Kamis, 03 Agustus 2017

My Different Producer #1



Sepak terjangku di dunia lain dari perfilman alias sebagai orang di belakang layar sudah cukup lama. Sejak aku masih duduk di bangku SMA dulu. Awalnya hanya iseng untuk sekedar cari pekerjaan sampingan agar tidak mengandalkan uang mama dan papa terus. Maklum, modal untuk bergaya pada zaman SMA cukup menguras dompet. Zaman SMA adalah zaman sekolah yang paling indah sekaligus rumit. Waktu zaman SMA dulu kita punya gaya selangit tapi dompet kita menjerit. Berbeda ketika sudah duduk di bangku kuliah. Gaya menjadi nomor dua atau nomor tiga atau malah paling belakang. Harus kuakui bahwa bangku kuliah bukanlah bangku yang main-main.

Meski begitu, aku ketagihan dengan pekerjaanku sebagai penata artistik dalam suatu perfilman. Selain itu, hal lain yang membuat aku bertahan karena mereka, yakni orang-orang di belakang layar yang menyukseskan suatu film, mereka memuji pekerjaanku. Katanya aku cekatan. Mereka memintaku untuk bergabung dengan project-project mereka. Panggilan pekerjaanku tiada berhenti.

Ketika aku memasuki bangku perkuliahan, tidak terasa, waktuku semakin padat. Jam istirahat dan jalan-jalanku tersita habis-habisan. Awalnya aku ingin memutuskan untuk fokus pada kuliahku. Tetapi, setelah aku mencoba untuk mengatur dan merapikan antara jadwal pekerjaanku dengan kuliahku, semuanya bisa tertata dengan baik. Hal yang menyenangkan lainnya juga sebagai mahasiswa baru, ATM-ku tidak pernah kosong. Saldonya selalu tinggi. Ada kebanggaan tersendiri setiap kali melihat nominal yang tertera di layar mesin ATM.

Karena aku sudah cukup lama menapaki karir di bidang ini, aku cukup mengenal banyak orang-orang besar di belakang suksesnya suatu film. Aku lebih tertarik bertukar pikiran alias ngobrol dengan orang-orang itu ketimbang dengan aktor dan aktris yang memerankan film tersebut.

Teman-temanku banyak yang iri denganku, katanya mereka ingin juga punya pekerjaan sampingan sepertiku karena aku bisa seringkali bertemu dengan artis-artis papan atas maupun papan bawah. Aku agak sedih mendengar bahwa ini pekerjaan sampingan. Ya, memang, pekerjaan utamaku tetaplah mahasiswa. Tetapi, aku berharap suatu saat nanti karirku bukan hanya di bidang artistik terus menerus, tetapi bisa juga menjadi penulis naskah, sutradara, bahkan produser. Untuk sekarang, aku memang tengah menyusun sebuah naskah dan berencana suatu saat nanti mendiskusikannya dengan orang yang tepat, maksudku dengan produser yang tepat.

Mungkin di cerita yang berikut-berikutnya aku akan bercerita tentang bagaimana keseharianku saat di tempat produksi film, bertemu dengan orang-orang hebat itu maupun dengan para pemain. Tak semua artis enak diajak berdiskusi dan bekerjasama. Terkadang, moodku bisa hancur karena mereka. Biasanya karena keterlalumanjaan mereka. Tetapi, banyak juga artis-artis yang cukup enak untuk diajak bekerjasama, karena membuat suatu film adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Banyak menguras pikiran, tenaga, bahkan emosi. Salah satunya adalah Teh Bella, iya, Laudya Chintya Bella. Teteh yang satu ini baik dan enak sekali diajak kerjasama.

Oh iya, aku akan mengenalkan kalian pada sosok produserku yang tampangnya sungguh biasa saja, kumisan, kulitnya cukup hitam  tetapi giginya rapi, putih bersih, rambutnya lebat, tetapi tingginya tak lebih tinggi dariku. Orangnya ramah dan menyenangkan. Eh, kadang-kadang agak menyebalkan, tetapi ia punya aura wibawa yang luarbiasa, dan rasa tanggungjawab yang besar.

Produserku yang satu ini cukup berbeda dari produser-produserku yang sebelumnya. Ia datang ke lokasi naik motor bebek. Seringkali kemana-mana membawa gitar di punggungnya, juga tripod lengkap dengan tasnya, dan beberapa barang-barang lainnya. Karena usia kami yang kupikir tak beda jauh, aku jadi tak canggung untuk mengobrol atau sekedar meledeknya.

“Gaya banget, bawa gitar kemana-mana, bawa tripod pula.”
“Eh ini bukan gaya, ini emang habis dipakai!”
“Dipakai tiap hari gitu?”
“Iya.”
Duh gue diiyain aja, nih. Mesti biar cepet balesnya jadi diiyain aja. Batinku.

Aku bersuara kembali.
“Mas, bisa main alat musik, ya?”
“Ya ini apa? Aku tiap hari bawa gitar ya buat dipakai.”
“Oh iya iya. Terus itu tripodnya juga dipakai tiap hari?”
“Ho oh.”
Duh, gua cuma dikasih ho oh, batinku lagi jengkel.

“Nanti malam ke lokasi lagi nggak?”
“Lah, kan, break dulu 2 hari.”
“Oh,iya, lupa. Jadi, nanti malam mau kemana?” aku enggak ngasih kode loh ya, lagi basa-basi saja.
“Ya di rumah aja, mau belajar. Besok UAS.”
“Oh iya, yah. Mas, btw, Mas jurusan apa? Aku lupa terus mau nanya.”
“Pendidikan matematika.”
Aku melongo.

“Ha?”
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa. Besok UASnya matkul apa?”
“Kalkulus, teori bilangan, logika matematika dan himpunan.”
Aku melongo lagi.

“Ha?”
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa.” Gelengku. “Mau jadi guru matematika, ya?”
“Iya. Pengennya.” Jawabnya serius.

Ah, produserku yang satu ini memang beda! Ia terjun di antara musik, menyukai teater, bersedia menjadi produser kami, meski ia tetap punya pekerjaan utama sepertiku yakni menjadi seorang mahasiswa. Dia adalah produser yang bercita-cita untuk menjadi seorang guru matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar