( Pict from : www.larasatinesa.com )
Hari selo yang cukup panjang ini
mungkin cocok kujadikan waktu untuk bersantai bersama diri sendiri. Terik
mentari di Yogyakarta mengantarkanku pada warung es krim Tempo Gelato. Berbekal
satu buku bacaan dan buku agenda dalam tasku, segera kulangkahkan kakiku masuk
lalu berdiri sebentar mengamati sekitar kemudian memutuskan untuk memesan es
krim matcha tea campur dark chocolate.
Saat itu Tempo Gelato cukup ramai
karena memang pilihan yang tepat untuk berkunjung ke sini di kala siang terik
seperti ini. Kebanyakan pelanggan adalah keluarga dan anak-anak muda yang
kuperkirakan sebaya denganku. Seorang gadis duduk seorang diri di bangku dekat
jendela dengan sebuah buku di tangannya tiba-tiba menarik perhatianku. Ia sama
sepertiku, datang dan makan es krim sendirian sambil membaca buku yang
dibawanya, atau barangkali dia menunggu seseorang datang?
Hatiku mengatakan bahwa ia
sepertinya tidak sedang menunggu siapa-siapa karena pandangannya fokus pada es
krim dan bukunya, tidak seperti orang yang gelisah karena menunggu seseorang.
“Permisi, Mbak. Di sini kosong?” tanyaku dengan hati-hati, khawatir
mengganggunya.
“Eh, iya, silahkan..” jawabnya
dengan cepat.
Aku duduk di bangku kosong yang
berada di depannya. Kusadari, ia sempat agak lama menatap ke arahku. Sementara
aku pura-pura sibuk dengan es krimku.
“Lho, kamu Diara, bukan?”
Aku menoleh ke arahnya dan sempat
terkejut. Siapa perempuan dihadapanku ini?
“Iya, maaf, apa kita pernah
bertemu?”
“Ya ampun, ini aku, Chika..”
jawabnya menyebut namanya dengan berbinar-binar seakan masih tidak percaya bisa
bertemu denganku di sini. Otakku berputar dan tak kalah kagetnya aku melihat
Chika yang aku kenal dulu kini berada di hadapanku dengan penampilan yang
berbeda.
“Lho, kamu Chika teman SMA-ku? Chika
Wardhani?”
Gadis di hadapanku itu
mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. Kemudian, kami sama-sama saling
berdiri dan berpelukan, orang-orang sempat menatap heran ke arah kami.
“Sudah lama ya, Chika..”
Ia masih mengangguk-angguk tanpa
berkata apa-apa, tetapi mata dan senyumnya masih melebar.
Tak kusangka hari itu aku bertemu dengan
teman lamaku, Chika, perempuan penyabar yang cantik dan cukup pendiam, namun
memiliki banyak prestasi. Berbeda denganku yang sudah mengenakan jilbab sejak
dulu, Chika yang saat duduk di bangku sekolah belum sama sekali menggunakan
jilbab, kini aku melihat jilbab telah rapi dikenakannya di kepala, menutupi
seluruh rambutnya, menyisakan wajah cantiknya saja. Meskipun penampilannya
belum begitu syar’I tetapi ini sudah membuatku cukup terkejut dengan
perubahannya. Saat di sekolah dulu, selain dikenal karena parasnya yang cantik
dan prestasinya, ia dikenal pula dengan tubuh tingginya yang bak model akan
tetapi tak pernah satupun lomba fashion
show diikutinya karena karakter pemalu yang sudah melekat dalam dirinya.
“Mungkin lebih baik Arlita atau
Miranda saja yang mewakili sekolah.” Begitu katanya tiap kali ditawari untuk
mewakili sekolah dalam lomba fashion show.
Siang itu menjadi siang yang lebih
panjang dari yang aku pikirkan. Kami mengobrol banyak hal dari mulai pertanyaan
mengapa ia ada di Tempo Gelato Yogyakarta sampai saling bertanya tentang kabar
diri masing-masing. Menurut pengakuannya, ia baru saja pulang dari pekerjaannya
di Banyuwangi bersama keempat orang temannya yang mana sebagai tim kerjanya.
Usai dari Banyuwangi, ia menyempatkan diri berlibur ke Yogyakarta bersama tim
kerjanya itu. “Sekarang mereka lagi belanja macam-macam, aku bilang aku nggak mau ikut belanja, so I want to spend my time di sini saja,
menikmati Yogyakarta sambil menyantap es krim dan membaca buku yang aku suka.”
Jalan pikirannya masih seperti dulu,
kadang tak terduga dan beda dari yang lain. Bukankah justru orang-orang datang
ke Yogyakata tak pernah melewatkan waktu untuk berbelanja? Belanja oleh-oleh,
misalnya.
Obrolan kami pun sampai pada titik
mengenai status diri masing-masing. “Jadi, apa pria itu akan segera melamar kamu?”
tanyanya padaku usai kuceritakan padanya tentang pria dengan sejuta pengorbanan
untukku.
“Belum tahu.” Jawabku sambil
malu-malu. Karena tak ingin ditodong sendirian, kutanya balik padanya. “Jadi,
kamu dan Niko, bagaimana?” Mendadak Chika merubah posisi duduknya yang kupikir
itu adalah respon terkejutnya atas pertanyaan yang kuajukan.
“Kamu tahu Niko?”
“Bagaimana aku nggak tahu kalau dia selalu ada di story instagram kamu.”
Chika menghela nafas sambik nyengir.
“Oalah. Nggak ada yang aneh dengan story
instagram-ku. Niko dan aku sudah sepuluh tahun lebih bersahabat. Niko itu sahabatku,
anak asli dari betawi yang kalau ngomong bisa nggak nyablak, anaknya santun. Aku suka banget kalau mendengar dia sudah bicara, suaranya bagus, dia juga
punya cara bicara yang tertata jadi dia emang cocok banget jadi pembawa acara seperti pekerjaan sampingannya saat ini.”
“Dia punya pekerjaan lain juga?”
“Iya, dia seperti punya otak kanan
dan kiri yang seimbang, dia itu jago IPA tetapi bagiku dia juga seorang
seniman, jago main teater dan dia juga guru ekskul teater di salah satu sekolah
swasta di Jakarta. Dia juga orangnya energic,
senang belajar apa-apa, makanya dia bisa main gitar, main basket, sampai mimpin
banyak organisasi, mulai dari OSIS waktu jaman sekolah sampai jadi ketua
karangtaruna di tempat tinggalnya. Pertemanannya luas, dia kenal banyak orang
hebat, mungkin karena karakter dia yang supel dan dia punya cara berkomunikasi
yang baik dengan orang lain. Sangat berbeda jauh dengan aku yang begitu
tertutup dan menarik diri dari orang-orang.”
“Wah, tapi sepertinya kamu mulai
sedikit berubah, yah. Sekarang kamu lebih bisa banyak berbicara dan mengekspresikan
pendapat kamu.”
“Mungkin aku jadi seperti ini karena
Niko juga. Hal lain yang amat membuatku bisa bersahabat selama ini dengannya because he treated me so well. Dia
selalu membangga-banggakan aku di depan teman-temannya, dia membuka circle pertemannya padaku, dia
membiarkan aku untuk berteman dengan teman-temannya juga. Niko sangat sopan dan
terbuka padaku, dia menceritakan banyak hal dan selalu mengatakan hal yang
baik-baik padaku.”
“Bagaimana dengan keluarganya?”
“Tentu saja dia berasal dari keluarga
yang baik-baik, ibunya beberapa kali mengajakku berlibur bersama keluarganya.
Saat itu, aku melihat keharmonisan keluarganya. Niko sangat dekat dengan
keluarganya, dia tipe laki-laki yang sangat menghargai perempuan-perempuan yang
ada di hidupnya, aku melihat bagaimana cara dia berbicara apada nenek dan
ibunya, bercanda dengan adik-adiknya, atau membantu ayahnya.”
“Lalu, apa lagi yang membuat kamu
ragu? Apa ini berhubungan dengan ibadahnya?”
“Nggak,
menurut aku, dia seorang yang taat beribadah. Bahkan aku juga baru tahu kalau
dia seorang pejuang subuh, dia memang tidak pernah menceritakan soal ibadahnya,
tapi pernah suatu hari dia bertanya padaku apakah ayahku sedang ada di Depok?
Aku terkejut karena aku nggak cerita
apapun soal itu padanya. Saat itu, aku tahu ayahku memang sedang ada kerjaan di
Depok dan menginap di sebuah wisma yang letaknya memang nggak jauh dari rumah Niko. Kamu tahu darimana? Kutanya begitu
padanya, lalu dia menjawab bahwa dia melihat seseorang yang mirip dengan ayahku
saat shalat subuh di masjid tadi pagi. Entah kebetulan Niko juga ke masjid
untuk shalat subuh tadi pagi atau bisa jadi memang setiap pagi ia shalat subuh
di masjid. Aku nggak bertanya lebih
lanjut tentang ibadahnya itu, tapi aku yakin Niko memang sebaik itu.”
“Lalu kenapa kamu nggak menikah saja dengan dia kalau cocok?”
“Karena dia punya lima ratus playlist lagu di handphone-nya.” Jawabnya sambil tertawa manis. Sementara aku
kebingungan. “Sekarang, aku sedang dalam masa ingin mengurangi mendengarkan
lagu-lagu yang mungkin liriknya kurang berfaedah. Pandangan kita boleh berbeda,
tetapi ini salah satu hal yang ingin kucoba jalani dalam perjalanan hijrahku.”
Tambahnya menjelaskan. Aku masih tidak mengerti.
“Tetapi, bukannya itu hanya lagu?
Hal kecil dan amat biasa?” tanyaku seolah aku sedang membela Niko.
“Justru karena itu hal kecil dan aku
nggak bisa bertoleransi dengan itu,
aku pikir bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar lainnya, ini akan menjadi
sulit karena hal kecil seperti lagu saja adalah keseharian, kebiasaan, yang
kupikir aku nggak akan bisa merubah
hal itu dalam hidupnya. Kamu mau tahu apa yang penting dari suatu pernikahan? Bukan
sekedar karakter, fisik, kesehatan, dan finansial dari pasangan semata, tetapi
kamu harus menemukan seseorang yang mempunyai visi misi pernikahan yang jelas
dan sejalan denganmu.” Aku sedikit tertawa mendengarnya, meskipun apa yang
dikatakannya ada benarnya juga.
“Kenapa malah membicarakan
pernikahan? Apa dalam waktu dekat ini kamu akan menikah? Maksud aku, kamu
termasuk yang setuju dengan pernikahan dengan usia muda seperti kita ini?”
“Hey, umur kita ini bukan lagi
terbilang muda untuk menikah, tetapi sudah cukup.” Bantahnya.
“Kamu tahu, kamu sangat cerdas dan
berprestasi, kuharap kamu bisa temukan seseorang yang bervisi misi yang jelas
seperti yang kamu katakan sehingga karirmu tetap bisa terarah. Akan sayang banget kalau kamu cepat-cepat menikah
dan pasanganmu banyak melarangmu soal ini dan itu. “
“Iya tentu saja kita harus temukan
dulu pasangan yang juga mempunyai visi misi yang jelas. Apapun nanti yang aku
jalani, pernikahanan adalah gerbang awal untuk melanggengkan kebaikan. Aku
pernah mendengar dari seorang pembicara seminar bahwa usia manusia pada umumnya
hanya berkisar 60-65 tahun saja, waktu sesedikit itu nggak akan cukup untuk melanggengkan kebaikan. Maka dari itu,
menikah adalah salah satu jalan untuk mencetak generasi yang lebih berkualitas
untuk memperbaiki peradaban. Ini adalah titik poin kita untuk melipatgandakan
cita-cita!” serunya dengan yakin.
“Jadi, kamu akan tetap bersahabat
saja dengan Niko?”
“Iya, meskipun aku dalam proses
mengeliminasi circle pertemananku
dengan laki-laki, mungkin Niko kujadikan pengecualian. Seperti juga kata Jerome
Pollin, intinya meskipun cocok banget sekalipun,
bukan berarti harus berakhir jadi pasangan, kan? Aku sudah merasa cukup
beruntung untuk menjadi sahabatnya dan akan selalu seperti itu.” Ujarnya sambil
tersenyum.
Tiba-tba dari arah pintu masuk
terlihat seorang pria yang wajahnya tak asing masuk ke dalam Tempo Gelato.
“Chik, yuk! Manda dan yang lainnya
sudah nunggu di mobil. Aku tadi nelpon kamu dari luar tapi nggak kamu angkat-angkat, ternyata kamu lagi ngobrol, ya.” Pria itu
menatapku dan Chika secara bergantian. Chika sedikit terkejut dengan kedatangan
pria itu secara mendadak.
“Oh, iya. Sorry, handphone aku di-silent,
aku nggak ngecek handphone juga. Kamu sudah belanjanya?”
“Sudah, kok. Kasihan kamu kalau
harus nunggu kita lama-lama.”
“Oh iya, Niko, kenalkan ini Diara,
teman sekolah aku dulu, nggak nyangka
ketemu dia di sini.”
“Oh, ya. Hallo Diara, aku Niko.” Rupanya
benar dia adalah Niko, wajahnya tak asing karena aku sering melihatnya di story instagram Chika.
Niko mengulurkan tangannya
mengajakku berkenalan dengan ramah, namun aku mengulurkan tanganku sedikit
berjauhan karena kami bukan mahram. “Halo,
aku Diara.” Melihat hal itu, Niko ikut menarik tangannya dengan sopan pertanda
ia memahami gelagat lawan bicaranya.
Chika dan Niko akhirnya berpamitan
untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka. Mataku memperhatikan keduanya
hingga hilang di balik pintu mobil di luar. Aku menghela nafas, mungkin memang
benar lima ratus playlist lagu di handphone Niko menjadi alasan Chika ragu
terhadap pria itu untuk menjalani hidup dalam satu visi misi yang sama, namun di
sisi lain mungkin cincin di jari manis Niko juga memperjelas hal lain bahwa Niko
telah menemukan gadis lain yang menjadi tambatan hatinya dan bukan Chika
orangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar