Sumber gambar : Tumblr
Alhamdulillah,
Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Ramadhan kali
ini luarbiasa, sama seperti Ramadhan sebelumnya. Luarbiasa padat jadwal, padat
yang terus bikin bersyukur. Tidak menyangka juga akan mampu untuk konsisten
sampai hari ini untuk ikutan #1hari1tulisan, project yang diadakan oleh
Muslimah Sinau. Di tengah UAS yang meresahkan, sampai harus ubek-ubek banyak
tafsir, juga analisis film yang lama betul mikir mau analisis film apa soalnya
kudu fim barat dan saya kebanyakan nontonnnya film dari Korea. Ampun lah saya,
jika harus nonton film lagi di bulan puasa begini. Film barat pula. Akhirnya, untung
masih ingat film barat terakhir yang saya tonton di bioskop dan karena bagus
jadi berkesan hingga masih teringat dalam ingatan, film apa coba? Film dengan
sedikit tokoh, tanpa dialog, bahkan penulis, sutradara dan pemainnya sama.
Selain itu, juga pemeran suami istri dalam film ini adalah suami istri
sungguhan di dunia nyata, serta pemain tunarungu dalam film ada lah tunarungu
sungguhan dalam dunia nyata. Yap, apa
lagi kalau bukan film A Quiet Place, film horror yang tidak menakutkan tetapi
malah sukses bikin saya mewek.
Karena begitu
sibuk, sampai saya diledek teman seatap, “Sampai mau tidur laptopan, bangun
tidur laptopan lagi. Lembur tiap hari.” inilah hidup. Mari kita jalani saja, seperti
yang saya pernah katakan bahwa hari ini akan berlalu, masalahmu akan berlalu,
seperti yang dikatakan Ustadz Nouman Ali Khan dalam ceramahnya, “Tidak ada
masalah yang selamanya, tidak ada masalah yang permanen, karena apa? Karena
kita ini tidak permanen. Kita akan kembali kepada pencipta kita, Allah SWT.”
Ramadhan kali
ini jarang sekali buka di luar mungkin karena sudah terlalu lelah dan lebih
memilih untuk pulang serta ingin menghindari macet di jam-jam buka di jalan.
Bisa diihitung jarilah berapa kali saya buka puasa di luar, pertama, di masjid
dekat kost teman. Ikut mereka yang anak kost dan rajin berhemat maka memilih
buka di masjid demi kebagian takjil gratis. Kedua, buka bersama divisi
komunitas, sekalian meeting, buka puasa di Lombok idjo bikin kangen sama keluarga
karena yang buka di sana kebanyakan keluarga-keluarga besar dari buyut sampai
cicit kemaren ada aja di sana. Tetapi saya tidak sedih dong, karena Ibu saya
sudah mendarat di Jogja sejak kemaren, meski saya belum sempat menemuinya. Ramadhan
kali ini juga Alhamdulillah launching series baru yang “minjem” nama saya itu
sudah sold out dalam sehari, tidak menyangka dengan respon para customer.
Jadilah banjir orderan. Perlu dikirim sebelum lebaran karena “Nina Series” akan
dipakai untuk lebaran.
Kemaren, waktu
bukber sama divisi, salah seorang bercerita soal kerjaannya, “Iya, aku lagi
enggak banyak client. Clientnya ada, tapi enggak minta buru-buru. Bulan
ramadhan kayaknya semua orang slow aja. Bulan ramadhan orang-orang cuma hidup
buat kerja empat jam aja. Baru bangun jam sepuluh pagi, siap-siap, mandi, jam
duabelas siang mereka baru beraktifitas, sampai jam empat sore mereka sudah
siap-siap pulang untuk bukber. Habis bukber, taraweh, pulang taraweh tidur,
bangun, sahur, tidur lagi sampai jam sepuluh pagi, udah gitu aja. Hidup buat
kerjanya cuma empat jam.” Kalau dipikir-pikir saya kebalikannya. Saya jarang
bisa tidur lagi habis subuh, kecuali kalau ketiduran sebentar. Lalu pergi ke
kampus, pulang lagi biasanya menjelang Maghrib. Masih terus on matanya sampai
jam duabelas malam lewat dikit. Setengah empat bangun lagi buat sahur.
Untung-untung kalau bisa tidur siang di kost teman. It’s so tired, but I want to take a rest just in Jannah. No problem, if
I have to tired in Dunya. I have so many things that I have to do that.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar