16/04/20

#SebuahCerpen : Lima Ratus Playlist Lagu


( Pict from : www.larasatinesa.com )

Hari selo yang cukup panjang ini mungkin cocok kujadikan waktu untuk bersantai bersama diri sendiri. Terik mentari di Yogyakarta mengantarkanku pada warung es krim Tempo Gelato. Berbekal satu buku bacaan dan buku agenda dalam tasku, segera kulangkahkan kakiku masuk lalu berdiri sebentar mengamati sekitar kemudian memutuskan untuk memesan es krim matcha tea campur dark chocolate.

Saat itu Tempo Gelato cukup ramai karena memang pilihan yang tepat untuk berkunjung ke sini di kala siang terik seperti ini. Kebanyakan pelanggan adalah keluarga dan anak-anak muda yang kuperkirakan sebaya denganku. Seorang gadis duduk seorang diri di bangku dekat jendela dengan sebuah buku di tangannya tiba-tiba menarik perhatianku. Ia sama sepertiku, datang dan makan es krim sendirian sambil membaca buku yang dibawanya, atau barangkali dia menunggu seseorang datang?

Hatiku mengatakan bahwa ia sepertinya tidak sedang menunggu siapa-siapa karena pandangannya fokus pada es krim dan bukunya, tidak seperti orang yang gelisah karena menunggu seseorang.

“Permisi, Mbak. Di sini kosong?” tanyaku dengan hati-hati, khawatir mengganggunya.

“Eh, iya, silahkan..” jawabnya dengan cepat.

Aku duduk di bangku kosong yang berada di depannya. Kusadari, ia sempat agak lama menatap ke arahku. Sementara aku pura-pura sibuk dengan es krimku.

“Lho, kamu Diara, bukan?”

Aku menoleh ke arahnya dan sempat terkejut. Siapa perempuan dihadapanku ini?

“Iya, maaf, apa kita pernah bertemu?”

“Ya ampun, ini aku, Chika..” jawabnya menyebut namanya dengan berbinar-binar seakan masih tidak percaya bisa bertemu denganku di sini. Otakku berputar dan tak kalah kagetnya aku melihat Chika yang aku kenal dulu kini berada di hadapanku dengan penampilan yang berbeda.

“Lho, kamu Chika teman SMA-ku? Chika Wardhani?”

Gadis di hadapanku itu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. Kemudian, kami sama-sama saling berdiri dan berpelukan, orang-orang sempat menatap heran ke arah kami.

“Sudah lama ya, Chika..”

Ia masih mengangguk-angguk tanpa berkata apa-apa, tetapi mata dan senyumnya masih melebar.

Tak kusangka hari itu aku bertemu dengan teman lamaku, Chika, perempuan penyabar yang cantik dan cukup pendiam, namun memiliki banyak prestasi. Berbeda denganku yang sudah mengenakan jilbab sejak dulu, Chika yang saat duduk di bangku sekolah belum sama sekali menggunakan jilbab, kini aku melihat jilbab telah rapi dikenakannya di kepala, menutupi seluruh rambutnya, menyisakan wajah cantiknya saja. Meskipun penampilannya belum begitu syar’I tetapi ini sudah membuatku cukup terkejut dengan perubahannya. Saat di sekolah dulu, selain dikenal karena parasnya yang cantik dan prestasinya, ia dikenal pula dengan tubuh tingginya yang bak model akan tetapi tak pernah satupun lomba fashion show diikutinya karena karakter pemalu yang sudah melekat dalam dirinya.

“Mungkin lebih baik Arlita atau Miranda saja yang mewakili sekolah.” Begitu katanya tiap kali ditawari untuk mewakili sekolah dalam lomba fashion show.

Siang itu menjadi siang yang lebih panjang dari yang aku pikirkan. Kami mengobrol banyak hal dari mulai pertanyaan mengapa ia ada di Tempo Gelato Yogyakarta sampai saling bertanya tentang kabar diri masing-masing. Menurut pengakuannya, ia baru saja pulang dari pekerjaannya di Banyuwangi bersama keempat orang temannya yang mana sebagai tim kerjanya. Usai dari Banyuwangi, ia menyempatkan diri berlibur ke Yogyakarta bersama tim kerjanya itu. “Sekarang mereka lagi belanja macam-macam, aku bilang aku nggak mau ikut belanja, so I want to spend my time di sini saja, menikmati Yogyakarta sambil menyantap es krim dan membaca buku yang aku suka.”

Jalan pikirannya masih seperti dulu, kadang tak terduga dan beda dari yang lain. Bukankah justru orang-orang datang ke Yogyakata tak pernah melewatkan waktu untuk berbelanja? Belanja oleh-oleh, misalnya.

Obrolan kami pun sampai pada titik mengenai status diri masing-masing. “Jadi, apa pria itu akan segera melamar kamu?” tanyanya padaku usai kuceritakan padanya tentang pria dengan sejuta pengorbanan untukku.

“Belum tahu.” Jawabku sambil malu-malu. Karena tak ingin ditodong sendirian, kutanya balik padanya. “Jadi, kamu dan Niko, bagaimana?” Mendadak Chika merubah posisi duduknya yang kupikir itu adalah respon terkejutnya atas pertanyaan yang kuajukan.

“Kamu tahu Niko?”

“Bagaimana aku nggak tahu kalau dia selalu ada di story instagram kamu.”

Chika menghela nafas sambik nyengir.

“Oalah. Nggak ada yang aneh dengan story instagram-ku. Niko dan aku sudah sepuluh tahun lebih bersahabat. Niko itu sahabatku, anak asli dari betawi yang kalau ngomong bisa nggak nyablak, anaknya santun. Aku suka banget kalau mendengar dia sudah bicara, suaranya bagus, dia juga punya cara bicara yang tertata jadi dia emang cocok banget jadi pembawa acara seperti pekerjaan sampingannya saat ini.”

“Dia punya pekerjaan lain juga?”

“Iya, dia seperti punya otak kanan dan kiri yang seimbang, dia itu jago IPA tetapi bagiku dia juga seorang seniman, jago main teater dan dia juga guru ekskul teater di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Dia juga orangnya energic, senang belajar apa-apa, makanya dia bisa main gitar, main basket, sampai mimpin banyak organisasi, mulai dari OSIS waktu jaman sekolah sampai jadi ketua karangtaruna di tempat tinggalnya. Pertemanannya luas, dia kenal banyak orang hebat, mungkin karena karakter dia yang supel dan dia punya cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Sangat berbeda jauh dengan aku yang begitu tertutup dan menarik diri dari orang-orang.”

“Wah, tapi sepertinya kamu mulai sedikit berubah, yah. Sekarang kamu lebih bisa banyak berbicara dan mengekspresikan pendapat kamu.”

“Mungkin aku jadi seperti ini karena Niko juga. Hal lain yang amat membuatku bisa bersahabat selama ini dengannya because he treated me so well. Dia selalu membangga-banggakan aku di depan teman-temannya, dia membuka circle pertemannya padaku, dia membiarkan aku untuk berteman dengan teman-temannya juga. Niko sangat sopan dan terbuka padaku, dia menceritakan banyak hal dan selalu mengatakan hal yang baik-baik padaku.”

“Bagaimana dengan keluarganya?”

“Tentu saja dia berasal dari keluarga yang baik-baik, ibunya beberapa kali mengajakku berlibur bersama keluarganya. Saat itu, aku melihat keharmonisan keluarganya. Niko sangat dekat dengan keluarganya, dia tipe laki-laki yang sangat menghargai perempuan-perempuan yang ada di hidupnya, aku melihat bagaimana cara dia berbicara apada nenek dan ibunya, bercanda dengan adik-adiknya, atau membantu ayahnya.”

“Lalu, apa lagi yang membuat kamu ragu? Apa ini berhubungan dengan ibadahnya?”

Nggak, menurut aku, dia seorang yang taat beribadah. Bahkan aku juga baru tahu kalau dia seorang pejuang subuh, dia memang tidak pernah menceritakan soal ibadahnya, tapi pernah suatu hari dia bertanya padaku apakah ayahku sedang ada di Depok? Aku terkejut karena aku nggak cerita apapun soal itu padanya. Saat itu, aku tahu ayahku memang sedang ada kerjaan di Depok dan menginap di sebuah wisma yang letaknya memang nggak jauh dari rumah Niko. Kamu tahu darimana? Kutanya begitu padanya, lalu dia menjawab bahwa dia melihat seseorang yang mirip dengan ayahku saat shalat subuh di masjid tadi pagi. Entah kebetulan Niko juga ke masjid untuk shalat subuh tadi pagi atau bisa jadi memang setiap pagi ia shalat subuh di masjid. Aku nggak bertanya lebih lanjut tentang ibadahnya itu, tapi aku yakin Niko memang sebaik itu.”

“Lalu kenapa kamu nggak menikah saja dengan dia kalau cocok?”

“Karena dia punya lima ratus playlist lagu di handphone-nya.” Jawabnya sambil tertawa manis. Sementara aku kebingungan. “Sekarang, aku sedang dalam masa ingin mengurangi mendengarkan lagu-lagu yang mungkin liriknya kurang berfaedah. Pandangan kita boleh berbeda, tetapi ini salah satu hal yang ingin kucoba jalani dalam perjalanan hijrahku.” Tambahnya menjelaskan. Aku masih tidak mengerti.

“Tetapi, bukannya itu hanya lagu? Hal kecil dan amat biasa?” tanyaku seolah aku sedang membela Niko.

“Justru karena itu hal kecil dan aku nggak bisa bertoleransi dengan itu, aku pikir bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar lainnya, ini akan menjadi sulit karena hal kecil seperti lagu saja adalah keseharian, kebiasaan, yang kupikir aku nggak akan bisa merubah hal itu dalam hidupnya. Kamu mau tahu apa yang penting dari suatu pernikahan? Bukan sekedar karakter, fisik, kesehatan, dan finansial dari pasangan semata, tetapi kamu harus menemukan seseorang yang mempunyai visi misi pernikahan yang jelas dan sejalan denganmu.” Aku sedikit tertawa mendengarnya, meskipun apa yang dikatakannya ada benarnya juga.

“Kenapa malah membicarakan pernikahan? Apa dalam waktu dekat ini kamu akan menikah? Maksud aku, kamu termasuk yang setuju dengan pernikahan dengan usia muda seperti kita ini?”

“Hey, umur kita ini bukan lagi terbilang muda untuk menikah, tetapi sudah cukup.” Bantahnya.

“Kamu tahu, kamu sangat cerdas dan berprestasi, kuharap kamu bisa temukan seseorang yang bervisi misi yang jelas seperti yang kamu katakan sehingga karirmu tetap bisa terarah. Akan sayang banget kalau kamu cepat-cepat menikah dan pasanganmu banyak melarangmu soal ini dan itu. “

“Iya tentu saja kita harus temukan dulu pasangan yang juga mempunyai visi misi yang jelas. Apapun nanti yang aku jalani, pernikahanan adalah gerbang awal untuk melanggengkan kebaikan. Aku pernah mendengar dari seorang pembicara seminar bahwa usia manusia pada umumnya hanya berkisar 60-65 tahun saja, waktu sesedikit itu nggak akan cukup untuk melanggengkan kebaikan. Maka dari itu, menikah adalah salah satu jalan untuk mencetak generasi yang lebih berkualitas untuk memperbaiki peradaban. Ini adalah titik poin kita untuk melipatgandakan cita-cita!” serunya dengan yakin.

“Jadi, kamu akan tetap bersahabat saja dengan Niko?”

“Iya, meskipun aku dalam proses mengeliminasi circle pertemananku dengan laki-laki, mungkin Niko kujadikan pengecualian. Seperti juga kata Jerome Pollin, intinya meskipun cocok banget sekalipun, bukan berarti harus berakhir jadi pasangan, kan? Aku sudah merasa cukup beruntung untuk menjadi sahabatnya dan akan selalu seperti itu.” Ujarnya sambil tersenyum.

Tiba-tba dari arah pintu masuk terlihat seorang pria yang wajahnya tak asing masuk ke dalam Tempo Gelato.

“Chik, yuk! Manda dan yang lainnya sudah nunggu di mobil. Aku tadi nelpon kamu dari luar tapi nggak kamu angkat-angkat, ternyata kamu lagi ngobrol, ya.” Pria itu menatapku dan Chika secara bergantian. Chika sedikit terkejut dengan kedatangan pria itu secara mendadak.

“Oh, iya. Sorry, handphone aku di-silent, aku nggak ngecek handphone juga. Kamu sudah belanjanya?”

“Sudah, kok. Kasihan kamu kalau harus nunggu kita lama-lama.”

“Oh iya, Niko, kenalkan ini Diara, teman sekolah aku dulu, nggak nyangka ketemu dia di sini.”

“Oh, ya. Hallo Diara, aku Niko.” Rupanya benar dia adalah Niko, wajahnya tak asing karena aku sering melihatnya di story instagram Chika.

Niko mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan dengan ramah, namun aku mengulurkan tanganku sedikit berjauhan karena kami bukan mahram. “Halo, aku Diara.” Melihat hal itu, Niko ikut menarik tangannya dengan sopan pertanda ia memahami gelagat lawan bicaranya.

Chika dan Niko akhirnya berpamitan untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka. Mataku memperhatikan keduanya hingga hilang di balik pintu mobil di luar. Aku menghela nafas, mungkin memang benar lima ratus playlist lagu di handphone Niko menjadi alasan Chika ragu terhadap pria itu untuk menjalani hidup dalam satu visi misi yang sama, namun di sisi lain mungkin cincin di jari manis Niko juga memperjelas hal lain bahwa Niko telah menemukan gadis lain yang menjadi tambatan hatinya dan bukan Chika orangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar