Mengajar di desa
Ngadirejo, pedalaman Bromo, menjadi proudest moment in 2017 yang tidak bisa
saya lupakan, ketika bertemu dengan anak-anak desa Ngadirejo yang sangat
antusias dan punya semangat tinggi untuk sekolah, mereka rela menempuh jarak yang
cukup jauh untuk bersekolah, diantara mereka juga banyak yang berjalan kaki
untuk ke sekolah.
This became one of the
proud moments because not everyone has a chance to come there. Berbagi waktu yang dimiliki dengan orang-orang
di desa Ngadirejo, utamanya anak-anak yang senang saat diajak bermain sambil
belajar. Mereka adalah anak-anak yang penuh semangat. Kalau boleh jujur, ini
sangat berbeda ketika saya mengajar anak-anak yang tinggal di kota, mereka
terus menerus merengek minta pulang.
Pagi itu kami
masih menikmati sunrise yang luarbiasa dari ketinggian desa Ngadirejo. Sunrise yang
dinikmati di tengah-tengah berbagai macam kebun dan langit yang mulai membiru. Samar-samar
dari jauh terlihat anak-anak kecil berseragam menuju arah sekolah padahal saat
itu masih pukul enam pagi, sementara jam masuk mereka adalah jam delapan pagi. Anak-anak
perempuan di sana memiliki wajah yang cantik-cantik dan anak-anak laki-laki di
sana memiliki bakat main voli yang luarbiasa. Selain itu, pada minggu paginya,
anak-anak di sana membantu orangtuanya. Saya sempat melihat seorang anak yang
sibuk bolak-balik memikul dua keranjang anyaman bambu yang penuh terisi dengan
rerumputan, padahal anak tersebut masih sangat kecil.
Kami tinggal di
rumah-rumah warga. Mereka menjamu kami dengan sangat baik dan ramah. Memasakkan
makanan untuk kami, ada juga yang setiap pagi menggoreng singkong hasil bumi
sendiri dan membuatkan teh manis. Selain itu, mereka juga berbaik hati memasakkan
air panas untuk mandi kami dan menyalakan perapian di dalam rumah karena mereka
tahu bahwa kami kedinginan. Awal sampai di sana, saya sempat alergi dengan
udara yang mendadak berubah menjadi dingin sekali.
Di desa tersebut,
saya juga mendapat banyak sekali pelajaran dari pemuda bernama Akas Arif yang
perjuangannya untuk melanjutkan sekolah begitu mengharukan. Malam itu Akas Arif
tengah latihan semacam jatilan atau kuda lumping bersama teman-temannya. Mereka
adalah para pemuda pendaki yang ulung. Salah satu dari mereka ikut dalam crew syuting film 5 CM. Dirjo, nama
samarannya, ia menceritakan tentang saat-saat yang berat saat syuting film. Dirjo
juga bercerita tentang hal-hal mistis yang seringkali terjadi pada para pendaki
yang kesurupan bahkan tewas mengenaskan karena melanggar aturan.
Se-proud apapun
kami degan project ini, lebih proud lagi pada mereka yang membantu kami dari
belakang demi terlaksananya project ini dengan lancar. Terima kasih!
*Sumber gambar : Doc. Pribadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar