Minggu, 20 Agustus 2017

[All About Life] : Kenyataan di Negeri Ini



Dicekik. Dibunuh. Setelah meninggal, jasadnya dibakar bersama dengan kandungannya. Oleh siapa? pelakunya kekasihnya sendiri. Setelah dibedah perutnya, bayinya terlihat sempurna organnya, kemungkinan kandungannya sudah besar. Korban dibunuh karena meminta pertanggungjawaban atas kehamilanya pada sang kekasih.

Ini adalah berita yang saya baca hari ini di sosial media. Ya Allah, sungguh benar bahwa siksa-Mu di dunia sangat pedih, apa lagi siksa di akhirat kelak nanti bagi orang-orang yang tak taat pada aturan-Mu.

Cinta seperti apa yang mereka miliki? Mengapa bisa seorang kekasih membunuh kekasihnya sendiri?
Betapa menyedihkannya bila jatuh hati karena nafsu.

 Lantas, kalau kamu tanya cinta seperti apa yang saya miliki?
Kelak,
Ketika saya mencintai kamu, saya bisa bercerita apapun kepadamu.
Saya bisa tertawa selepas-lepasnya di depan kamu.
Saya bisa menangis tersedu-sedunya di pundak kamu.
Tanpa merasa takut, cemas, bahkan berdosa.
Karena kamu meletakkan perasaan kamu dengan cara dan jalan yang diridhai-Nya. Insyaa Allah.

Mungkin bukan hanya saya saja yang merasa tak habis pikir dengan berita tersebut. Saya jadi teringat kata-kata seorang Ustadz yang ada di salah satu video yang akun @fuadbakh upload di Instagram. Kata-katanya begitu mengena, ringan tapi sangat dahsyat tamparannya.

Ustadz tersebut berbicara tentang pelaku pembacokan terhadap H selaku telematika ITB yang memberikan pernyataan bahwa chat HR itu palsu. Ya Allah, sungguh kami berlindung dari akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini, dimana para ulama begitu mudahnya difitnah.

“Beliau (H) yang berani mengatakan bahwa chat antara HR dengan F palsu adalah calon saksi ahli nanti di pengadilan. Perhatikan, apa yang terjadi? Beliau mengalami tragedi diserang beberapa orang, barangkali yang nusuk nonton video ini, Ya Allah, dibayar berapa? Mau dipakai apa uang itu? Uang itu sebentar lagi hilang dan tak berbekas bahkan tak tersisa tapi jejak perbuatanmu kepada bapak H sampai kiamat akan terekam, tapi Allah dengan hukum alamnya sedang merencanakan skenario dahsyat untuk membalas perbuatanmu.”

Merinding. Saya pikir, kalimatnya ini bukan hanya berlaku untuk pelaku pembacokan terhadap H saja tetapi kepada semua pelaku kejahatan. Kasus lainnya adalah yang menjerat saksi kunci proyek e-ktp, dimana ia mengetahui orang-orang yang terlibat. Diawal kematiannya, media mengatakan bahwa ia bunuh diri, tetapi belakangan beberapa media mengatakan bahwa kematiannya karena dibunuh. Lagi-lagi skandal. Belum lagi kasus penyiraman air keras yang menimpa Pak Novel Baswedan. Setiap ada kejahatan seperti ini, kalimat Ustadz di atas terngiang-ngiang di benak saya.

Mungkin yang mengikuti berita paham siapa orang-orang yang saya maksud di dalam berita. Saya berimajinasi bagaimana bila dalang di balik semua ini adalah seorang ayah yang jika di rumah sikapnya penuh kasih sayang terhadap keluarganya, seorang ayah sekaligus seorang anak dari orangtua yang sudah renta dan berharap anaknya adalah anak yang baik, sekaligus sebagai seorang kakak yang membimbing adik-adiknya hingga mampu menjadi orang besar. Atau bisa jadi ia adalah seorang ibu. Apa yang terjadi di negeri ini mengingatkan saya pada film Alif, Lam, Mim. Ada yang pernah nonton?

Semoga di dalam hati kita selalu ditanamkan bahwasannya ini hanya dunia, bersikap semestinya, beribadah seperti seharusnya, bertingkah sewajarnya, beramal sebanyak-banyaknya. Semua dikembalikan lagi kepada Allah, maaf bila tulisan saya terlalu keras untuk dibaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar