22/06/18

Yang Pertama Menjadi Seorang Ibu :)


Untuk:
Seseorang yang pernah menjadi teman sebangku selama bertahun-tahun.

Apa kabar? Kudengar kabar bahwa kau kini telah menggendong bayi yang menggemaskan dengan tampang rupawan, buah hati dari pernikahanmu dengan ia yang dijodohkan denganmu.

Mungkin awalnya terkejut saat lamaran itu rupanya ditujukan padamu. Kudengar pria itu adalah pria soleh yang bersekolah di Madinah, anak dari seorang tokoh. Tentu yang baik-baik terkenal dari pria itu apalagi keluarganya. Sungguh telah Allah takdirkan yang baik-baik hadir dalam hidupmu, semoga akupun adalah kebaikan yang sempat Allah kirimkan untukmu ketika kita berada dalam sepermainan yang sama pada kala dulu.

Persahabatan yang ditakdirkan karena kekonyolan mengidolakan orang yang sama. Luar biasa semangat remaja kita kala itu, berempat menabung untuk membeli buku biografi sang idola. Di sela-sela jam pelajaran yang kosong atau istirahat memutar musik yang sama-sama telah kita hafal liriknya. Setiap Jum’at naik angkot pergi ke mall menuju toko kaset untuk beli kaset horror, sebab orangtua tidak mau membagi filmnya karena usia kami masih dibawah 15 tahun. Pulang ke rumah di belokan Jalan Urip, yakni Jalan Perkebunan kalau tidak salah ingat, masuk ke kamar paling depan, menutup gorden, mematikan lampu, memutar film horror, masing-masing dari kita sibuk memeluk bantal. Sering pula filmnya zonk, tidak seru, karena memang kita ngasal pilih, tidak melihat trailernya. Sering pula macet-macet kasetnya di tengah jalan.

Kadang juga diselingi selfie-selfie-ria, yang untungnya salah satu dari kita selalu memiliki handphone keluaran terbaru sehingga sampai saat ini moment-moment itu masih tersimpan rapi dengan kualitas foto yang super pada zamannya.

Hei, siapa yang bakal mengira bahwa waktu mengubah segalanya. Takdir mengubah arah langkah kita, penampilan kita, jarak kita, berbagai halnya tentang kita berubah.

Hei, siapa yang menyangka bahwa kau yang kelak pertama kali menjadi seorang ibu diantara kita berempat, siapa yang menduga bahwa diantara kita akan ada yang menjadi ipar, Maha Besar Allah dengan segala takdir-Nya.

Seperti mereka yang berubah, kaupun hilang dari peradaban. Bolehkah aku bertanya, seperti apa kebahagiaan yang kau rasakan itu? Bisakah kita saling menyisihkan waktu dan mengobrol sebentar? Bernostalgia tentang yang baik-baik saja.

Aku yang sempat menjadi teman seperjuanganmupun tahu betul bagaimana kau pantas mendapatkan yang terbaik karena kau anak baik-baik. Tentu aku malu, tentu aku ingin menangis. Mungkin karakter kita tak jauh beda, sayangnya apa yang terjadi padamu berbeda dengan apa yang terjadi padaku. Banyak sekali keputusan-keputusan yang kita buat jauh berbeda. Mungkin juga karena kita datang dari latar keluarga, sosial, dan lain-lainnya yang berbeda, membuat aku begitu rapuh dibanding engkau. Membuat aku lebih menyesal, lebih ingin menangis, lebih ingin menghindar dari segala nostalgia yang buruk.

Terima kasih pernah memilih untuk duduk denganku di kelas, membagi pekerjaan rumah denganku, mempercayakan segenap rahasia pada telingaku. Terima kasih karena kehidupanmu kini begitu menginsiprasiku, semoga kau tak pernah menyesal pernah membagi waktu bersamaku. 



With Love,


Nina-mu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar