01/06/18

M y R a m a d h a n


Sumber gambar : Tumblr

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Ramadhan kali ini luarbiasa, sama seperti Ramadhan sebelumnya. Luarbiasa padat jadwal, padat yang terus bikin bersyukur. Tidak menyangka juga akan mampu untuk konsisten sampai hari ini untuk ikutan #1hari1tulisan, project yang diadakan oleh Muslimah Sinau. Di tengah UAS yang meresahkan, sampai harus ubek-ubek banyak tafsir, juga analisis film yang lama betul mikir mau analisis film apa soalnya kudu fim barat dan saya kebanyakan nontonnnya film dari Korea. Ampun lah saya, jika harus nonton film lagi di bulan puasa begini. Film barat pula. Akhirnya, untung masih ingat film barat terakhir yang saya tonton di bioskop dan karena bagus jadi berkesan hingga masih teringat dalam ingatan, film apa coba? Film dengan sedikit tokoh, tanpa dialog, bahkan penulis, sutradara dan pemainnya sama. Selain itu, juga pemeran suami istri dalam film ini adalah suami istri sungguhan di dunia nyata, serta pemain tunarungu dalam film ada lah tunarungu sungguhan dalam dunia nyata.  Yap, apa lagi kalau bukan film A Quiet Place, film horror yang tidak menakutkan tetapi malah sukses bikin saya mewek.

Karena begitu sibuk, sampai saya diledek teman seatap, “Sampai mau tidur laptopan, bangun tidur laptopan lagi. Lembur tiap hari.” inilah hidup. Mari kita jalani saja, seperti yang saya pernah katakan bahwa hari ini akan berlalu, masalahmu akan berlalu, seperti yang dikatakan Ustadz Nouman Ali Khan dalam ceramahnya, “Tidak ada masalah yang selamanya, tidak ada masalah yang permanen, karena apa? Karena kita ini tidak permanen. Kita akan kembali kepada pencipta kita, Allah SWT.”

Ramadhan kali ini jarang sekali buka di luar mungkin karena sudah terlalu lelah dan lebih memilih untuk pulang serta ingin menghindari macet di jam-jam buka di jalan. Bisa diihitung jarilah berapa kali saya buka puasa di luar, pertama, di masjid dekat kost teman. Ikut mereka yang anak kost dan rajin berhemat maka memilih buka di masjid demi kebagian takjil gratis. Kedua, buka bersama divisi komunitas, sekalian meeting, buka puasa di Lombok idjo bikin kangen sama keluarga karena yang buka di sana kebanyakan keluarga-keluarga besar dari buyut sampai cicit kemaren ada aja di sana. Tetapi saya tidak sedih dong, karena Ibu saya sudah mendarat di Jogja sejak kemaren, meski saya belum sempat menemuinya. Ramadhan kali ini juga Alhamdulillah launching series baru yang “minjem” nama saya itu sudah sold out dalam sehari, tidak menyangka dengan respon para customer. Jadilah banjir orderan. Perlu dikirim sebelum lebaran karena “Nina Series” akan dipakai untuk lebaran.

Kemaren, waktu bukber sama divisi, salah seorang bercerita soal kerjaannya, “Iya, aku lagi enggak banyak client. Clientnya ada, tapi enggak minta buru-buru. Bulan ramadhan kayaknya semua orang slow aja. Bulan ramadhan orang-orang cuma hidup buat kerja empat jam aja. Baru bangun jam sepuluh pagi, siap-siap, mandi, jam duabelas siang mereka baru beraktifitas, sampai jam empat sore mereka sudah siap-siap pulang untuk bukber. Habis bukber, taraweh, pulang taraweh tidur, bangun, sahur, tidur lagi sampai jam sepuluh pagi, udah gitu aja. Hidup buat kerjanya cuma empat jam.” Kalau dipikir-pikir saya kebalikannya. Saya jarang bisa tidur lagi habis subuh, kecuali kalau ketiduran sebentar. Lalu pergi ke kampus, pulang lagi biasanya menjelang Maghrib. Masih terus on matanya sampai jam duabelas malam lewat dikit. Setengah empat bangun lagi buat sahur. Untung-untung kalau bisa tidur siang di kost teman. It’s so tired, but I want to take a rest just in Jannah. No problem, if I have to tired in Dunya. I have so many things that I have to do that.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar