Jumat, 11 Agustus 2017

[Mungkin] Kau Lupa



Mungkin kau lupa hari dimana kita menyanyi bersama,
saling bersandaran, merayakan kehilangan, kemudian berpelukan.

Mungkin kau lupa hari dimana kita makan bersama,
saling berhadapan, merayakan pertemuan, kemudian memulai obrolan ringan.

Mungkin kau lupa hari dimana kita membeli buku bacaan bersama,
saling berdisukusi, memutuskan apakah kiranya buku ini pantas menjadi bacaan kita? Kemudian sama-sama mengangguk dengan mata berbinar,

Mungkin kau lupa hari dimana kita duduk-duduk di bawah pohon di suatu lembah, berbincang dengan mulut yang dipenuhi batagor dan es kelapa yang menunggu diteguk di hadapan kita.

Mungkin kau lupa hari dimana kita mengunjungi museum lukisan, memetik bunga di tamannya, menjelajahi sudut ruangnya, mengambil foto bersama, dan aku masih mampu mengingat detail ekspresi wajah kita kala itu hingga detik ini.

Mungkin kau lupa hari dimana kita berjalan-jalan di banyak festival, dengan bangga membeli segala macamnya dengan uang yang kita punya, mencoba segala hal yang ditawari di dalamnya, dan pura-pura menikmati konsernya padahal kita lebih menikmati kulinernya.

Mungkin kau lupa hari dimana kita bersenang-senang dengan sekotak pizza dan segelas milkshake lalu dengan bangga kutulis status bahwa aku tengah bersamamu.

Mungkin kau lupa hari dimana kita membeli tiket bioskop, kemudian masuk ke studio dengan tangan dipenuhi sekotak popcorn dan segelas minuman bersoda.

Mungkin kau lupa hari dimana kita janjian menggunakan warna baju senada, lalu dengan riang masuk ke bilik foto box, mengambil gambar dengan beragam gaya, berpelukan seolah kita akan bersahabat selamanya, saling mengisi di tengah rasa kehilangan yang hanya kita saja yang tahu.

Mungkin kau lupa bahwa kita sering bepergian untuk belanja pakaian, lagi-lagi selalu ingin membeli yang senada hingga kita punya banyak sekali pakaian yang warna dan modelnya sama.

Mungkin kau lupa hari dimana kau seorang diri tergopoh-gopoh membawa kue dengan lilin yang bersinar di atasnya, kau pintaku meniupnya, aku bahagia, kita bahagia.

Bahkan mungkin kau lupa pada hari sederhana dimana kita memilih menikmati senja lewat jendela kamarmu, berbaringan di atas kasur, berbincang tentang segala kesukaan kita.
 
Hari ini,
Aku hanya bisa memandang tumpukan kotak kado yang tiap setahun sekali kau berikan,
Hanya bisa memandang wajahku yang dengan tulus kau lukiskan,
Hanya bisa memandang wajah bahagia kita yang kucetak dan kupajang di dinding kamarku.

Apapun yang orang katakan tentangmu, aku lebih mengenalmu dibandingkan mereka.
Apapun yang hatiku katakan tentangmu, aku tetap mencintai meski ditengah rasa kecewa.
Aku tetap mencintai karena aku percaya, suatu hari kau akan mengigat segalanya, mengingat bagaimana aku tetap mencintai.

Untuk seorang sahabat,
Yang namanya terukir di dasar hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar