Selasa, 20 Juni 2017

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : “Dimana ada perempuan seperti Khadijah? Aku inginkan Khadijah..” – Rasulullah SAW



Ramadhan kali ini benar-benar berbeda. Jadwal UAS yang bersamaan dengan berlangsungnya bulan Ramadhan hampir-hampir membuat target Ramadhan kacau ditambah kondisi kesehatan yang drop banget dan ada sedikit problem internal di saat menjelang akhir Ramadhan. Alhasil, dua jerawat ganas sekaligus muncul dan membuat orang-orang di sini bertanya-tanya tentang saya yang jarang jerawatan ini. Lalu, saya menjawab dengan senyum sinis dan membatin bahwa mereka tidak tahu saja seperti apa saya waktu zaman sekolah dulu. Lah, sekarang memang zaman apa, Nin? Tuh kan, diingati lagi bahwa usia semakin bertambah saja tetapi merasa masih seperti itu-itu saja. Zaman sekolah dulu, seperti remaja kebanyakan yang tengah melewati tahap pubertas, para jerawat berlomba-lomba untuk menetas di tempat sesuka mereka di wajah.

Belum lagi proposal yang ini belum kelar-kelar, proposal yang itu mengalami penolakan. Awal Ramadhan terpaksa saya cancel beberapa project karena waktu yang saya punya terbatas, waktu yang saya punya tidak menyanggupi. Dan kalau boleh jujur, benci sekali saya ketika ada pesan yang masuk dan bertanya “lagi ngapain?” langsung saya tidak balas. *Oh kejamnya Nina* Postingan saya juga jadi terlambat, diposting lewat dari jatuh temponya. Maafkeun, nggih. But, welcome to Holiday, yeaaaayyyyy! Libur sampai pertengahan September, siap-siap menyusun rencana traveling alias sebuah rencana perayaan untuk melampiaskan segala rasa yang sudah menyesakkan dada.

Alhamdulillahnya saya punya seorang ibu yang mau mendengarkan curhat saya lewat ponsel selama kurang lebih dua jam. Sepanjang malam itu saya nangis. Terus, saya dengar di sana adek saya meledek saya, “Ih masa kakak menangis. Kakakku menangis.. HAHAHA.” KZL tapi jadi ketawa waktu dikatain kayak gitu.

Besoknya sebelum terbang untuk pulang ke Sulawesi, ayah saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya dan mendengar keluh kesah saya selama satu jam. Tumben sekali. Ini beneran tumben. Jadi dibalik ini semua ada cerita.

“Perlu banget ketemu?” begitu kata ayah saya lewat chat whats App. Dari nadanya sudah ketahuan, deh. Yaudah saya jawab,”nggak usah.” Sebenarnya saya juga tidak tahu mau ngapain kalau ketemu, cuma akan merepotkan ayah saya. Tapi, di sisi lain mood saya lagi kacau, kesehatan saya lgi drop banget, saya butuh untuk melihat wajah ayah saya, butuh untuk cium tangannya, udah itu aja. Saya cuma butuh energi dari kehadirannya, dari suaranya, dari tatapanya memandangi saya.

Akhirnya besoknya saya tidak mengharapkan kedatangannya. Siang itu, saya lagi tidur siang. Tiba-tiba teman saya membangunkan. Malas sekali. Saya pura-pura tidak berkutik saja. Tapi, akhirnya dia bilang bapak saya ada di luar gerbang. Saya langsung loncatlah. So Surprised!!! Energi saya sudah datang! Energi itu adalah ayah saya sendiri. Ayah dan ibu saya adalah kekuatan terbesar saya, motivasi dibalik segala motivasi!

Ya, tulisan di atas adalah contoh keluhan seorang mahasiswi yang merasa paling sibuk sedunia padahal tidak ikut organisasi apapun di kampusnya bahkan sudah menjadi anggota non-aktif di beberapa ukm yang sempat menarik perhatiannya. Buku yang ditulisnya pun tidak kunjung usai diedit. Dan masih banyak hal lain yang belum tercapai melebihi batas target waktunya.

Beberapa waktu setelah itu, mahasiswi tersebut menemukan sebuah video tentang “Mutiara Terindah” yang dibuat oleh Teh Haneen Akira. Saya sebagai seorang perempuan yang pada kodratnya memiliki hati yang mudah tersentuh, memiliki hati yang apabila tersentuh akan menangis, ingin mennagislah saya ketika melihat video ini. Kalian bisa lihat videonya di sini. Atau stalking akun instagramnya beliau @haneenakira

Khadijah ‘alaihi salam mendapat salam dari Allah melalui Jibril. Siapa yang tak merinding?
Khadijah mendapat salam pula dari Jibril dan semua salam itu disampaikan oleh Jibril melalui Rasulullah SAW. Siapa yang tak ingin?
Khadijah diberi kabar gembira oleh Allah melalui Jibril. Bi Baitin Fil Jannah, bahwa Allah akan memberikan sebuah rumah yang terbuat dari Mutiara di Surga. Siapa yang berani menolak?

Mengapa Khadijah diberikan rumah dari Mutiara di Surga?
Karena Khadijah adalah Mutiara.
Dialah yang pertama yang memberikan iman, karena iman ialah Mutiara untuk hati Khadijah.
Mutiara itu indah, dan keindahannya sulit dihancurkan.
Mutiara itu adalah Khadijah.
Ia adalah mutiara, namun ia sanggup hidup dalam kondisi yang sangat sulit.

Kata Allah,
“Khadijah, cukup kebaikannya di dunia.
Cukup perjuangannya di dunia.
Cukup capeknya di dunia.
Cukup.”

Maka Allah memuliakannya dengan sebuah rumah di Surga yang di dalamnya tidak ada kesusahan.

Untuk para perempuan,
Jadilah Khadijah yang tidak mengeluh.
Salah satu keutamaannya Khadijah,
Dia perempuan yang hidup tanpa mengeluh apapun kondisinya.
Dia perempuan yang memiliki kekuataan untuk tidak mengeluh.
Kalau kamu ingin mengeluh, mengeluhlah pada Allah.

Kata Rasul, “Dimana ada perempuan seperti Khadijah?
Dia dukung aku ketika semua menyakitiku.
Dia memberikan rasa bahwa aku berharga, aku dicintai, aku diterima, aku didukung.

Kata Khadijah, “Ya Rasul.. Aku perempuan tua, aku lemah, hartaku habis,
tapi aku ingin dukung, ingin kuatkan perjuanganmu,
jika aku harus  wafat dan tulangku bisa kau jual dengan dinar dan dirham
untuk membantu agamamu, maka lakukanlah.”

Maka, Khadijah selalu jadi yang terindah untuk Rasulullah SAW.

“Aku ingin Khadijah.
Aku rindu Khadijah.
Dia perempuan yang selalu menjadi Mutiara.”
Kata Rasul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar