Untuk:
Seseorang yang
pernah menjadi teman sebangku selama bertahun-tahun.
Apa kabar?
Kudengar kabar bahwa kau kini telah menggendong bayi yang menggemaskan dengan
tampang rupawan, buah hati dari pernikahanmu dengan ia yang dijodohkan
denganmu.
Mungkin awalnya
terkejut saat lamaran itu rupanya ditujukan padamu. Kudengar pria itu adalah
pria soleh yang bersekolah di Madinah, anak dari seorang tokoh. Tentu yang
baik-baik terkenal dari pria itu apalagi keluarganya. Sungguh telah Allah takdirkan
yang baik-baik hadir dalam hidupmu, semoga akupun adalah kebaikan yang sempat
Allah kirimkan untukmu ketika kita berada dalam sepermainan yang sama pada kala
dulu.
Persahabatan
yang ditakdirkan karena kekonyolan mengidolakan orang yang sama. Luar biasa
semangat remaja kita kala itu, berempat menabung untuk membeli buku biografi
sang idola. Di sela-sela jam pelajaran yang kosong atau istirahat memutar musik
yang sama-sama telah kita hafal liriknya. Setiap Jum’at naik angkot pergi ke
mall menuju toko kaset untuk beli kaset horror, sebab orangtua tidak mau
membagi filmnya karena usia kami masih dibawah 15 tahun. Pulang ke rumah di
belokan Jalan Urip, yakni Jalan Perkebunan kalau tidak salah ingat, masuk ke
kamar paling depan, menutup gorden, mematikan lampu, memutar film horror,
masing-masing dari kita sibuk memeluk bantal. Sering pula filmnya zonk, tidak
seru, karena memang kita ngasal pilih, tidak melihat trailernya. Sering pula
macet-macet kasetnya di tengah jalan.
Kadang juga
diselingi selfie-selfie-ria, yang untungnya salah satu dari kita selalu
memiliki handphone keluaran terbaru sehingga sampai saat ini moment-moment itu masih
tersimpan rapi dengan kualitas foto yang super pada zamannya.
Hei, siapa yang
bakal mengira bahwa waktu mengubah segalanya. Takdir mengubah arah langkah
kita, penampilan kita, jarak kita, berbagai halnya tentang kita berubah.
Hei, siapa yang
menyangka bahwa kau yang kelak pertama kali menjadi seorang ibu diantara kita
berempat, siapa yang menduga bahwa diantara kita akan ada yang menjadi ipar,
Maha Besar Allah dengan segala takdir-Nya.
Seperti mereka
yang berubah, kaupun hilang dari peradaban. Bolehkah aku bertanya, seperti apa
kebahagiaan yang kau rasakan itu? Bisakah kita saling menyisihkan waktu dan
mengobrol sebentar? Bernostalgia tentang yang baik-baik saja.
Aku yang sempat
menjadi teman seperjuanganmupun tahu betul bagaimana kau pantas mendapatkan
yang terbaik karena kau anak baik-baik. Tentu aku malu, tentu aku ingin
menangis. Mungkin karakter kita tak jauh beda, sayangnya apa yang terjadi
padamu berbeda dengan apa yang terjadi padaku. Banyak sekali
keputusan-keputusan yang kita buat jauh berbeda. Mungkin juga karena kita
datang dari latar keluarga, sosial, dan lain-lainnya yang berbeda, membuat aku
begitu rapuh dibanding engkau. Membuat aku lebih menyesal, lebih ingin
menangis, lebih ingin menghindar dari segala nostalgia yang buruk.
Terima kasih
pernah memilih untuk duduk denganku di kelas, membagi pekerjaan rumah denganku,
mempercayakan segenap rahasia pada telingaku. Terima kasih karena kehidupanmu
kini begitu menginsiprasiku, semoga kau tak pernah menyesal pernah membagi
waktu bersamaku.
With Love,
Nina-mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar