27/04/20

#AprilProduktifDay26 : Tragedi Palu dan Pertolongan Allah


Masih ingatkah tragedi gempa Palu pada tahun 2018? Musibah yang aneh, melululantakkan segenap daratan di daerah Palu. Aneh, sebab hanya beberapa titik bagian yang tenggelam di telan bumi, hanya beberapa titik lokasi yang jalannya mendadak bagai ombak yang bergelombang, bayangkan saja jika jalan di depan rumahmu bergerak bagai ombak.

Dikisahkan bahwa kala itu sebuah keluarga sedang di rumah pada menjelang malam hari itu. Ketika gempa terjadi, sang ibu langsung menggandeng tangan anaknya, seraya berteriak, “Ayo, Ayah, cepat kita keluar!” sang ayah yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian seadanya menyuruh sang istri dan anaknya untuk berlari terlebih dahulu keluar rumah menyelamatkan diri, “Ibu duluan aja! Ibu lari sekarang!” mendengar perintah suaminya, sang istri langsung berlari keluar menggandeng sang anak.

Sampai di depan rumah ia terkejut melihat lumpur keluar dari dalam tanah tersembur ke langit begitu tinggi, sementara keadaan mulai gelap gulita karena mendadak mati lampu, sang ibu dan anaknya terus berlari, dikejar jalanan yng bergelombang itu, sementara lumpur terus berusaha menenggelamkan rumah-rumah di sana. Sang ibu dan anaknya terbawa oleh jalanan yang bergerak sendiri itu. Sebentar, saya menarik nafas dulu. Gemetaran menulis ini.

Lalu, sang ibu berkata, “Apakah ini kiamat?” deg.

Sang ibu dan anaknya terbawa hingga setelah jalanan berhenti bergerak, mereka menepi di jalan raya besar. Orang-orang di sana memandang heran, ada apa? Ya, kejadian aneh dan tragis itu hanya terjadi di beberapa titik, sementara di titik lainnya tidak mengetahui apa yang terjadi di daerah yang ditelan bumi tersebut, betapa kejadian di luar akal manusia baru saja terjadi di sana.

Sang ibu gemetaran, ia tak tahu bagaimana kabar suaminya, usai ia dan anaknya terbawa hingga ke jalan raya besar. Selama terbawa di jalanan yang bergerak tadi, sang ibu melihat anaknya tak berhenti komat-kamit mulutnya. “Kamu tadi baca apa, dek?” tanya sang ibu. Rupanya sang anak yang masih duduk di kelas 3 SD itu selama kejadian berlangsung ia tak berhenti membaca surat Al-Kahfi, surat yang jika menghafal sepuluh ayat pertamanya mampu menyelamatkan kita dari huru-hara hari Kiamat.

Sang suami yang masih tertinggal di rumah kemudian berlari seorang diri keluar, sayangnya jalanan di sekeliling rumahnya sudah amblas ditelan bumi, ia kebingungan harus lari kemana lagi, dilihatnya pohon besar yang berada di halaman rumahnya. Ia duduk bersujud di akar pohon tersebut sembari terus berdoa dan memasrahkan dirinya kepada Allah, ia ikhlas jika memang sudah waktunya ia dipanggil-Nya, ia juga meminta pada Allah untuk melindungi istri dan anaknya yang entah ada dimana. Entah bagaimana bisa dijelaskan secara logika, tiba-tiba pohon besar tersebut tercabut dari akarnya dan membawa serta merta sang suami tersebut yang sedang berada di akarnya. Pohon tersebut melayang hingga menjauh dari lokasi amblasnya tanah tersebut sehingga suami tersebut terselamatkan.

Beberapa hari kemudian, suami tersebut akhirnya bertemu kembali dengan istri dan anaknya di pengungsian. Usai tragedi pilu tersebut, keluarga tersebut bahkan tak bisa menemukan kembali rumah mereka, entah berada dimana, bak sudah ditelan bumi seluruhnya, habis tak tersisa.

Cerita ini merupakan cerita nyata yang diceritakan oleh ibu saya sendiri, selaku korban gempa Palu 2018 yang saat itu sedang sendirian di rumah dan yang membuat saya menyesal adalah saya tidak mengecek handphone sehingga tak mengangkat telepon dari ibu saya satu jam sebelum kejadian yang sejam setelahnya ada notifikasi berita gempa Palu masuk ke handphone saya, saya panik bukan main dan menangis berhari-hari karena setelah itu saya kesulitan mengetahui kabar beliau, hiks. Alhamdulillah ibu saya selamat dengan memakai baju seadanya, membawa handphone yang ternyata sudah lowbat, dompet dan kunci rumah yang saat kejadian lengkap berada di meja ruang tamu karena beliau habis dari warung, lalu beliau segera pergi ke bukit bersama rombongan orang-orang kompleks. Daerah tempat tinggal ibu saya bukan daerah yang terkena kejadian jalanannya bergerak sendiri.

Sebenarnya masih banyak kisah sedih lainnya yang ibu saya ceritakan, bagaimana mencekamnya hari itu, bagaimana teman-temannya meninggal, bagaimana anak bayi temannya meninggal ketika sedang di usia lucu-lucunya, bagaimana anak-anak temannya meninggal ketika sudah pulang ke rumah dari sekolah sementara orangtuanya masih bekerja di daerah pertokoan yang tak terkena kejadian na’as itu bahkan jasad anak-anaknya tak ditemukan, bagaimana mayat-mayat itu bergelimpangan di jalanan, bagaimana orang-orang sudah kehilangan akal menjarah ke sana-sini, bagaimana bangunan hotel yang masih baru dan terkenal itu runtuh lantak seketika, bagaimana restoran-restoran favorit orangtua saya di pinggir pantai lenyap seketika, bahkan jalan raya di pinggir pantai hilang setengahnya.

Meski begitu, banyak juga teman-teman ibu saya yang selamat dari tragedi tersebut atas izin-Nya. Mereka selamat dengan cara yang di luar logika, mereka selamat karena pertolongan Allah. Salah satunya sebuah keluarga hafidz Qur’an yang rumahnya ikut bergerak sendiri, meski begitu tak ada yang hilang atau rusak dari rumahnya, hanya posisi rumahnya saja yang berpindah tempat, kendaraan mereka pun masih utuh di garasi, Allahuakbar. Mungkin nanti akan saya ceritakan lagi di lain tulisan.

Palu, adalah salah satu kota kesukaan orangtua saya. Di sana sangat sepi, antrian lampu merah paling banyak paling-paling hanya tiga kendaraan. Jarak dari rumah ke bandara dekat, kurang lebih sepuluh menit, sapi-sapi masih bebas memenuhi jalan raya, bisa berenang gratis setiap pagi di pinggir pantai, banyak tempat sepi untuk menggalau (hahaha). Daerahnya unik, bagai sebuah mangkuk, daerahnya dikelilingi perbukitan sejauh mata memandang dan beberapa sisinya dikelilingi laut. Jalannya menanjak sehingga jika malam, rasanya kayak gimana yah, kayak sedang dikelilingi bukit bintang karena gemerlap dari lampu-lampu rumah begitu terlihat, tak seperti daerah yang jalanannya datar-datar saja sehingga tak ada pemadangan malam yang indah seperti di kota Palu. Satu rahasia, di Palu banyak sekali orang Jawa (hahaha), mulai dari tukang sayur, terus apa lagi yah, banyaklah pokoknya ibu saya sering cerita, teman-temannya di sana ternyata keturuan Jawa (hahaha). Iya, orang Jawa yang memutuskan untuk transmigrasi ke Palu.

Bandung, 27 April 2020
Selalu percayalah pada pertolongan Allah,
Pertolongan-Nya itu nyata

2 komentar:

  1. masyaAllaah~ btw ternyata di Sulawesi rata-rata sapi, kambing dsbnya memang masih bebas berkeliaran ya. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya jalan rayanya masih sepi banget wkwkwk

      Hapus