16/05/18

#MuslimahSinauProjectDay1 : Jonathan, Pertemanan, dan Segala Kerinduan!

Sumber gambar: Google

Bercerita tentang teman non-muslim, akan selalu mengingatkan saya pada sosok Jonathan.

Kami bertemu pertama kali di sebuah bimbingan belajar saat berusia 12 tahun. Kami memang tinggal di perumahan yang sama hanya saja tidak mengenal satu sama lain. Saat itu, Jonathan datang dengan wajah malu-malu ditemani ibunya dan sekaleng susu beruang di tangannya. Hari itu, pelajaran matematika tentang FPB dan KPK dimulai dan Jonathan duduk sebangku dengan saya. Awalnya, sebagai seorang anak perempuan, saya merasa risih untuk duduk bersebelahan dengannya. Selain itu, pertama kali pula saya berjarak begitu dekat dengan teman yang seorang non-muslim. Namun, kami semua cepat mengakrabkan diri dengannya.

Hari-hari di bimbingan belajar itu semakin cepat berlalu, hingga kami lulus dari sekolah dasar. Saya berpisah dengan Jo dan teman-teman yang lain karena pindah rumah keluar kota. Sebagai anak kecil, saya belum paham bahwa perpisahan semenyedihkan itu.

Hari-hari di kota yang baru rupanya juga begitu cepat berlalu. Pada liburan di penghujung Sekolah Menengah Pertama, saya menyempatkan diri berlibur ke kota tempat tinggal lama saya. Rumah Jo tak kemana-mana, tetap di sana seperti beberapa tahun yang lalu. Bersama teman-teman yang lain, kami memanggil-manggil Jo dari luar rumah. Sepanjang malam kami berjalan-jalan mengitari perumahan diiringi obrolan-obrolan nostalgia yang sesekali mencipta gelak tawa.

Selepas itu, kami tak bertemu lagi untuk beberapa tahun lamanya hingga terdengar kabar bahwa ia melanjutkan kuliah di kota yang sama dengan saya, Yogyakarta!

Oleh karena Yogyakarta, teman-teman yang lain tertarik untuk merencanakan liburan bersama. Kami semua bertemu kembali di Yogyakarta. Bercerita sepanjang perjalanan menuju pantai, menggelar suasana piknik ala sendiri di pinggir pantai, mengeluarkan segala amunisi, mengambil gambar, berlari-lari, berpura-pura takut ombak, dan tertawa hingga letih.

Sudah selayaknya kami paham ada perbedaan yang begitu mendasar di antara kami, tetapi hal itu bukan alasan untuk kami berhenti berteman, bukan alasan untuk kami tak bisa menikmati suasana Yogyakarta bersama, bukan alasan kami untuk berhenti saling mencari dan merindukan.

Hai, Jo. Apa kabar? Kau mungkin sudah mendengar berita mengerikan di Surabaya tempo hari, bukan? 

Saya berharap, tak ada lagi korban berjatuhan.
Saya berharap, kamu tidak diliputi kecemasan.
Saya berharap, kamu tetap kamu yang setiap minggu pergi ke Gereja di ujung kota sana.
Saya tak pernah lupa saat kamu menceritakan tentang kekasihmu itu, yang kamu temui pertama kali saat beribadah di salah satu Gereja di kota ini.

Yogyakarta, 16 Mei 2018
Hari pertama Ramadhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar