Sumber
gambar: Google
Bercerita
tentang teman non-muslim, akan selalu mengingatkan saya pada sosok Jonathan.
Kami
bertemu pertama kali di sebuah bimbingan belajar saat berusia 12 tahun. Kami
memang tinggal di perumahan yang sama hanya saja tidak mengenal satu sama lain.
Saat itu, Jonathan datang dengan wajah malu-malu ditemani ibunya dan sekaleng
susu beruang di tangannya. Hari itu, pelajaran matematika tentang FPB dan KPK
dimulai dan Jonathan duduk sebangku dengan saya. Awalnya, sebagai seorang anak
perempuan, saya merasa risih untuk duduk bersebelahan dengannya. Selain itu,
pertama kali pula saya berjarak begitu dekat dengan teman yang seorang non-muslim.
Namun, kami semua cepat mengakrabkan diri dengannya.
Hari-hari
di bimbingan belajar itu semakin cepat berlalu, hingga kami lulus dari sekolah
dasar. Saya berpisah dengan Jo dan teman-teman yang lain karena pindah rumah
keluar kota. Sebagai anak kecil, saya belum paham bahwa perpisahan
semenyedihkan itu.
Hari-hari
di kota yang baru rupanya juga begitu cepat berlalu. Pada liburan di penghujung
Sekolah Menengah Pertama, saya menyempatkan diri berlibur ke kota tempat
tinggal lama saya. Rumah Jo tak kemana-mana, tetap di sana seperti beberapa
tahun yang lalu. Bersama teman-teman yang lain, kami memanggil-manggil Jo dari
luar rumah. Sepanjang malam kami berjalan-jalan mengitari perumahan diiringi
obrolan-obrolan nostalgia yang sesekali mencipta gelak tawa.
Selepas
itu, kami tak bertemu lagi untuk beberapa tahun lamanya hingga terdengar kabar
bahwa ia melanjutkan kuliah di kota yang sama dengan saya, Yogyakarta!
Oleh
karena Yogyakarta, teman-teman yang lain tertarik untuk merencanakan liburan
bersama. Kami semua bertemu kembali di Yogyakarta. Bercerita sepanjang
perjalanan menuju pantai, menggelar suasana piknik ala sendiri di pinggir
pantai, mengeluarkan segala amunisi, mengambil gambar, berlari-lari,
berpura-pura takut ombak, dan tertawa hingga letih.
Sudah
selayaknya kami paham ada perbedaan yang begitu mendasar di antara kami, tetapi
hal itu bukan alasan untuk kami berhenti berteman, bukan alasan untuk kami tak
bisa menikmati suasana Yogyakarta bersama, bukan alasan kami untuk berhenti
saling mencari dan merindukan.
Hai,
Jo. Apa kabar? Kau mungkin sudah mendengar berita mengerikan di Surabaya tempo
hari, bukan?
Saya
berharap, tak ada lagi korban berjatuhan.
Saya
berharap, kamu tidak diliputi kecemasan.
Saya
berharap, kamu tetap kamu yang setiap minggu pergi ke Gereja di ujung kota
sana.
Saya
tak pernah lupa saat kamu menceritakan tentang kekasihmu itu, yang kamu temui
pertama kali saat beribadah di salah satu Gereja di kota ini.
Yogyakarta, 16 Mei 2018
Hari pertama Ramadhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar