Sumber gambar : My Gallery
Mungkin di luar
sana ada seseorang yang tulus ingin menjaga saya, ingin melindungi saya, ingin
membahagiakan saya, namun karena begitu tulusnya sampai ia pun tak berani
mengambil jarak yang begitu dekat dengan saya, bahkan ia menjauh sebisa mungkin
agar saya tak berdosa karena jarak yang bisa kapan saja melewati batas tanpa
masing-masing dari kita menyadarinya. Kita sudah lebih jauh sama-sama mengerti
bahwa ada jarak yang perlu kita jaga, ada waktu dimana rindu dibayar tuntas
temu, ada waktu berdoa lebih baik dari sapa, ada waktu dimana dunia merayakan
hari dimana kita beradu pandang bahagia.
Tentu kamu ingin
tahu, hal apa yang akan saya lakukan ketika down.
Setiap kali saya kacau dengan diri saya sendiri, saya menyingkir, mengasingkan
diri. Saya tidak boleh membuat kericuhan karena emosi saya, lingkungan tidak
perlu menyesuaikan diri dengan saya, saya lah yang harus pandai menyesuaikan
diri dengan lingkungan. Saya akan pergi keluar kota, tentu saja ke rumah simbah
uti kakung, dari kota Yogyakarta melewati Jalan Turi yang sangat saya sukai
menuju Magelang, dimana-mana ada pohon! Ada kebun salak, ada sawah, ada awan,
ada sunyi!
Selain itu, biasanya
saya akan menghubungi orangtua saya, tentu saja Ibu! Ibu yang paling betah berjam-jam
ditelepon, kalau teleponan dengan Ayah paling lama cuma lima menit, itupun
lebih banyak diamnya.
Lalu saya mulai
menangis begitu mendengar suara Ibu saya, menangis karena bersyukur meski Ibu
saya jauh di sana, saya masih bisa bercerita dengannya dan mendengar saran
serta nasehat darinya. Saat itu adalah titik dimana saya bisa bangkit kembali,
ketika mengingat banyaknya teman saya yang terpaksa tidak bisa mencurahkan
hatinya di depan orangtuanya dikarenakan beban orangtuanya sudah terlalu banyak
seperti beban finansial, salah seorang anggota keluarganya sakit keras yang sulit
sembuh, atau orangtuanya itu sendiri memiliki sakit yang cukup sulit dalam
penyembuhannya. Mereka mengajarkan saya untuk lebih bersyukur, di saat mungkin
saya jatuh sedalam-dalamnya, orangtua saya selalu siap untuk meletakkan kembali
mahkota saya di kepala, orangtua saya selalu siap memeluk saya di saat curahan
hati teman-teman saya tertahan di bibir, sementara saya bebas menangis di depan
ibu saya.
Suatu saat
keadaan akan berganti, orangtua saya tidak selamanya di sisi saya, tidak
selamanya mampu mendengar cerita saya, tidak selamanya sanggup menasehati saya,
saat-saat nanti semoga kamu yang namanya telah tercatat dalam takdir hidup
saya, mampu mendengar cerita saya berjam-jam bahkan berhari-hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga kita menua bersama,
hingga kita banyak lupa, tetapi jangan lupa bahwa kita selalu saling cinta dan sampai
bertemu di Surga, Sayang!

Ah, jadi minder
BalasHapusHaha Nina punya fans Anonim...
Hapuskenapaaa ki eeeeh :p
Hapus