Ayah
Kalau ditanya
siapa sosok paling menginsipirasi yang pernah saya temui dalam hidup saya?
Tentu kedua
orangtua saya. Sepasang kekasih yang begitu mengenal saya, begitu memahami
saya, begitu banyak mengajarkan hal-hal baik, begitu selalu saya terinspirasi dengan
sosok keduanya.
Namun, kala ini,
saya kembali menuliskan sosok ayah saya.
Ayah kecil
adalah seorang anak laki-laki yang tidak banyak bicara, namun selalu nyerocos
tentang pelajarannya di sekolah begitu pulang ke rumah. “Bukannya cuci tangan,
terus makan siang, tapi ayahmu itu terus saja cerita tentang pelajarannya di
sekolah.” Cerita nenek saya.
Ayah kecil
adalah seorang anak laki-laki yang senang membaca buku hingga menyebabkan di
usianya yang baru menginjak sembilan tahun harus sudah menggunakan kacamata.
Ayah remaja
adalah seorang anak laki-laki yang fokus dengan pendidikannya, tak pernah
sekalipun ia membawa kekasih ke rumah, tak seperti saudara-saudaranya yang
lain, begitu cerita nenek saya lagi.
Ayah remaja
adalah seorang anak laki-laki yang tak ingin mengecewakan orangtuanya. Semangat
bersekolahnya tinggi, hingga ia diterima di tempat kuliah bergengsi pada
zamannya bahkan hingga sekarang. Ya, Ayah diterima di STAN!
Ayah dewasa
adalah seorang anak laki-laki tanpa babibu. Begitu sederhananya Ayah jatuh
cinta pada Ibu dan melamarnya tanpa perlu banyak janji dan drama.
Ayah menjadi
Ayah adalah seorang anak laki-laki pekerja keras. Ayah berusaha untuk melakukan
yang terbaik dalam karirnya sebagai akuntan divisi investigasi. Ayah berkontribusi
terhadap masyarakat dengan menyelenggarakan berbagai acara bertajuk memberantas
korupsi. Acara tersebut kebanyakan dihadiri oleh anak-anak muda bangsa.
Ayah menjadi
Ayah adalah ia yang akan selalu bersikap jujur dan berhati-hati dalam
pekerjaannya saat begitu banyaknya mereka yang ingin menyuap Ayah demi
berubahnya angka anggaran dalam data yang ditemukan. Akan tetapi, Ayah tetap
berdiri di atas prinsip dan nuraninya.
Kisah Ayah terus
saja menginspirasiku untuk menuliskannya. Ayah adalah sosok laki-laki yang
senang berjuang dalam hal pendidikan, karir, maupun dalam rumah tangganya.
Waktu itu
melalui telepon ketika saya tidak lulus ujian, Ayah pernah bilang, “Ujian masuk perguruan tinggi, pekerjaan, gaji,
pangkat, lulus TOEFL, mewakili departemen untuk keluar negeri, segala
sertifikat internasional itu, semua itu hanya dunia. Kalau belum lulus ya tidak
apa-apa.”
Kalimat itu
sangat menenangkan. Ayah tak pernah menuntutku untuk berjuang sekeras
perjuangannya. Beliau membiarkanku untuk tenang dan berpesan padaku bahwa itu
semua hanya soal “mengejar dunia” yang bila belum tercapai, tidak apa-apa, ujarnya.
Ayah, sosok yang begitu menginspirasiku sepanjang masa!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar