08/06/18

#MuslimahSinauProjectDay23 : Meet the Children Who Have Spirit to Study in Ngadirejo Village :)

Mengajar di desa Ngadirejo, pedalaman Bromo, menjadi proudest moment in 2017 yang tidak bisa saya lupakan, ketika bertemu dengan anak-anak desa Ngadirejo yang sangat antusias dan punya semangat tinggi untuk sekolah, mereka rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk bersekolah, diantara mereka juga banyak yang berjalan kaki untuk ke sekolah.

This became one of the proud moments because not everyone has a chance to come there. Berbagi waktu yang dimiliki dengan orang-orang di desa Ngadirejo, utamanya anak-anak yang senang saat diajak bermain sambil belajar. Mereka adalah anak-anak yang penuh semangat. Kalau boleh jujur, ini sangat berbeda ketika saya mengajar anak-anak yang tinggal di kota, mereka terus menerus merengek minta pulang.


Pagi itu kami masih menikmati sunrise yang luarbiasa dari ketinggian desa Ngadirejo. Sunrise yang dinikmati di tengah-tengah berbagai macam kebun dan langit yang mulai membiru. Samar-samar dari jauh terlihat anak-anak kecil berseragam menuju arah sekolah padahal saat itu masih pukul enam pagi, sementara jam masuk mereka adalah jam delapan pagi. Anak-anak perempuan di sana memiliki wajah yang cantik-cantik dan anak-anak laki-laki di sana memiliki bakat main voli yang luarbiasa. Selain itu, pada minggu paginya, anak-anak di sana membantu orangtuanya. Saya sempat melihat seorang anak yang sibuk bolak-balik memikul dua keranjang anyaman bambu yang penuh terisi dengan rerumputan, padahal anak tersebut masih sangat kecil.

Kami tinggal di rumah-rumah warga. Mereka menjamu kami dengan sangat baik dan ramah. Memasakkan makanan untuk kami, ada juga yang setiap pagi menggoreng singkong hasil bumi sendiri dan membuatkan teh manis. Selain itu, mereka juga berbaik hati memasakkan air panas untuk mandi kami dan menyalakan perapian di dalam rumah karena mereka tahu bahwa kami kedinginan. Awal sampai di sana, saya sempat alergi dengan udara yang mendadak berubah menjadi dingin sekali.

Di desa tersebut, saya juga mendapat banyak sekali pelajaran dari pemuda bernama Akas Arif yang perjuangannya untuk melanjutkan sekolah begitu mengharukan. Malam itu Akas Arif tengah latihan semacam jatilan atau kuda lumping bersama teman-temannya. Mereka adalah para pemuda pendaki yang ulung. Salah satu dari mereka ikut dalam crew syuting film 5 CM. Dirjo, nama samarannya, ia menceritakan tentang saat-saat yang berat saat syuting film. Dirjo juga bercerita tentang hal-hal mistis yang seringkali terjadi pada para pendaki yang kesurupan bahkan tewas mengenaskan karena melanggar aturan.

Se-proud apapun kami degan project ini, lebih proud lagi pada mereka yang membantu kami dari belakang demi terlaksananya project ini dengan lancar. Terima kasih!

*Sumber gambar : Doc. Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar