24/05/18

#MuslimahSinauProjectDay9 : Telinga yang Mendengar dan Lengan yang Mendekap


Sumber gambar : My Gallery

Mungkin di luar sana ada seseorang yang tulus ingin menjaga saya, ingin melindungi saya, ingin membahagiakan saya, namun karena begitu tulusnya sampai ia pun tak berani mengambil jarak yang begitu dekat dengan saya, bahkan ia menjauh sebisa mungkin agar saya tak berdosa karena jarak yang bisa kapan saja melewati batas tanpa masing-masing dari kita menyadarinya. Kita sudah lebih jauh sama-sama mengerti bahwa ada jarak yang perlu kita jaga, ada waktu dimana rindu dibayar tuntas temu, ada waktu berdoa lebih baik dari sapa, ada waktu dimana dunia merayakan hari dimana kita beradu pandang bahagia.

Tentu kamu ingin tahu, hal apa yang akan saya lakukan ketika down. Setiap kali saya kacau dengan diri saya sendiri, saya menyingkir, mengasingkan diri. Saya tidak boleh membuat kericuhan karena emosi saya, lingkungan tidak perlu menyesuaikan diri dengan saya, saya lah yang harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saya akan pergi keluar kota, tentu saja ke rumah simbah uti kakung, dari kota Yogyakarta melewati Jalan Turi yang sangat saya sukai menuju Magelang, dimana-mana ada pohon! Ada kebun salak, ada sawah, ada awan, ada sunyi!

Selain itu, biasanya saya akan menghubungi orangtua saya, tentu saja Ibu! Ibu yang paling betah berjam-jam ditelepon, kalau teleponan dengan Ayah paling lama cuma lima menit, itupun lebih banyak diamnya.

Lalu saya mulai menangis begitu mendengar suara Ibu saya, menangis karena bersyukur meski Ibu saya jauh di sana, saya masih bisa bercerita dengannya dan mendengar saran serta nasehat darinya. Saat itu adalah titik dimana saya bisa bangkit kembali, ketika mengingat banyaknya teman saya yang terpaksa tidak bisa mencurahkan hatinya di depan orangtuanya dikarenakan beban orangtuanya sudah terlalu banyak seperti beban finansial, salah seorang anggota keluarganya sakit keras yang sulit sembuh, atau orangtuanya itu sendiri memiliki sakit yang cukup sulit dalam penyembuhannya. Mereka mengajarkan saya untuk lebih bersyukur, di saat mungkin saya jatuh sedalam-dalamnya, orangtua saya selalu siap untuk meletakkan kembali mahkota saya di kepala, orangtua saya selalu siap memeluk saya di saat curahan hati teman-teman saya tertahan di bibir, sementara saya bebas menangis di depan ibu saya.

Suatu saat keadaan akan berganti, orangtua saya tidak selamanya di sisi saya, tidak selamanya mampu mendengar cerita saya, tidak selamanya sanggup menasehati saya, saat-saat nanti semoga kamu yang namanya telah tercatat dalam takdir hidup saya, mampu mendengar cerita saya berjam-jam bahkan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga kita menua bersama, hingga kita banyak lupa, tetapi jangan lupa bahwa kita selalu saling cinta dan sampai bertemu di Surga, Sayang!

3 komentar: