20/05/18

#MuslimahSinauProjectDay5 : Mengingat Ramadhan Sepuluh Tahun Lalu


Sumber gambar : google

Ramadhan adalah moment yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Setiap tahunnya Ramadhan selalu melahirkan cerita, tetapi jika boleh berbagi kapan Ramadhan paling berkesan buat saya? Mungkin saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saat-saat itu menjadi Ramadhan yang berkesan dimana saya baru belajar untuk berpuasa sebulan penuh tanpa bolong.

Saya tidak pernah lupa moment dimana ketika Ibu saya membangunkan untuk sahur, disandarkannya tubuh saya pada bantal yang disandarkan ke dinding, disuapinya saya yang kala itu masih memejamkan mata. Saya tidak pernah lupa perjuangan Ibu saya untuk membuatkan kami sahur, membangunkan kami, hingga menyuapi kami. Bayangkan saja betapa sulitnya menyuapi seseorang yang masih setengah sadar! Ibu saya berusaha melatih anak-anaknya untuk berpuasa sebulan penuh selama Ramadhan sejak kami kecil.

Sepulang sekolah, begitu tiba di rumah, saya langsung menggayung air, bahasa kerennya sih showeran gitu loh, sayangnya di rumah kami menggunakan gayung, lalu saya mengguyurkan air ke atas kepala karena begitu hausnya, tentu saja tidak bermaksud untuk diminum, hanya saja mengurangi rasa “haredang” karena di luar matahari bersinar terik. Ibu sudah menunggu dengan handuk di tangannya. Setelah adegan siraman kepala itu saya masuk ke kamar dan tidur siang.

Saya bersyukur tinggal di perumahan yang ditinggali banyak sekali anak-anak sebaya saya dan lebih bersyukur lagi karena saya disekolahkan di sekolah yang saya sekolahi saat sekolah dasar. Ribet ye bahasanya. Menjelang Ramadhan, anak-anak satu perumahan dikumpulkan untuk pawai keliling menyambut Ramadhan. Sebagai anak kecil, betapa senangnya saya memegang obor dengan api menyala sambil berkeliling perumahan seraya menyerukan “Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar.. Laailaahaillallahuallahuakbar Allahuakbar Walillahilham.”

Bukan hanya di perumahan, pawai Ramadhan juga berlangsung di sekolah. Kami berkeliling perkampungan di sekitar sekolah sambil membagi-bagikan selebaran jadwal imsak. Selain itu, ada dua buah permen yang ditempeli di selebaran jadwal imsak tersebut sebagai bonus. Entah kenapa, waktu SD merasa hal itu keren sekali, padahal kalau sekarang saya pikir-pikir, ngapain ya di situ ada permen, padahal yang menerima juga kebanyakan orangtua.

Di sekolah kami juga mengadakan pesantren kilat yang menurut saya seru sekali. Kami punya banyak kegiatan, seperti menyanyikan nasyid, menyusun parsel, pergi ke sekolah-sekolah yang kurang mampu, memberi mereka bingkisan, ditutup dengan buka puasa bersama yang dibintang tamui oleh grup nasyid dari luar yang saat itu lumayan beken dan mengundang anak-anak yatim yang memiliki prestasi seperti pandai bernyanyi atau mengaji. Sebagai anak kecil, saya disadarkan bahwa di luar sana banyak sekali yang hidupnya tak seberuntung saya, namun mereka memiliki prestasi yang luar biasa. Saya kangen Ramadhan sepuluh tahun yang lalu! Kalau kamu bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar