musa. Ia kemudian
meminta Shofura untuk memanggil pria tersebut. Shofura bergegas mencari Nabi
Musa dan membuatnya terpesona. Ketika di hadapan Nabi Musa, Shofura pun
berjalan malu-malu dan menutup wajah dengan lengan jubahnya.
Al-Qur’an
kembali bercerita, “Kemudian datanglah salah satu dari kedua wanita tadi kepada
Musa, yang dia berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku
memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami’.” (QS. Al
Qashash: 25).
Berjalanlah keduanya untuk menuju kediaman Shofura. Jarak antara mata air dan rumahnya yang sekitar tiga mil itu cukup membuat wanita dan pria tersebut terfitnah satu sama lain jika jalan berdua. Namun, keduanya memang manusia pilihan yang memiliki keimanan dan kesalehan yang kuat. Shofura merupakan wanita ‘iffah yang menjaga dirinya, begitu juga dengan Musa, calon utusan-Nya.
Akhirnya, Shofura
berjalan terlebih dahulu agar Musa berjalan jauh di belakangnya. Namun kemudian
karena Nabi Musa takut terfitnah jika melihat wanita di hadapannya, ia pun
lantas berkata, “Berjalanlah di belakangku. Kalau aku menjauh dari jalan yang seharusnya,
lemparkanlah kerikil kepadaku agar aku mengetahui jalan yang benar dan bisa
mengambil arah dengannya.” Namun riwayat lain juga menyebutkan bahwa Nabi Musa
berkata kepada Shofura, “Berjalanlah di belakangku. Aku ini laki-laki Ibrani,
tidak boleh menatap bagian belakang perempuan. Tunjukkan kepadaku jalan, ke
kanan atau ke kiri.”
Cara tersebut
membuat keduanya berjalan tanpa berduaan dan jauh dari fitnah. Usai bertemu dan
bercakap-cakap dengan ayah Shofura, ayah perempuan tersebut kemudian berkata
kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari
kedua putriku ini, atas dasar engkau bersedia bekerja kepadaku selama delapan
tahun. Apabila engkau menyempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikan
darimu. Aku tidak ingin memberatimu. Dan engkau, insya Allah, akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang baik.” (QS. Al Qashash: 27)
Nabi Musa pun
menerima tawaran itu dan menikahi Shofura. Sebuah kisah cinta yang sederhana,
tapi amat menyentuh. Kesalehaan Shofura membawanya kepada jodoh terbaiknya,
yakni Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Rosmayani Nor
Latifah dalam blognya juga menuliskan tentang betapa menyentuhnya kisah Shofura
yang memiliki sifat ‘iffah ini.
Adalah Shofura yang menjauh dari
antrian para penggembala lelaki saat hendak memberikan minum ternak-ternaknya.
Shofura beserta Laya saudara perempuannya rela menepi menunggu antrian
penggembala lelaki memuaskan dahaga ternak mereka. Hingga tiba saat Nabi Musa
as mewakilkan antrian mereka.
Adalah Shofura yang berjalan dengan
malu dan berkata-kata singkat sesuai pesan Bapaknya untuk mengundang Nabi Musa
as kerumahnya sebagai balasan pertolongan yang telah dilakukan Nabi Musa as.
Adalah Shofura yang ketika
mengantarkan Nabi Musa as, ia berjalan di belakang Nabi Musa as. Kerikil demi
kerikil ia lemparkan sebagai penunjuk jalan tanpa menggunakan kata-kata demi
menjaga lisannya dari fitnah.
Adalah Shofura perempuan mulia nan
bersifat malu inilah yang telah menjadi perantara atas jawaban do'a Nabi Musa,
juga dikemudian hari menjadi istri Sang Nabi.
Terima kasih Shofura, Engkau telah
mengajarkan kami bagaimana selayaknya perempuan memiliki rasa malu dalam
bersikap.
Semoga di
dunia ini masih banyak Shofura-Shofura yang lainnya. :)
Bandung,
28 April 2020
Kisah
Shofura, semoga bisa menjadi pelajaran berharga!
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar