Sumber gambar : google
Ramadhan adalah moment yang ditunggu-tunggu oleh umat
muslim. Setiap tahunnya Ramadhan selalu melahirkan cerita, tetapi jika boleh
berbagi kapan Ramadhan paling berkesan buat saya? Mungkin saat saya masih duduk
di bangku sekolah dasar, saat-saat itu menjadi Ramadhan yang berkesan dimana
saya baru belajar untuk berpuasa sebulan penuh tanpa bolong.
Saya tidak pernah
lupa moment dimana ketika Ibu saya
membangunkan untuk sahur, disandarkannya tubuh saya pada bantal yang
disandarkan ke dinding, disuapinya saya yang kala itu masih memejamkan mata. Saya
tidak pernah lupa perjuangan Ibu saya untuk membuatkan kami sahur, membangunkan
kami, hingga menyuapi kami. Bayangkan saja betapa sulitnya menyuapi seseorang
yang masih setengah sadar! Ibu saya berusaha melatih anak-anaknya untuk berpuasa
sebulan penuh selama Ramadhan sejak kami kecil.
Sepulang sekolah,
begitu tiba di rumah, saya langsung menggayung air, bahasa kerennya sih showeran gitu loh, sayangnya di rumah kami
menggunakan gayung, lalu saya mengguyurkan air ke atas kepala karena begitu
hausnya, tentu saja tidak bermaksud untuk diminum, hanya saja mengurangi rasa “haredang”
karena di luar matahari bersinar terik. Ibu sudah menunggu dengan handuk di
tangannya. Setelah adegan siraman kepala itu saya masuk ke kamar dan tidur
siang.
Saya bersyukur
tinggal di perumahan yang ditinggali banyak sekali anak-anak sebaya saya dan
lebih bersyukur lagi karena saya disekolahkan di sekolah yang saya sekolahi
saat sekolah dasar. Ribet ye bahasanya.
Menjelang Ramadhan, anak-anak satu perumahan dikumpulkan untuk pawai keliling
menyambut Ramadhan. Sebagai anak kecil, betapa senangnya saya memegang obor
dengan api menyala sambil berkeliling perumahan seraya menyerukan “Allahuakbar..
Allahuakbar.. Allahuakbar.. Laailaahaillallahuallahuakbar Allahuakbar
Walillahilham.”
Bukan hanya di
perumahan, pawai Ramadhan juga berlangsung di sekolah. Kami berkeliling
perkampungan di sekitar sekolah sambil membagi-bagikan selebaran jadwal imsak. Selain
itu, ada dua buah permen yang ditempeli di selebaran jadwal imsak tersebut
sebagai bonus. Entah kenapa, waktu SD merasa hal itu keren sekali, padahal
kalau sekarang saya pikir-pikir, ngapain ya di situ ada permen, padahal yang
menerima juga kebanyakan orangtua.
Di sekolah kami
juga mengadakan pesantren kilat yang menurut saya seru sekali. Kami punya
banyak kegiatan, seperti menyanyikan nasyid, menyusun parsel, pergi ke
sekolah-sekolah yang kurang mampu, memberi mereka bingkisan, ditutup dengan buka
puasa bersama yang dibintang tamui oleh grup nasyid dari luar yang saat itu
lumayan beken dan mengundang anak-anak yatim yang memiliki prestasi seperti
pandai bernyanyi atau mengaji. Sebagai anak kecil, saya disadarkan bahwa di luar
sana banyak sekali yang hidupnya tak seberuntung saya, namun mereka memiliki
prestasi yang luar biasa. Saya kangen Ramadhan sepuluh tahun yang lalu! Kalau
kamu bagaimana?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar